Epidemiolog UI Pandu Riono Puji Luhut Pimpin PPKM Jawa Bali: Suka Marah tapi Mau Ngaku Salah


131 view
Epidemiolog UI Pandu Riono Puji Luhut Pimpin PPKM Jawa Bali: Suka Marah tapi Mau Ngaku Salah
(Wahyudi/20detik)
Epidemiolog dari Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono
Jakarta (SIB)
Epidemiolog dari Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono, mengapresiasi kinerja Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan (LBP) dalam mengomandani penerapan PPKM Jawa-Bali. Pandu menilai turunnya angka penyebaran Covid-19 di Jawa-Bali tidak terlepas dari kepemimpinan Luhut.

Pujian itu dilontarkan Pandu melalui akun Twitter @drpriono1, seperti dilihat pada Kamis (16/9). Dalam tweet-nya, Pandu menyebut Luhut selalu berpatokan kepada data dalam mengevaluasi penerapan PPKM.

"LBP komandan perang di wilayah yang paling sulit - Jawa-Bali. Salute sudah berhasil menekan Rt~1. Di setiap rapat strategis, semua ditanya detail semua rapat berbasis data evaluasi. Teruskan Pak Luhut, targetkan tingkat penularan serendah-rendahnya. Kita pasti bisa!," tulis Pandu.

Pandu tak memungkiri bahwa tidak mudah untuk menurunkan lonjakan angka penyebaran Corona di Jawa-Bali pasca-Lebaran 2021. Bahkan Pandu melihat pemerintah terkesan putus asa.

"Jawa-Bali kan jumlah kasus terbanyak, luar biasa hebat. Sejak habis mudik Lebaran itu, wah luar biasa kan. Ada kasus di Kudus, Bangkalan, terus merebak hampir ke semua kota-kota besar di Jawa-Bali yang penduduknya banyak, sehingga putus asa kita, mau mulai dari mana kita mengatasinya. Dan di luar Jawa-Bali belum terlihat dampaknya yang besar seperti di Jawa-Bali," papar Pandu dihubungi.

Pandu sendiri kaget angka penyebaran Covid-19 di Jawa-Bali bisa turun signifikan. Menurutnya, penurunan angka Corona tidak terlepas dari kepemimpinan Luhut yang terbuka dengan segala kritik dan saran, dan Luhut, menurut Pandu, tak malu mengatakan dia tidak mengerti apa-apa.

"Jadi Presiden menginstruksikan Pak Luhut yang mengomandani Jawa-Bali. Dan surprise, sekarang dia (Luhut) itu betul-betul menyadari, kenapa kok kita bisa seperti ini, kesalahan-kesalahan apa? Dia mulai melihat dari kesalahan-kesalahan kebijakan, apa yang masih kurang dalam penanganan PPKM dan sebagainya," sebut Pandu menjelaskan kepemimpinan Luhut.

"Jadi kalau rapat itu sampai pukul 10.00 malam, dengan semua gubernur, TNI-Polri di masing-masing wilayah dan semua ahli diundang, dari Jawa Timur UGM, Jakarta UI, ditanya, bagaimana? Dia seperti belajar dari nol, dia bilang, 'saya itu nggak ngerti apa-apa. Tapi ini harus diselesaikan secara bersama'," imbuhnya.
Lebih lanjut Pandu mengungkapkan, Luhut pun menjalankan saran-saran yang diberikan, baik dari para pakar maupun jajaran pemerintah. Salah satu saran yang didengar adalah usulan penerapan PPKM berdasarkan level.

"Secara bertahap saran-saran dilakukan dan PPKM diganti levelnya, level 4, 3, 2, 1, supaya memberikan efek psikologis, karena kita waktu itu menyarankan supaya PPKM ini berlangsung lama. Mungkin suatu ketika PPKM itu dipertahankan di level 1 terus supaya kita bisa menekan pandemi, karena kita ingin menekan penularan yang sekarang sedang terjadi dan mencegah lonjakan berikutnya. Nah ini belum pernah terjadi. Yang ada, sudah turun, lupa sudah, sudah sukses," terang Pandu.

"Dan dia, walaupun suka marah-marah, dia mau mendengarkan dan mengakui salah. Karena dia bilang, 'wah, saya baru tahu kalau tracing itu gunanya untuk itu', begitu. Kenapa sih orang harus meningkatkan tracing sama isolasi? Sewaktu ketika kita bilang, 'jangan isolasi mandiri karena itu akan menimbulkan kematian yang tinggi, harus isolasi terpusat dan juga untuk menekan penularan pada keluarga', itu diikuti semua," sambung dia.

Bahkan Luhut juga mengevaluasi penanganan Covid-19 di daerah. Luhut, menurut Pandu, tidak mau hanya mendengarkan pernyataan kepala daerah yang hanya sekadar 'asal bapak senang'.

"Jadi Pak Luhut meminta setiap gubernur melapor dan sebagainya. 'Kenapa kok ini masih tinggi?' Terus dicecar, ditanya masing-masing. Jadi nggak bisa gubernur ngomong 'asal bapak senang'," jelas Pandu.

Selain itu, Luhut sampai memonitor penggunaan aplikasi PeduliLindungi. Luhut juga tak ragu memberi tugas kepada para menteri yang terkait dengan aplikasi tersebut.

"Semua menteri dipanggil. Itu Pak Lutfi Mendag dipanggil, diminta menjamin aplikasi PeduliLindungi sudah terpasang.

Terus kalau Parekraf (Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif), aplikasi PeduliLindungi sudah dipasang kalau tempat-tempat wisata mau buka, dan Menteri Perindustrian juga begitu, kalau ada pabrik mau buka harus dipastikan karyawan atau buruhnya sudah divaksinasi, dan terus saja," tutur Pandu.

"Walaupun banyak ada ketidaksempurnaan, kalau lihat rapat sih, waduh bolongnya banyak banget. Tapi kalau terus-menerus diperbaiki setiap rapat mingguan, itu ternyata memberikan efek perbaikan," pungkasnya. (detikcom/f)


Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com