Interpol Bongkar Sindikat Pembuat Vaksin Corona Palsu

* Ribuan Vaksin Corona Palsu Jaringan China-Afsel Dijual Secara Online

204 view
(Foto: Interpol)
Interpol yang berbasis di Lyon, Prancis, melakukan 80 penangkapan di satu pabrik Tiongkok yang membuat vaksin Covid-19 palsu. 
Jakarta (SIB)
Organisasi kepolisian internasional Interpol mengumumkan pembongkaran sindikat yang dicurigai sebagai pembuat vaksin Corona palsu.

Dikutip dari BBC, Interpol mengatakan bahwa kepolisian di China dan Afrika Selatan (Afsel) telah melakukan puluhan kasus penangkapan dan menyita ribuan dosis vaksin Corona palsu.

Di China, polisi telah berhasil melakukan 80 kasus penangkapan. Di sana, mereka menemukan sedikitnya 3.000 dosis vaksin Corona palsu.

Sementara itu, tiga warga negara China dan seorang warga Zambia ditahan di sebuah gudang di Gauteng, Afrika Selatan. Sebanyak 2.400 dosis vaksin Corona palsu ditemukan di tempat itu.

Interpol pun menekankan bahwa vaksin palsu tersebut tidak memiliki izin edar. Disebutkan, vaksin ini tersebar dan dijual secara online.

"Setiap vaksin yang diiklankan di situs web atau dark web, tidak akan sah, tidak akan diuji dan mungkin berbahaya," tegasnya.
Hal ini menjadi perhatian karena vaksin adalah salah satu alat penting untuk mengatasi pandemi COVID-19. Terlebih persaingan ketat di seluruh negara untuk membeli vaksin telah menimbulkan sejumlah kelangkaan, sehingga banyak vaksin palsu bermunculan.
Sekretaris Jenderal Interpol Jurgen Stock pun mengatakan ini hanya 'puncak gunung es' dari kejahatan terkait vaksin Corona.

Pada bulan Desember, Interpol telah mengeluarkan peringatan siaga global di 194 negara untuk bersiap dalam menangani jaringan kejahatan terorganisir yang menargetkan vaksin Corona. Mereka pun memberikan saran tentang cara mengenali produk medis palsu.

WAJIBKAN
Terpisah, beberapa waktu lalu, pemerintah Jepang meminta otoritas China untuk menghentikan prosedur tes swab anal untuk mendeteksi COVID-19 pada warga negara Jepang yang berada di negara tersebut. Menurutnya, hal ini bisa memicu sakit psikologis bagi warga negara Jepang yang tengah menetap di sana.

"Beberapa warga jepang melapor pada Kedutaan kami di China bahwa mereka menjalani tes swab anal, yang memicu sakit psikologis yang sangat besar," jelas Kepala Sekretariat Kabinet Jepang, Katsunobu Kato yang dikutip dari Reuters.

Menanggapi hal tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin mengatakan, prosedur tes swab anal sudah sesuai dengan perubahan situasi pandemi COVID-19 yang terjadi saat ini.

"Tes tersebut sesuai dengan perubahan situasi epidemi serta undang-undang dan peraturan terkait," kata Wang Wenbin yang dikutip dari New York Post, Kamis (4/3).

Meski mendapat tanggapan negatif negara lain, China akan tetap mewajibkan tes swab anal COVID-19 untuk semua warga asing yang tiba di negaranya. Berdasarkan laporan yang ada, pemerintah mengklaim tes ini bisa memberikan akurasi yang lebih tinggi dibandingkan metode skrining virus lainnya.

Selain itu, tes swab anal akan menjadi bagian dari persyaratan baru untuk perjalanan. Pusat pengujian tes swab anal ini juga akan tersedia di bandara Beijing dan Shanghai.

Petugas medis penyakit pernafasan Li Tongzeng mengatakan, tes swab anal ini jauh lebih baik dari tes swab biasa. Hal ini karena jejak virus bisa tinggal lebih lama pada sampel tinja, daripada di hidung atau tenggorokan. (Detikhealth/a)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com