India Gerebek Kantor Media yang Kritik Cara Pemerintah Tangani Corona

* PM Modi Bantah Kematian Covid di India Capai 4 Juta Orang

163 view
India Gerebek Kantor Media yang Kritik Cara Pemerintah Tangani Corona
Foto: PTI
BERJAGA: Sejumlah anggota pasukan keamanan India berjaga di rumah Sudhir Agarwal, pemilik media Dainik Bhaskar Group setelah personel departemen perpajakan India menggerebek kantor media miliknya di Bhopal, Kamis (22/7) waktu setempat.
New Delhi (SIB)
Otoritas pajak India menggerebek kantor surat kabar dan televisi terkemuka yang diketahui kerap mengkritik cara pemerintah menangani pandemi virus corona (Covid-19). Penggerebekan itu memicu tuduhan intimidasi oleh pemerintah terhadap media massa. Seperti dilansir AFP, Kamis (22/7), belum ada pernyataan resmi dari pemerintah India terkait penggerebekan terhadap kantor surat kabar Dainik Bhaskar dan televisi Bharat Samachar itu.

Namun laporan media lokal yang mengutip sejumlah pejabat pajak menyebut mereka memiliki 'bukti penipuan yang meyakinkan'. Surat kabar Bhaskar yang memiliki jutaan pembaca, mempublikasikan serangkaian laporan soal kehancuran yang dipicu pandemi corona pada April dan Mei, dan mengkritik manajemen krisis oleh pemerintah.

Dalam responsnya, surat kabar ini menuturkan dalam situsnya bahwa dalam enam bulan terakhir, pihaknya berupaya 'menunjukkan situasi nyata di negara ini'. "Baik soal (pembuangan) jenazah di Sungai Gangga atau menyembunyikan kematian akibat corona, Bhaskar menunjukkan jurnalisme yang tidak kenal takut," tegas Bhaskar dalam pernyataannya.

Pada puncak pandemi corona, keluarga-keluarga di wilayah utara dan timur India terpaksa membuang jenazah keluarga tercinta mereka ke sungai atau menguburkannya di pemakaman dangkal di tepi-tepi sungai, karena tidak mampu membiayai prosesi kremasi.

Bulan lalu, seorang editor surat kabar Bhaskar menulis artikel opini di media terkemuka Amerika Serikat (AS), New York Times yang menyebut jenazah-jenazah di Sungai Gangga menjadi simbol 'kegagalan dan penipuan' pemerintahan Perdana Menteri (PM) Narendra Modi.

Pemimpin redaksi televisi Bharat Samachar, Brijesh Mishra, menegaskan dalam pernyataannya bahwa penggerebekan itu merupakan pelecehan terhadap media. "Kami tidak takut dengan penggerebekan ini, kami berdiri di atas kebenaran dan 240 juta warga Uttar Pradesh," tegasnya.

Pemerintahan Modi telah sejak lama dituduh berupaya menekan laporan media yang kritis. Tuduhan ini telah dibantah. Indeks kebebasan pers pada Reporter Without Borders tahun 2021 menunjukkan India menempati peringkat 142 dari 180 negara.

Dalam tanggapannya, Kepala Menteri Rajasthan, Ashok Gehlot, menyebut penggerebekan itu sebagai upaya terang-terangan untuk menekan media. "Pemerintahan Modi tak bisa menoleransi sedikit kritikan," ujar Gehlot, yang berasal dari Partai Kongres yang merupakan oposisi pemerintahan Modi. Kepala Menteri New Delhi, Arvind Kejriwal, secara terpisah menyebut penggerebekan itu sebagai 'upaya untuk menakut-nakuti media'.

PM Modi Membantah
Sementara itu, India membantah studi yang memaparkan bahwa kematian akibat Covid-19 di negara itu 11 Kali lebih banyak dari data resmi pemerintah. Studi kelompok riset Amerika Serikat, Center for Global Development menyebut sedikitnya 3,4 juta sampai 4,7 juta orang di India telah meninggal akibat Covid-19.

