* Mayat-mayat Ditemukan di Pinggiran Ibu Kota

Haiti Kian Mencekam

* Bos Gangster Tolak Tawaran Damai

288 view
Haiti Kian Mencekam
(Foto: AP /Odelyn Joseph via yahoonews)
TERGELETAK: Seorang pria mengangkat kain penutup mayat yang tergeletak di tanah untuk melihat identitasnya setelah penembakan, Minggu (17/3) di lingkungan Petion Ville di Port-au-Prince, Haiti, Senin (18/3) waktu setempat. 
Port-au-Prince (SIB)
Sedikitnya 14 mayat ditemukan di kawasan kelas atas di pinggiran Port-au-Prince, ibu kota Haiti, saat rentetan kekerasan geng kriminal berlanjut. Upaya internasional untuk mengisi kekosongan politik di negara itu, setelah Perdana Menteri (PM) Ariel Henry mengundurkan diri, semakin dipercepat.
Rangkaian tindak kekerasan oleh geng-geng kriminal bersenjata di Haiti selama beberapa pekan terakhir telah memicu kekacauan di negara tersebut.
Seperti dilansir AFP, Selasa (19/3), warga setempat menuturkan bahwa mereka tidak mengetahui penyebab kematian dari 14 mayat yang ditemukan. Namun disebutkan bahwa area Laboule dan Thomassin, yang ada di pinggiran Petion-Ville, telah diserang oleh apa yang mereka sebut sebagai penjahat bersenjata.
Para saksi mata mengatakan bahwa anggota-anggota geng kriminal menyerang sebuah bank, sebuah pom bensin, dan rumah-rumah di area tersebut. Suara tembakan terus terdengar di area Petion-Ville hingga sore hari.
"Mereka datang mengenakan balaclava di mobil-mobil, sepeda motor, dengan ambulans mereka sendiri, lalu mereka membantai penduduk Petion-Ville," tutur salah satu penduduk setempat bernama Vincent Jean Robert kepada AFP.
"Saya sedang mengendarai sepeda motor ketika mereka datang dan mulai menembaki. Kami tidak mengetahui apakah bandit atau polisi yang berada di balik ini," ucap seorang tukang ojek bernama Cadet kepada AFP.
Dia menduga para korban tewas adalah orang-orang yang keluar pada tengah malam untuk "mencari makanan bagi anak-anak mereka".
Di tengah tindak kekerasan pada Senin (18/3) pagi, seorang hakim setempat berhasil lolos dari serangan yang melanda rumahnya.
Haiti dilanda kerusuhan dan rentetan kekerasan selama tiga pekan terakhir, yang didalangi oleh geng-geng kriminal bersenjata yang mengatakan mereka ingin menggulingkan PM Henry. Pekan lalu, PM Henry setuju mengundurkan diri yang memungkinkan pembentukan pemerintahan sementara, menyusul tekanan dari negara-negara tetangga Haiti, termasuk badan regional CARICOM dan Amerika Serikat (AS).
Situasi di negara itu masih tegang dan mengerikan bahkan ketika Washington, pada Senin (18/3), menyuarakan harapan agar badan transisi yang memimpin negara tersebut, yang dibentuk dalam pertemuan krisis sepekan lalu, bisa siap "secepatnya hari ini" - meskipun belum ada pengumuman resmi.
"Saya memahami bahwa para pemangku kepentingan Haiti hampir menyelesaikan keanggotaan dan masih melakukan diskusi aktif dengan para pemimpin CARICOM sehubungan dengan pembentukan Dewan Transisi Kepresidenan," ucap juru bicara Departemen Luar Negeri AS Vedant Patel.
"Pengumuman dewan ini, kami meyakini, akan membantu membuka jalan bagi pemilu yang bebas dan adil serta pengerahan Misi Dukungan Keamanan Multinasional," sebutnya, merujuk pada pasukan yang didukung PBB dan dipimpin Kenya yang bertujuan menciptakan stabilitas di Haiti.
Dewan transisi tersebut akan beranggotakan tujuh anggota pemberi suara dan dua anggota pengamat, yang mewakili spektrum luas di Haiti dan diasporanya. Dewan itu akan bertugas menunjuk pemerintahan sementara sebelum pemilu digelar - Haiti terakhir menggelar pemilu tahun 2016 lalu.
Tolak
Seorang bos gangster yang kuat di Haiti menolak upaya negara-negara asing untuk membuat peta jalan pemilu dan jalan menuju perdamaian ketika negara tersebut semakin terjerumus ke dalam kekacauan yang disertai kekerasan.
