Hari Kebangkitan Nasional, Momentum Bangun Gerakan Lawan Intoleransi


166 view
Hari Kebangkitan Nasional, Momentum Bangun Gerakan Lawan Intoleransi
Foto : Istimewa
Antonius Benny Susetyo.

Jakarta (SIB)

Setiap 20 Mei diperingati Bangsa Indonesia sebagai Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), sebagai momentum lahirnya pergerakan nasional dengan semangat nasionalisme. Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo menyatakan, Hari Kebangkitan Nasional ini menjadi momentum yang tepat untuk membuat gerakan untuk melawan paham intoleransi, ekstremisme, dan radikalisme, yang telah menjadi ancaman terhadap keutuhan bangsa.


"Pentingya kesadaran bersama untuk membentuk gerakan nasional yang dapat mematahkan segala bentuk ideologi anti-Pancasila, termasuk sikap serta ujaran kebencian, agar jangan mendapatkan tempat di ruang publik," ujar Benny, di Jakarta, Kamis (19/5).


Benny menjelaskan, hal tersebut sebagai respons atas maraknya ancaman paham intoleransi, ekstremisme, dan radikalisme yang kerap berusaha menggoyahkan Pancasila sebagai ideologi bangsa yang luhur. Menurutnya, dibutuhkan gerakan nasional guna mempersempit gerak kelompok intoleran, ekstrem, dan radikal agar tidak berkembang lebih jauh.


"Kita harus punya sikap politik yang sama bahwa radikalisme, intoleransi, fanataisme, dan terorisme merupakan musuh kita bersama, karena menghancurkan martabat kemanusiaan, dan mengingkari Pancasila. Jadi, persempit ruang gerak mereka," lanjut pria yang akkrab disapa Romo Benny ini.


Dengan sikap politik yang sama, lanjutnya, masyarakat akan cenderung tidak merespons serta tidak mengikuti segala bentuk kampanye maupun tawaran dari kelompok radikal. Sebaliknya, masyarakat akan cenderung secara aktif mengkampanyekan kehidupan yang aman, damai, dan toleran sebagaimana agama menjadi rahmat bangsa bangsa.


"Sehingga paham-paham itu akan hilang dengan sendirinya jika masyarakat mengucilkan mereka," kata Benny.


Ia melanjutkan, upaya menutup ruang gerak kelompok radikal bukan pekerjaan mudah. Saat ini, generasi muda Indonesia sangat mudah diambil simpatinya melalui narasi dan kampanye pemutar balik fakta. Hal itu sangat mudah ditemukan di setiap sudut dunia maya.


"Mereka (kelompok radikal) membuat kampanye publik untuk kemudian menarik simpati kaum muda yang memang tidak memiliki budaya kritis dan masih labil. Narasi mereka lebih banyak di dunia maya sehingga diyakini sebagai kebenaran," jelasnya.


Namun, ia juga menyampaikan optimisme dalam menjadikan peringatan Hari Kebangkitan Nasional ini sebagai momentum bangkit untuk melawan radikalisme, intoleransi, dan terorisme. "Saya optimis, tetapi tetap harus diimbangi dengan secara aktif mengkampanyekan budaya damai, toleransi dan keberagaman. Maka, konten di media juga harus banyak menampilkan hal itu. Harus banyak ditampilkan di ruang publik," tegas Benny.


Cara menangkal lainnya adalah dengan mendorong kebijakan negara yang selalu mengedepankan budaya toleran, persaudaraan melalui pendidikan Pancasila sebagai penanaman karakter kehidupan berbangsa dan bernegara.


Kemudian, dari sisi masyarakat bisa banyak menginisiatif gerakan seperti gotong royong, yang membangun ikatan persaudaraan sehingga terbangun relasi silaturahmi yang tidak membedakan etnis, suku, ras, agama. "Jadi, merajut ke-Indonesiaan itu lewat perjumpaan yang semakin diaktifkan," tuturnya.


Benny juga menilai pentingnya peran para tokoh agama dan tokoh masyarakat sebagai ujung tombak kehidupan bermasyarakat dan bernegara, melalui penyampaian narasi yang bukan hanya benar namun juga menyejukkan, narasi kemajemukan, beragama, serta membawa muatan nilai cinta Tanah Air yang merupakan sebagian dari iman. Dengan begitu, akan terbangun energi positif, dan kekuatan masyarakat bersatu untuk mewujudkan kesejahteraan.


Ia berpesan kepada segenap masyarakat untuk dapat terus membangun kesadaran sebagai bangsa yang besar dan penuh keberagaman serta memahami pentingnya menjaga persatuan, kesatuan dan jiwa solidaritas. "Kita maknai kembali Hari Kebangkitan Nasional guna memahami pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan serta membangun kesadaran sebagai bangsa yang besar, bangsa yang juga memiliki jiwa patriotisme dan jiwa solidiritas untuk mencapai kesejahteraan," tandas Benny. (RM/c)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: KORAN SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com