Berdasarkan data resmi, jumlah kematian Covid-19 di India sejak awal pandemi mencapai total 419.021. Jika terbukti, angka kematian akibat Covid-19 India tersebut akan menjadi yang tertinggi di dunia. Pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi mengatakan bahwa hasil penelitian itu merupakan asumsi ‘yang berani’, yang menyamakan kemungkinan kondisi kritis setiap orang yang terinfeksi sama di seluruh negara.

Pemerintah India menganggap studi tersebut mengabaikan faktor-faktor ras, etnis, konstitusi genetik suatu populasi, dan tingkat paparan sebelumnya terhadap penyakit lain dan kekebalan terkait yang dikembangkan pada populasi tersebut. "Berasumsi bahwa seluruh kematian yang tak terdata adalah akibat virus corona itu tidak berdasarkan fakta dan sepenuhnya keliru," kata pemerintah India, Kamis (22/7) seperti dikutip AFP. Pemerintah India menegaskan mereka memiliki strategi pelacakan kontak menyeluruh, ketersediaan laboratorium secara luas.

Meski begitu, pemerintah India mengakui mungkin ada beberapa kasus Covid-19 yang tidak terdeteksi. Namun, menurut pemerintah, kematian akibat Covid-19 yang tidak terdata kemungkinan kecil terjadi. Pernyataan pemerintah India tersebut justru terkesan menyalahkan pemerintah daerah dalam pendataan kasus dan kematian Covid-19.

New Delhi mengatakan pemerintah pusat mengandalkan pengumpulan dan penerbitan statistik Covid-19 dari data-data yang dikirim negara bagian. Pemerintah India menuturkan telah berulang kali menasihati pemerintah daerah tentang pencatatan kematian dengan sebenar-benarnya.

"Negara-negara bagian yang kewalahan oleh lonjakan Covid-19 pada April dan Mei lalu sekarang telah disarankan melakukan audit menyeluruh demi mencegah kemungkinan kasus terlewatkan dan beberapa wilayah memperbarui data mereka," bunyi pernyataan pemerintah India.

Sebelumnya para peneliti mengungkapkan telah melihat secara mendalam jumlah kematian yang berlebih, jumlah kematian tambahan selama pandemi yang dibandingkan dengan waktu biasa, dan dengan tingkat kematian di negara lain.

Saat ini, jumlah kematian Covid-19 di India sejak awal pandemi mencapai total 419.021 jiwa. Jumlah itu menjadikan India negara dengan jumlah kematian Covid-19 ketiga tertinggi di dunia setelah Amerika Serikat dengan 610 ribu kematian dan Brasil dengan 545 ribu kematian.

Studi ini menjadi penelitian terbaru yang meragukan data resmi pemerintah India soal kasus dan kematian Covid-19. Selama ini, banyak ahli menuding pemerintah memanipulasi data Covid-19, di mana banyak kasus dan kematian virus corona yang tidak terhitung.

Awal Maret lalu, India kembali mengalami lonjakan besar kasus Covid-19 setelah sempat melandai dengan puncak penularan terjadi pada awal Mei. Saat itu terdapat lebih dari 400 ribu kasus corona dalam sehari.

Sepuluh hari kemudian, jumlah kematian corona di India memuncak dengan lebih dari 4.000 kematian dalam sehari. Sejak itu, India menjadi salah satu episentrum baru penularan Covid-19 dunia.

Selain sikap abai sebagian warga India terhadap protokol kesehatan, situasi corona di India saat itu juga diperparah dengan kemunculan varian Delta yang lebih menular. Sementara itu, proporsi penduduk yang sudah divaksinasi lengkap masih kurang dari 3 persen dari total hampir 1,4 miliar penduduk India. (AFP/CNNI/dtc/a)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com