Ikan Mas Diklaim Berasal dari China, Masuk Kategori Pengganggu Global


292 view
Foto: Wedding me
IKAN MAS UNTUK PENGANTIN: Ikan mas kerap dipersembahkan khusus pada pesta pernikahan adat Batak. Kemudian untuk pengantin, orangtuanya dan hula-hula bersama-sama memegang ujung nampan berisi arsik ikan mas lalu mereka memanjatkan doa syukur kepada Tuhan. Begitulah arsik menjadi simbol doa dan berkat pada prosesi pernikahan adat Batak.
Jakarta (SIB)
Di Australia, ikan mas dianggap sebagai hama. Padahal di Indonesia ikan mas justru dibudidayakan. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menjelaskan bahwa ikan mas memang ikan pengganggu alias invasif.

"Ikan mas aslinya dari China. Di Australia termasuk jenis pendatang atau introduce. Memang di Australia sudah termasuk kategori invasif atau pengganggu. Berbeda dengan di Indonesia. Walaupun jenis pendatang, ikan mas justru dimanfaatkan dan dibudidayakan secara luas," kata peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI Haryono saat dihubungi, Sabtu (27/3).

Bahkan di beberapa daerah wilayah RI, seperti di Tapanuli, ikan mas justru merupakan esensi penting dalam acara adat istiadat yang sudah berlangsung secara turun temurun. Dimana pihak yang memenuhi kriteria seperti orangtua, pihak Hula-hula (keluarga isteri) memberikannya kepada anak dan menantu.

Haryono mengatakan ikan mas sudah masuk kategori pengganggu secara global.

"Secara global, dalam laman GISD (Global Invasive Species Database), ikan mas sudah dikategorikan jenis invasif atau pengganggu," ungkapnya.

Dia mengatakan ikan mas juga sudah sangat mengganggu di Sulawesi hingga Papua. Ikan mas mengganggu ikan asli di kawasan tersebut.

Di Sulawesi dan Papua juga sudah termasuk mengganggu ikan asli. "Di Papua, pada Danau Ayamaru, juga terindikasi telah mengganggu ikan pelangi, endemi danau tersebut," ujarnya.

Sebelumnya, seperti dilansir ABC Australia, Rabu (24/3) sebuah penelitian di Australia menemukan, sebanyak 360 juta ekor ikan mas tinggal di saluran air Australia di tahun yang 'basah' ini.

Sementara itu, di 'tahun biasa', jumlah ikan mas bisa turun hingga 200 juta. Data itu menurut ilmuwan yang terlibat dalam penyusunan Rencana Pengendalian Ikan Mas Nasional di Australia.

Kepala ilmuwan Institut Arthur Rylah Bidang Penelitian Lingkungan, Jarod Lyon, mengatakan 96 persen ikan mas yang teridentifikasi ditemukan di daerah pantai timur Australia.

Menurutnya, di beberapa lahan basah, jumlah ikannya bisa mencapai 1.000 kg per hektare, yang dampaknya jauh melebihi dari apa yang selama ini kita ketahui.

Dr Lyon mengatakan beberapa titik yang diteliti meliputi lahan basah di Victoria, dataran banjir di 'Lower Murray-Darling' Australia Selatan dan daerah tangkapan air Sungai Lachlan.

Ikan mas yang dikenal dengan nama 'common carp' (Cyprinus carpio) di Australia terkenal sebagai ikan pemakan lumpur dan perusak kualitas air.

Dr Lyon mengatakan ikan tersebut mengancam keanekaragaman hayati di Australia. (Detikcom/R1/f)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib.com edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com