* 10 Kali Lipat Lebih Murah di India

HMI Lhokseumawe Kritik Mahalnya Tes PCR RI

* Menkeu Tetapkan Tarif Tes Antigen Rp694.000

172 view
HMI Lhokseumawe Kritik Mahalnya Tes PCR RI
Foto: dok. HMI
Ketua Umum/Formatur HMI Cabang Lhokseumawe-Aceh Utara, Muhammad Fadli.
Jakarta (SIB)
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Lhokseumawe, Aceh Utara, menyampaikan kritiknya terhadap harga tes PCR (Polymerase Chain Reaction) dan tes antigen yang mahal. Mereka merasa negara seperti sedang berbisnis dengan rakyatnya lewat penetapan harga tes Covid-19 yang mahal.

"Setop berbisnis dengan rakyat," kata Ketua Umum/Formatur HMI Cabang Lhokseumawe-Aceh Utara, Muhammad Fadli, dalam siaran persnya, Jumat (13/8).

Direktorat Jenderal Pelayanan Masyarakat Kemenkes menetapkan batasan harga rapid antigen tertinggi sebesar Rp 250 ribu untuk Pulau Jawa dan Rp 275 untuk luar Jawa. Sementara itu, harga tes RT-PCR tertinggi sebesar Rp 900 ribu. Menurut HMI Lhokseumawe, harga itu tidak masuk akal untuk kondisi rakyat kebanyakan.

"Tes antigen Rp 250 ribu dan tes PCR Rp 900 ribu itu melangit dan tidak manusiawi. Pemerintah harusnya peka dalam kondisi pendapatan masyarakat sedang kronis. Jika mereka ada keperluan mau ke luar kota yang mendesak diwajibkan tes antigen atau PCR, namun harga tes nya sangat melangit, bahkan lebih mahal daripada ongkos bepergian. Ini sangat tidak rasional menurut kami," kata Fadli.

Mahalnya harga tes dinilainya tidak sesuai konstitusi. Soalnya, UUD Negara Republik Indonesia mengamanahkan penjaminan hidup sejahtera termasuk dalam layanan kesehatan, tertera dalam Pasal 28H ayat (1). Dia juga membandingkan dengan India. Negara itu punya harga tes PCR terjangkau sepuluh kali lipat lebih rendah ketimbang yang ada di Indonesia.

"Jadi mahalnya tarif tes swab antigen dan PCR itu lari dari semangat konstitusi," ujarnya.

Meski demikian, Fadli juga mengapresiasi adanya pemberlakuan vaksinasi gratis di seluruh daerah Indonesia sampai pelosok. Namun, kata Fadli, seharusnya tes swab juga harus demikian, pemerintah harus menggratiskan rapid test dan tes swab PCR sebagai solusi untuk masyarakat di tengah pandemi ini.

"Kita minta tes ini digratiskan, dan kita ini siap bantu pemerintah dalam melawan pandemi Covid-19 ini, tapi pemerintah juga harus siap menjawab persoalan dan hadir di tengah masyarakat, termasuk soal tes ini, ini sangat tak manusiawi harganya," tuturnya.

dikonsultasikan
Soal harga tes PCR di India dan Indonesia yang terpaut jauh, Kementerian Kesehatan menegaskan penetapan harga tertinggi PCR di RI telah dikonsultasikan dengan berbagai pihak, maka hasilnya adalah harga yang umum diketahui saat ini, tarif batas tertinggi untuk swab PCR mandiri sebesar Rp 900 ribu.

"Prinsipnya, kami terbuka untuk berbagai masukan juga bila perlu dilakukan evaluasi tentang harga PCR ini," kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes Siti Nadia Tarmizi kepada wartawan, Kamis (12/8).

"Pada waktu penetapan SE PCR tentunya sudah dilakukan konsultasi dengan berbagai pihak terkait termasuk auditor, jadi Kemkes tidak melakukan penetapan sendiri sama seperti penetapan HET (harga eceran tertinggi) obat," kata Siti.

Siti Nadia menyebut pihaknya terbuka untuk menerima kritik dan saran. Dia juga membuka kemungkinan evaluasi harga PCR jika diperlukan.

"Prinsipnya kami terbuka untuk berbagai masukan juga bila perlu dilakukan evaluasi tentang harga PCR ini," kata Siti Nadia.

Dilansir dari India Today, Kamis (12/8), harga tes PCR di India makin lebih murah setelah pemerintah menurunkan harga tes untuk mendeteksi virus Corona itu. Harga tes PCR di India turun dari 800 rupee atau sekitar Rp 150 ribu menjadi 500 rupee atau Rp 96 ribu berdasarkan kurs kemarin.

Pemerintah melalui Kemenkes telah menetapkan tarif batas tertinggi untuk swab PCR mandiri sebesar Rp 900 ribu. Keputusan itu diambil setelah banyak pihak mengusulkan pemerintah menetapkan standar tarif karena harga selama ini yang terlalu mahal.

Terpaut jauhnya harga tes PCR di India dengan Indonesia ini pun disorot banyak pihak. Beberapa yang menyorot seperti pengacara kondang Hotman Paris hingga dr Tompi.

"Harga PCR atau swab harus semurah-murahnya!!! Negara harus hadir memastikan ini. Kenapa negara lain bisa lebih murah dari kita saat ini? Bukankah beli bayam 100 selalu lebih murah dari beli bayam 10. Ayolah Bisa! Mohon kendalinya Pak @Jokowi," tulis Tompi di akun Twitternya.

Tetapkan
Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengeluarkan aturan baru mengenai tarif tes antigen di Kementerian Kesehatan. Beleid anyar tersebut yaitu berbentuk Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 104/PMK.02/2021 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Layanan Uji Validitas Rapid Diagnostic Test Antigen yang Berlaku pada Kemenkes.

Mengutip aturan tersebut, Sri Mulyani menetapkan uji validitas rapid diagnostic test antigen yang dilaksanakan oleh laboratorium di lingkup Kementerian Kesehatan dikenakan tarif Rp694.000.

"Penyelenggaraan uji validitas rapid diagnostic test antigen dilaksanakan oleh laboratorium kesehatan yang ditunjuk berdasarkan keputusan menteri kesehatan," bunyi pasal 2 ayat 1 aturan tersebut.

Selanjutnya, tarif atas jenis penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dalam uji validitas rapid diagnostic test antigen ditetapkan nol persen atau nol rupiah.

"Ketentuan lain mengenai besaran, tata cara, dan persyaratan pengenaan tarif sampai nol rupiah atau nol persen akan diatur dalam peraturan menteri kesehatan," bunyi pasal 3 ayat 2 aturan tersebut.

Namun, dalam pasal berikutnya dijelaskan bahwa besaran, tata cara dan persyaratan pengenaan tarif sampai nol rupiah atau nol persen harus terlebih dahulu mendapat persetujuan menteri keuangan.

PMK 104/2021 berlaku setelah 15 hari sejak tanggal diundangkan pada 3 Agustus. Ini berarti tarif dan bebas PNBP antigen oleh Kemenkes mulai diterapkan pada 18 Agustus. (Detikcom/Merdeka/a)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com