Para pemimpin regional Komunitas Karibia dan Pasar Bersama (CARICOM) mengadakan pertemuan darurat pekan lalu untuk membahas kerangka kerja transisi politik, yang didesak oleh Amerika Serikat untuk "dipercepat" ketika geng-geng tersebut menimbulkan kekacauan di ibu kota, Port-au- Prince, di tengah pemilu yang berulang kali ditunda.
"Kami tidak akan mengakui keputusan yang diambil CARICOM," kata Jimmy "Barbecue" Cherizier, mantan petugas polisi yang gengnya menguasai sebagian besar wilayah Port-au-Prince, dilansir oleh Al Jazeera.
Kelompok hak asasi manusia menuduh aliansi gengnya melakukan kekejaman, termasuk pembunuhan dan pemerkosaan.
"Saya akan mengatakan kepada politisi tradisional yang duduk bersama CARICOM, karena mereka pergi bersama keluarga mereka ke luar negeri, kami yang tinggal di Haiti harus mengambil keputusan," kata Cherizier, diapit oleh anggota geng yang mengenakan masker.
Dia menambahkan bahwa dia menolak rencana pembentukan dewan transisi yang terdiri dari partai-partai politik di negara tersebut.
"Bukan hanya orang-orang bersenjata yang telah merusak negara, tapi juga para politisi," tambahnya.
Amerika Serikat dan negara-negara Karibia telah mendorong usulan dewan tersebut untuk menunjuk perdana menteri sementara yang baru dan menyusun peta jalan bagi pemilu.
Cherizier dan aliansi geng Keluarga G9 dan sekutunya telah menjadi kontributor utama meningkatnya kekerasan dan ketidakstabilan politik selama bertahun-tahun di Port-au-Prince.
Film 'Mad Max'
Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyampaikan penilaian yang mengerikan soal kekacauan yang kini menyelimuti Haiti. Digambarkan PBB bahwa situasi di negara itu "nyaris seperti adegan dalam film 'Mad Max'" yang menggambarkan masa depan pasca-apokaliptik penuh kekerasan dan tanpa hukum.
Seperti dilansir AFP, Senin (18/3), penilaian itu disampaikan oleh Direktur Eksekutif badan anak-anak PBB, UNICEF, Catherine Russell, saat berbicara dalam talk show televisi CBS berjudul "Face the Nation" pada Minggu (17/3) waktu setempat.
"Haiti adalah situasi yang mengerikan," ujar Russell dalam wawancara tersebut.
"Banyak sekali orang di sana yang mengalami kelaparan dan kekurangan gizi yang parah dan kami tidak bisa mendapatkan bantuan yang cukup untuk mereka," ujarnya, sembari menambahkan bahwa geng-geng kriminal menguasai sebagian besar ibu kota Port-au-Prince serta ruas jalanan utama.
Russell bahkan menyebut situasi di Haiti saat ini merupakan "yang terburuk yang pernah terjadi dalam beberapa dekade terakhir".
"Ini hampir seperti adegan di 'Mad Max'. Tampaknya seperti itu," ucapnya merujuk pada film tahun 1979 silam, yang menceritakan soal dunia penuh kehancuran dengan seorang polisi bertekad membalas dendam pada geng motor kejam yang membunuh keluarganya.
Haiti, yang dilanda kekeringan, bencana alam, dan lemahnya pemerintahan, menurut laporan terbaru PBB, telah mengalami "hampir tidak berfungsinya layanan-layanan dasar".
Situasi itu membuat jutaan orang menjadi rentan ketika negara itu menunggu pembentukan dewan pemerintahan transisi untuk mengambil alih kekuasaan setelah Perdana Menteri (PM) Ariel Henry mengumumkan pengunduran diri di bawah tekanan.
Tantangan yang dihadapi para relawan kemanusiaan asing, dengan beberapa diserang atau diculik demi uang tebusan, menjadi sorotan pada Sabtu (16/3) waktu setempat ketika geng-geng kriminal menjarah pasokan kiriman UNICEF untuk ibu dan anak-anak yang menderita di Haiti.
"Hari ini, kontainer UNICEF, yang berisi pasokan penting untuk kesehatan ibu melahirkan, bayi baru lahir dan anak-anak, dijarah di pelabuhan utama Port-au-Prince. Insiden ini terjadi pada masa-masa kritis ketika anak-anak sangat membutuhkannya," demikian pernyataan UNICEF cabang Haiti pada Sabtu (16/3). (**)
Penulis
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com