Gempa M 6,6, Guncang Banten Hingga Jakarta

* Penghuni Gedung-gedung Tinggi Panik

153 view
Gempa M 6,6, Guncang Banten Hingga Jakarta
Foto Ant/Dhemas Reviyanto
PANIK: Pegawai yang panik berhamburan keluar gedung setelah merasakan gempa di kawasan perkantoran Jl. M.H. Thamrin, Jakarta, Jumat (14/1). Guncangan gempa berkekuatan magnitudo (M) 6,6 di wilayah Banten terasa hingga Jakarta. 
Jakarta (SIB)
Gempa magnitudo (M) 6,6 berpusat di laut dekat Selat Sunda terasa hingga di beberapa wilayah. Gempa dirasakan dengan intensitas yang berbeda-beda.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati membeberkan dampak guncangan di beberapa daerah. Mulai wilayah Cikeusik, Jakarta, hingga Bekasi.

Gempa M 6,6 itu terjadi pada pukul 16.05 WIB. Episenter gempa adalah 7,01 LS dan 105,26 BT. Pusat gempa berada di 52 km arah barat daya dari Sumur, Banten, dengan kedalaman 10 km.

Berikut data wilayah yang terdampak guncangan:
- Cikeusik dan Panimbang, dengan intensitas guncangan skala MMI 6, artinya getaran dirasakan oleh semua orang dan di sini juga mengakibatkan kerusakan ringan, tembok plester terdapat juga lepas

- Labuan dan Sumur skala MMI IV yang artinya bila pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah

- Tangerang Selatan, Lembang, Kota Bogor, Palabuhanratu, Kalianda, Bandar Lampung skala III-IV MMI, berarti dirasakan oleh orang banyak di dalam rumah

- Anyer skala III MMI getaran dirasakan nyata dalam rumah, seakan getaran seakan truk berlalu

- Jakarta, Kota Tangerang, Ciracas, Bekasi, Kota Bandung, Kabupaten Bogor, Kotabumi, skala II-III MMI getaran dirasakan nyata dalam rumah, terasa getaran seakan akan truk berlalu.

5 Kali Gempa Susulan
BMKG mencatat ada 5 kali gempa susulan pascagempa tersebut.

"Hasil monitoring BMKG menunjukkan telah terjadi aktivitas gempa bumi susulan (aftershock) sebanyak 5 kali," kata Dwikorita.

Gempa susulan paling besar berkekuatan M 5,7.

"Dengan magnitudo terbesar M 5,7," lanjutnya.

Dwikorita menjelaskan, dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa ini berjenis gempa bumi dangkal. Gempa diakibatkan aktivitas subduksi.

"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault)," ungkap Dwikorita.

Rusak
Menyebutkan, akibat gempa tersebut, terdapat sejumlah bangunan yang rusak.

"Kami mendapatkan laporan dampak kerusakan pada bangunan terjadi di Kecamatan Munjul dan Cimanggu Kabupaten Pandeglang," ujar Dwikorita Karnawati.

Dalam foto yang ditampilkan, tampak dinding sejumlah bangunan runtuh. Sejumlah warga terlihat membersihkan puing-puing bangunan.

Pada gambar yang lainnya, terlihat sebuah atap rumah roboh. Kayu hingga besi atap berserakan di dalam rumah.

"Hasil dari pemodelan tsunami menunjukkan gempa tidak berpotensi tsunami," jelasnya.

Gempa terjadi karena lempeng Samudera Indo-Australia bertabrakan dengan Lempeng Benua Eurasia. Lokasi tabrakan ada di bawah Pulau Jawa.

BNPB menyatakan telah menerima laporan kerusakan akibat gempa secara visual. Ada sejumlah bangunan yang rusak.

"Laporan visual beberapa foto kerusakan dari Kecamatan Sumur, Lebak dari Banten. Ada beberapa kerusakan rumah. Ada yang atapnya hancur, ada plafon roboh, ada juga yang dinding rumahnya hancur, batanya roboh," ujar Plt Kapusdatin BNPB Abdul Muhari kepada wartawan.

