Harga Sapi Lokal Berpeluang Naik Tajam Akibat PMK

* Ketua Komisi IV DPR RI Minta “Lockdown” Ternak Agar PMK Tak Makin Menyebar

203 view
Harga Sapi Lokal Berpeluang Naik Tajam Akibat PMK
(Shutterstock)
Ilustrasi sapi.

Medan (SIB)

Harga daging sapi di Kota Medan sejauh ini masih terlihat normal yakni berada di rentang harga Rp120.000 hingga Rp140.00 per kg. Meskipun saat ini telah terjadi penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak seperti sapi, kambing, hingga babi.


"Saya menilai penyebaran penyakit tersebut belum begitu mempengaruhi harga jual daging sapi belakangan ini. Hanya saja belum lama lagi kita akan merayakan Idul Adha, yang tentunya meningkatkan jumlah permintaan akan sapi hidup untuk keperluan kurban,” ungkap Pengamat Ekonomi Gunawan Benyamin, Jumat (20/5).


Jadi, katanya, masyarakat perlu tahu kalau untuk pemenuhan daging sapi sehari-hari, ini kan pada umumnya mampu dipenuhi oleh daging sapi dari feedlotter. Umumnya sapi indukan yang didatangkan dengan cara impor.


Nah kalau sapi untuk keperluan kurban, ini pada umumnya dipenuhi dengan sapi hidup dari wilayah sekitar. Memang untuk Sumut sebagian besar kebutuhan sapi kurban, estimasi saya 60% mampu dipenuhi dari wilayah Sumut.


Tetapi sebelumnya memang ada sapi dari luar wilayah Sumut seperti dari Jawa maupun Aceh. Nah saat ini kan muncul larangan untuk tidak membeli hewan kurban dari luar wilayah Sumut.


“Ini akan menjadi masalah jika permintaan akan hewan kurban tidak mampu dibarengi dengan ketersediaannya. Saya menilai selama feedlotter masih mampu menyediakan kebutuhan daging sapi.


Harga daging sapi besar kemungkinan akan masih bertahan. Kalaupun melonjak estimasi saya masih di kisaran Rp140.000 per kg. paling mahal di Idul Adha tahun ini,” katanya.


Menurut Gun, yang menjadi persoalan adalah, kebutuhan untuk hewan kurban. Besar kemungkinan harga sapi lokal hidup berpeluang naik tajam. Meskipun dengan adanya PMK, ada peluang terjadinya penurunan minat masyarakat untuk berkurban.


Tetapi data statistik sebelumnya akan lebih sulit dijadikan acuan untuk tahun ini, dikarenakan adanya penyakit PMK tersebut.


Jadi kalau mengukur kemungkinan penurunan daya beli dengan minat masyarakat untuk berkurban akan mudah terlihat.


Tapi kalau menarik kesimpulan penurunan minat berkurban karena penyakit, nah ini contoh kasus sebelumnya sangat sulit didapatkan.


Tetapi mengacu pada ekspektasi saya dimana kebutuhan untuk sapi kurban di Sumut hanya mampu dipenuhi 60% dari wilayah Sumut. Dan dengan berasumsi terjadi penurunan minat berkurban karena dua hal yakni karena penyakit maupun daya beli.


Katakanlah terjadi penurunan minat sebesar 15% hingga 20%.


Maka potensi harga sapi lokal naik sebesar 25% hingga 30% berpeluang terjadi.


Nah jika asumsi tersebut benar-benar terjadi, maka potensi kenaikan harga daging sapi juga berpeluang terjadi. Kalau mengacu kepada rentang harga daging sapi saat ini di kisaran Rp120.000 hingga Rp140.000per Kg. Maka harga daging sapi nantinya bisa bergerak dalam rentang tipis di kisaran Rp135.000 hingga Rp 140.000 per Kg nya.


Minta 'Lockdown'

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Anggia Erma Rini, menyebut munculnya kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak dipicu kelengahan berbagai pihak. Dia menilai tak ada kontrol yang baik demi mencegah PMK masuk ke RI.


"Jelas negara dalam hal ini, semuanya lengah. Setelah bertahun-tahun kita bebas lalu kemudian masuk (PMK) berarti kita lengah. Tidak ada kontrol yang baik untuk mengantisipasi supaya PMK tidak masuk ke Indonesia," ujar Anggia ketika dihubungi, Kamis (19/5).


Indonesia sendiri telah dinyatakan oleh Organisasi Kesehatan Hewan Dunia atau OIE sebagai negara bebas PMK sejak tahun 1990. Namun, wabah itu kembali muncul.


"Indonesia butuh waktu yang sangat panjang dan biaya yang sangat luar biasa untuk bebas dari PMK, maka harus menjadi perhatian besar," kata Anggia.


Anggia mengatakan PMK bisa menyebar dan merugikan Indonesia jika tak ada pencegahan yang dilakukan. Dia menyebut kerugian akibat PMK bisa mencapai triliunan rupiah.


"(PMK) berpengaruh pada kesehatan hewan dan berpengaruh dengan kepercayaan internasional (terhadap Indonesia) dan ekonomi tentunya triliunan akan rugi. Kita butuh kepercayaan untuk effort yang luar biasa terbebas dari itu," ujarnya.


Anggia mengatakan pemerintah bisa memblok hewan ternak dari daerah dengan wabah PMK untuk tidak keluar ke daerah lain. Menurutnya, kebijakan seperti lockdown itu efektif untuk mencegah penyebaran PMK.


"Misalkan di satu kabupaten yang belum terpapar diblok, supaya sama sekali tidak keluar (pergerakan ternak), meskipun kalau ada perpindahan atau mobilisasi (hanya) di dalam kabupaten tersebut," ujar Anggia. (A1/detikcom/d)


Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com