Jakarta Siaga Banjir, Pemprov Siapkan 1.262 Lokasi Pengungsian


151 view
Jakarta Siaga Banjir, Pemprov Siapkan 1.262 Lokasi Pengungsian
Foto Istimewa
BMKG menetapkan DKI Jakarta, dan lima wilayah lainnya berstatus siaga banjir hingga Senin (1/11). 
Jakarta (SIB)
BMKG menetapkan DKI Jakarta, dan lima wilayah lainnya berstatus siaga banjir hingga Senin (1/11). Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sudah menyiapkan mitigasi bencana banjir.

BMKG dalam keterangan tertulisnya menyebutkan ada enam wilayah yang berpotensi banjir dan banjir bandang untuk periode 31 Oktober hingga 1 November 2021. Selain Jakarta, lima wilayah tersebut antara lain Banten, Jabar, Jateng, Kalteng, dan Kalsel.

"Untuk periode 3 (tiga) hari mendatang (31 Okt-01 Nop 2021), berdasarkan Prakiraan Cuaca Berbasis Dampak, wilayah yang berpotensi dampak banjir dan banjir bandang, dengan Kategori SIAGA," ujar Deputi Bidang Meteorologi, Guswanto, dalam keterangan tertulis BMKG, Minggu (31/10).

Untuk di Jakarta, Anies sudah melakukan apel antisipasi cuaca ekstrem pada Rabu (13/10) lalu. Anies menjelaskan ada tiga ancaman musim hujan yang akan dihadapi oleh Ibu Kota. Di antaranya banjir rob di wilayah utara Jakarta, pertemuan 13 aliran sungai di wilayah Selatan Jakarta hujan ekstrem di dalam kota.

Siapkan Pola
Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menyiapkan pola penanganan sampah demi mengantisipasi terjadinya banjir. Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Asep Kuswanto mengatakan hal ini bertujuan mengatasi permasalahan sampah akibat hujan yang terjadi di dalam kota ataupun di kawasan hulu.

"Sesuai dengan pesan Pak Gubernur DKI Jakarta bahwa kita harus siaga, tanggap, dan galang. Siaga dengan melihat beberapa indikator yang memungkinkan kenaikan air, seperti intensitas curah hujan yang tinggi, ketinggian muka air di Bendung Katulampa, dan potensi adanya rob di pesisir Jakarta," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Asep Kuswanto saat Apel Kesiapsiagaan Antisipasi Musim Hujan di DLH DKI Jakarta, Cililitan, Jakarta Timur, Selasa (19/10).

Asep menjabarkan, penanganan sampah terbagi ke dalam empat mode, yaitu mode normal, mode awas, mode tergenang, dan mode rehabilitasi. Pola ini, sebutnya, sesuai dengan arahan dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat apel di Monumen Nasional beberapa waktu lalu.

"Mode normal pada awal musim penghujan kita pastikan tidak ada sampah yang menghambat badan air, mode awas untuk siaga banjir yang indikasinya dari tingginya muka air Bendung Katulampa dan tingginya intensitas curah hujan, mode tergenang, yaitu ketika tanggap darurat banjir yang ditetapkan statusnya oleh BPBD dan terakhir mode rehabilitasi pasca terjadinya genangan," terangnya.

Sumur Resapan
Pemprov DKI Jakarta menyiapkan 1.262 lokasi pengungsian untuk menghadapi musim hujan. Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria menuturkan nantinya lokasi pengungsian itu dapat menampung 105 ribu orang.

"Menyiapkan 1.262 lokasi pengungsian daya tampung 105.804 jiwa, dan sarana-prasarana pendukung, seperti tenda pengungsi, dapur umum, logistik, dan lain sebagainya," kata Riza dalam rekaman video, Jumat (29/10).

Untuk mengantisipasi banjir, Pemprov DKI juga mengupayakan program revitalisasi waduk serta pompa secara berkala serta memasang alat pengukur curah hujan di 267 kelurahan di Jakarta.