Selain rumah, kerusakan terjadi di MTSN 3 Pandeglang. Dia mengatakan dinding gedung sekolah roboh. Selain itu, gapura gerbang sekolah SD Tamanjaya juga roboh akibat gempa.

"MTSN 3 Pandeglang bata dindingnya roboh," ucapnya.

Dia mengatakan belum ada laporan korban jiwa ataupun luka akibat gempa ini. Abdul Muhari mengatakan getaran kuat dirasakan di Sumur dan wilayah Ujung Kulon.

"Tidak ada (korban jiwa) sementara," ucapnya.

PANIK
Gempa kencang terasa di DKI Jakarta dengan warga berhamburan keluar gedung-gedung tinggi.

Pantauan di kawasan Tendean, Jakarta Selatan, para karyawan di Gedung Trans TV dan Menara Bank Mega berlarian keluar menyelamatkan diri. Karyawan lari dari lantai atas gedung dengan menuruni tangga darurat.

Para karyawan tersebut panik, beberapa berlari kecil menuruni gedung tinggi tersebut. Ada yang membawa seluruh peralatan kerjanya, ada juga yang hanya membawa diri.

Pengunjung Mal Taman Anggrek di Jakarta Barat juga berhamburan ke luar gedung saat gempa terjadi.

Pantauan di Lobby Mal Taman Anggrek, Jakarta Barat, terlihat masih banyak pengunjung yang berada di luar lobby gedung. Setelah gempa tidak terasa, mereka duduk-duduk di lobi gedung.

Raut wajah pengunjung panik usai merasakan getaran gempa. Tak sedikit dari mereka mengangkat ponsel lalu menghubungi rekan atau keluarga untuk memastikan keadaan.

Setelah kondisi dinilai aman, beberapa pengunjung mulai masuk ke mal. Namun tak sedikit yang memilih bertahan di luar gedung.

Retak
BPBD DKI Jakarta mencatat setidaknya 2 bangunan mengalami keretakan.

Berdasarkan data dari Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) BPBD DKI Jakarta, dua bangunan tersebut yaitu RSUD Kalideres dan Kantor Wali Kota Jakarta Timur. Data itu dihimpun per pukul 18.03 WIB.

Kondisi RSUD Kalideres retak sebagian dinding. Sedangkan Kantor Wali Kota Jakarta Timur mengalami kerusakan pada dinding toilet.

"RSUD Kalideres, retak sebagian dinding. Kantor Wali Kota Jakarta Timur, kerusakan pada dinding toilet, keramik terlepas," demikian laporan dari BPBD DKI, Jumat (14/1).

BPBD DKI menyebut kerusakan bangunan terjadi akibat gempa bumi magnitudo 6,7 yang telah di-update BMKG menjadi M 6,6. Sejauh ini, BPBD tengah mendata kerugian hingga korban.

"Jumlah kerugian dan korban dalam konfirmasi dan pendataan," ujar BPBD.

Pasien COVID
Guncangan gempa juga membuat pasien Covid-19 di Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat, panik dan sempat meninggalkan kamar masing-masing.

"Iya tadi di Wisma Atlet sempat keluar," kata Koordinator Humas Wisma Atlet Kolonel Mintoro Sumego saat dihubungi.
Dia menyampaikan para pasien berhamburan keluar gedung. Namun Mintoro memastikan pasien tetap ada dalam zona merah.

"Tapi kan semua tidak keluar ke daerah lain, cuma di red zone saja. Habis itu diamankan lagi," sambung Mintoro.
Mintoro menilai keluarnya para pasien dari tower isolasi adalah hal wajar, yang bakal dilakukan siapa saja yang berada di dalam gedung saat kondisi gempa bumi.

"Sempat terjadi kepanikan, tetapi kan itu wajar, sama halnya ditempat lain ketika terjadi gempa. Mereka cuma keluar sebentar terus balik ke tower masing-masing lagi, jadi mereka tetap di red zone, tidak keluar ke mana-mana," terang dia. (detikcom/f)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com