Harga Gandum Pecah Rekor, Warga Dunia Bisa Kelaparan

* Mendag Jamin Stok Aman 3 Bulan ke Depan

227 view
Harga Gandum Pecah Rekor, Warga Dunia Bisa Kelaparan
Net/harianSIB.com
Ilustrasi pemanenan gandum.

India (SIB)

Melonjaknya harga gandum ke rekor tertinggi pada Senin (16/5). Kenaikan itu dipengaruhi oleh sikap India yang membuat kebijakan larangan ekspor komoditas tersebut setelah gelombang panas menghantam produksi.


Melansir dari AFP, harga meroket jadi 435 euro per ton saat pasar di Eropa dibuka.


Melihat kejadian itu, harga gandum secara global sudah meroket di tengah kekhawatiran pasokan sejak invasi Rusia ke wilayah pembangkit tenaga pertanian Ukraina pada Februari lalu. Perlu diketahui, pembangkit tenaga pertanian tersebut telah menyumbang 12 persen dari ekspor gandum global.


Selanjutnya, kenaikan harga semakin buruk lantaran kekurangan pupuk sehingga panen menjadi gagal. Hal tersebut memicu inflasi secara global dan menimbulkan kekhawatiran kelaparan dan kerusuhan sosial di negara-negara berpendapatan rendah.


Seperti diketahui, India sebagai produsen gandum terbesar kedua di dunia telah melarang ekspor pada Sabtu lalu.


Sejumlah faktor-faktor tertentu termasuk produksi menjadi lebih rendah dari biasanya. Harga global pun mengalami peningkatan tajam akibat kekhawatiran keamanan pangan 1,4 miliar masyarakat di sana.


Meskipun kesepakatan ekspor tetap akan dipenuhi sebelum kebijakan diterbitkan pada 13 Mei lalu. Akan tetapi, pengiriman ekspor gandum ke depannya akan membutuhkan persetujuan pemerintah.


Ekspor bisa saja dilakukan jika pusat pemerintahan India di New Delhi menyetujui permintaan dari pemerintah negara lain.


Hal tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan ketahanan pangan mereka.


India juga sebelumnya diketahui sempat menyebutkan siap membantu mengisi kekurangan pasokan yang disebabkan perang Ukraina dan Rusia.


Sehingga, larangan ekspor mendapat kritik tajam dari negara-negara industri G7 (Group of Seven). Mereka memperkirakan tindakan pelarangan ekspor akan memperburuk krisis dan menyebabkan kenaikan harga komoditas.


Stok Aman

Sementara itu, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi memastikan stok gandum di Indonesia aman untuk tiga bulan ke depan. Meskipun di tengah pelarangan ekspor gandum yang dilakukan oleh India.


"Sementara ini kita mempunyai stok 3 bulan ke depan secara ini aman. Habis tiga bulan ini baru kita bicarakan," kata Lutfi saat peluncuran program MigorRakyat di Jakarta, Selasa (17/5).


Lutfi mengungkap, Indonesia sendiri memang mengimpor gandum sebanyak sepertiga kebutuhan dalam negeri dari India.


Namun, di sisi lain, India juga tengah memprioritaskan kepentingan nasionalnya.


"Memang kita membeli seperti dari gandum di India. Ya ini masalah Internasional semua negara tengah memprioritaskan kepentingan nasional. Seperti kita juga yang tengah mementingkan kepentingan nasional. Jadi, kita mengerti apa yang mereka maksud. Mudah-mudahan ini tidak terlalu lama, semoga perdagangan internasional bisa berjalan dengan baik," lanjutnya.


Sebagai informasi, pemerintah India telah melarang ekspor gandum sejak Jumat (13/5) malam waktu setempat. Larangan itu dilakukan karena adanya gelombang panas yang berdampak pada pembatasan produksi dan menyebabkan harga gandum melonjak tinggi.


Ekspor gandum masih diizinkan jika perjanjian sudah diterbitkan sebelumnya dan hanya untuk negara yang masih membutuhkan bantuan guna ketahanan pangan.


Indonesia sendiri merupakan salah satu importir gandum dari India. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dilihat Selasa (17/5), impor biji gandum tanpa cangkang kode Harmonized System (HS) 10019912 dari India seberat 184,6 juta ton pada 2021, dengan nilai sebesar US$ 60 juta atau Rp 870 miliar (kurs Rp 14.500).


Sementara pada 2022, BPS mencatat impor gandum dari India mencapai 98,18 juta ton hingga Maret dengan nilai US$ 3,9 juta atau setara Rp 56,55 miliar.


India memang bukan negara pemasok gandum terbesar ke Indonesia, melainkan paling banyak berasal dari Australia.


Selama 2020-2021, gandum asal Australia diekspor ke Indonesia sebesar AU$ 1,2 miliar atau Rp 12,2 triliun (kurs Rp 10.200). (KJ/detikfinance/c)


Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com