"Kami lakukan adalah revitalisasi waduk dan pompa program Gerebek Lumpur di lima wilayah kota administrasi pembangunan sumur resapan drainase vertikal, memasang alat ukur curah hujan di seluruh yakni 267 kelurahan sehingga kita tahu persis kalau musim hujan seperti apa," ujarnya.

Membagi Wilayah
Anies mengatakan pihaknya telah membagi wilayah operasi di Jakarta berdasarkan teritori. Dia menyebut hal itu dilakukan agar semua petugas yang dikerahkan tidak kumpul di satu titik yang menjadi perhatian media.

"Kita di Jakarta ini membagi wilayah operasi itu berbasiskan teritori. Jadi semua sumber daya dari Pemprov, dari TNI, dari polisi, dari civil society, dari SAR, dari Kementerian Sosial dan lain-lain yang belum tersebut itu dibagi wilayah operasinya.

Jadi tidak terkumpul di tempat yang dapat perhatian media. Kadang-kadang, kalau dapat perhatian media, di situ semua kekuatan berkumpul. Yang tidak didatangi media tidak ada kekuatan yang datang, jadi ada bagian dari teritori," tutur Anies,
Anies mengatakan penanganan banjir di Jakarta saat ini menggunakan sistem key performance indicator (KIP) dengan target 6 jam surut setelah hujan reda. Dia juga menyebut, jika hujan di bawah 50 mm, jalan utama di Jakarta tidak boleh banjir.

"Nah, ini kata kunci kalau di bawah 100 mm dan di bawah 50 mm, tidak boleh banjir. Tapi kalau di atas 100 mm sampai terjadi hujan setinggi itu dan kita tahu sekarang hujannya ekstrem, apalagi seperti diantisipasi dalam pertemuan ini dengan adanya La Nina, ini potensi hujan intensif jangka pendek tinggi sekali. Apa KIP-nya, 6 jam harus surut. Jadi 6 jam sesudah air hujan berhenti, tempat yang di situ terjadi genangan harus bisa surut dalam 6 jam," kata Anies.

Anies mengklaim banjir di Jakarta pada awal tahun lalu itu bisa kering dalam waktu satu hari. Hal itu karena, kata Anies, ada target di Jakarta jika banjir harus surut dalam waktu 6 jam.

"Di awal tahun ini terasa daerah-daerah yang biasanya kalau banjir tergenang 3-4 hari, sekarang kurang dari satu hari sudah kering, kenapa ya karena sekarang petugas lurah, camat, BPBD, itu semua punya target 6 jam kering, 6 jam kering, apa pun kondisinya," tuturnya.

Pompa Mobile
Anies menilai banjir tak sekadar surut secara alami melalui gravitasi. Anies mencontohkan sewaktu Jakarta dilanda banjir akibat intensitas hujan melebihi kapasitas drainase Ibu Kota pada Februari lalu.

"Ketika sebuah kawasan tergenang, biasanya bisa sampai 3-4 hari, di hari-hari itu semua damkar dikerahkan. Kemudian, pompa mobile dikerahkan, bahkan tangki penyiraman air dikerahkan untuk menarik air dan itu surutnya bukan semata-mata karena gravitasi, tapi surutnya karena ditarik oleh pompa," kata Anies kepada wartawan, Minggu (31/10).

Eks Mendikbud itu mengatakan, pentingnya manajemen yang baik dalam menangani banjir di Jakarta. Untuk itu, Pemprov DKI menggelar simulasi penanganan banjir sebelum cuaca ekstrem melanda Jakarta.

"Itu semua memerlukan manajemen, semuanya memerlukan skenario, itu semua memerlukan simulasi dan itu yang kita kerjakan," jelasnya.

Sedangkan untuk penanganan pascabanjir, Anies mengatakan pihaknya menyiapkan sejumlah lokasi pengungsian sesuai dengan protap Covid-19. Dia meyakini dalam menghadapi musim penghujan tahun ini, banjir surut lebih cepat dari waktu sebelumnya.

"Karena jumlah hujan itu di luar kendali kita, tapi bila curah hujan melampaui ambang batas, maka kita punya target untuk bisa menyelesaikan secepatnya," imbuhnya. (detikcom/d)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com