Hina Palestina Lewat Tik Tok, Siswa SMA di Bengkulu Kena DO, Sekolah Dianggap Lepas Tangan

* Kepsek Bantah Lakukan DO

265 view
Hina Palestina Lewat Tik Tok, Siswa SMA di Bengkulu Kena DO, Sekolah Dianggap Lepas Tangan
(Hery/detikcom)
Kepala SMAN 1 Bengkulu Tengah, Eka Saputra, menjelaskan soal siswi viral menghina Palestina. 
Jakarta (SIB)
Siswi SMA di Bengkulu dikeluarkan dari sekolah karena diduga menghina Palestina lewat video di media sosial (medsos). Tindakan sekolah terhadap siswi tersebut dinilai tak menyelesaikan masalah.

"Sebetulnya lemah sekali untuk sekolah mengeluarkan anak ini dan tujuannya juga tidak mendidik, kenapa? Karena tidak memberikan jalan keluar. Hanya dengan mengeluarkan dia dari sekolah, itu tidak menyelesaikan masalah," kata Direktur Eksekutif Center for Education Regulations and Development Analysis (CERDAS), Indra Charismiadji, saat dihubungi, Rabu (19/5) malam.

Indra menilai sekolah harusnya mengambil langkah memperbaiki perilaku siswi yang menghina Palestina. Pikiran siswi yang masih remaja disebutnya masih labil.

"Justru seharusnya sekolah berinisiatif, kalau memang katakanlah kata-katanya kasar, kata-katanya kotor, itu kan kita nggak tahu, dari sisi norma kesopanan dan sebagainya. Justru pihak sekolah itu yang bicara untuk bagaimana memperbaiki hal tersebut," ujar Indra.

"Jadikan kembali, ini kan remaja, remaja itu pikirannya aneh-aneh. Nah justru ini yang harus difasilitasi oleh pihak sekolah," sambungnya.

Dia juga menilai ada unsur lepas tangan sekolah sehingga men-drop out siswi penghina Palestina. Padahal menurut Indra, siswi tersebut tak semestinya seperti berurusan dengan hukum.

"Harusnya sebagai pendidik, justru arahnya mendidik anak, bukan melepas tangan. Langkah ini adalah langkah lepas tangan, memberikan hukuman terhadap sesuatu yang menurut saya tidak jelas. Karena lain halnya kalau dia melanggar hukum, jadi dia itu harus berhubungan dengan pihak kepolisian dan harus keluar dari sekolah karena tidak bisa mengikuti pelajaran lagi," imbuhnya.

Sebelumnya, Kepala Cabang Dinas Pendidikan wilayah VIII Kabupaten Bengkulu Tengah, Adang Parlindungan, mengatakan, berdasarkan hasil rapat pada Senin (17/5) kemarin, siswi tersebut dikembalikan ke orang tuanya atau di-DO dari sekolah.

"Hasil rapat sudah jelas atas perbuatan yang dilakukan MS membuat nama pendidikan di Bengkulu Tengah terluka dan solusinya pihak sekolah mengembalikannya ke orang tuanya," kata Adang saat dimintai konfirmasi, Selasa (18/5).

Pada rapat kemarin, pihak sekolah memanggil siswi tersebut bersama orang tuanya. Pihak sekolah juga mengundang pihak TNI, Polri, dan anggota DPRD Bengkulu Tengah.

Siswi SMA tersebut telah minta maaf atas unggahannya yang viral menghina Palestina lewat aplikasi TikTok. Siswi tersebut mengaku siap menerima risiko atas unggahannya itu.

Ibu dari siswi tersebut, Manupak Simbolon, mengatakan akan memindahkan anaknya ke sekolah lain agar aman dan tak terganggu psikologisnya dalam melanjutkan proses belajar.

"Kami memang sengaja memindahkan anak kami dari sekolah lama agar bisa melupakan kejadian tersebut dan bisa menjadi lebih baik lagi," kata Manupak kepada wartawan, Rabu (19/5).

Dia mengatakan telah meminta maaf atas video yang dibuat anaknya. Dia mengatakan akan mengawasi anaknya agar menjadi pribadi yang lebih baik.

"Semoga di sekolah baru nanti anak kami bisa memulai sekolah baru dan tidak mengingat lagi apa yang telah terjadi, dan sekali lagi atas nama keluarga kami meminta maaf atas apa yang telah terjadi," tutup Manupak.

Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah, turut menyoroti masalah ini. Dia mengaku tak setuju kebijakan sekolah mengeluarkan siswi tersebut.

"Seharusnya hak pelajar jangan diputus karena bila diputus akan merugikan pelajar tersebut," ujar Rohidin.

Tak Pernah DO
Sementara itu, pihak sekolah membantah telah melakukan drop out terhadap MS (19), siswi SMA Negeri 1 Kabupaten Bengkulu Tengah, Bengkulu, yang viral menghina Palestina lewat TikTok. Pihak sekolah mengaku hanya menitipkan MS kepada orang tuanya, namun orang tua meminta MS pindah ke sekolah lain.

"Kami dari sekolah tidak pernah men-DO MS. Orang tuanya yang menyatakan mau pindah, ada kok surat pernyataannya," kata Kepala SMA Negeri 1 Bengkulu Tengah Eka Saputra saat menggelar konferensi pers di hadapan para wartawan, (20/5).

Eka menjelaskan pihak sekolah tidak pernah mencabut hak MS akan sekolah. Namun, karena dalam kondisi Covid-19, pihak sekolah menitipkan MS kepada orang tuanya agar bisa memulihkan kondisi psikologisnya.

"Yang jelas, kalau MS masih mau sekolah di sini, tetap kita terima," papar Eka.

Selain itu, Eka menyampaikan orang tua MS juga telah membuat pernyataan tertulis bahwa MS tetap akan dipindahkan ke sekolah lain. Langkah itu dinilai orang tua agar bisa membantu menjaga psikologi MS.

"Tadi malam kita masih mengunjungi MS di rumahnya untuk membantu konseling sang anak," tutur Eka. (detikcom/c)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Tag:
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com