Jaksa Agung: Sebagai Garda Terdepan, Intelijen Kejaksaan Harus Mampu Manfaatkan Teknologi


185 view
Jaksa Agung: Sebagai Garda Terdepan, Intelijen Kejaksaan Harus Mampu Manfaatkan Teknologi
Foto/Penkum Kejagung /Baren A Siagian
Rakernis: Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin saat membuka Rapat Kerja Teknis (Rakernis) pada Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen (Jamintel) Kejaksaan Agung (Kejagung) tahun 2021 di Jakarta, Rabu (22/09).
Jakarta (SIB)
Jaksa Agung RI, Sanitiar Burhanuddin mengingatkan sebagai garda terdepan bagi Kejaksaan, jaksa bidang Intelijen, harus mampu mempergunakan teknologi Informasi yang semakin modern dalam menjalankan tugas dan fungsinya yang saat ini memasuki era digital.

“Jadi mau tidak mau, suka tidak suka, Intelijen Kejaksaan pun harus menjadi yang terdepan dalam pemanfaatan teknologi dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya,” kata Jaksa Agung saat membuka Rapat Kerja Teknis (Rakernis) pada Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen (Jamintel) Kejaksaan Agung (Kejagung) tahun 2021 di Jakarta, Rabu (22/9).

Menurut Jaksa Agung, perlu disusun program atau roadmap digitalisasi pelaksanaan tugas dan fungsi bidang intelijen, mengingat bidang intelijen adalah unit pendukung atau supporting unit yang bertanggung jawab memastikan seluruh kebijakan penegakan hukum Kejaksaan yang dilaksanakan oleh bidang-bidang lainnya dapat terlaksana dengan maksimal.

Salah satu kunci kekuatan atau keberhasilan intelijen adalah apabila didukung dengan data yang lengkap, cermat, dan up to date. Pastikan perangkat digital Kejaksaan aman, tidak ada kebocoran. Oleh karena itu setiap pengadaan perangkat intelijen harus selalu memenuhi kaidah-kaidah pengadaan perangkat teknologi informasi intelijen sesuai ketentuan yang berlaku. Tinggi dan kompleksnya tingkat risiko dan potensi ancaman penyalah-gunaannya. Setiap personel intelijen diharapkan memiliki kesadaran keamanan diri, serta dapat menerapkan sistem pengamanan informasi yang kuat pada sistem perangkat intelijen yang digunakan.

Mantan Jamdatun itu menambahkan perubahan kehidupan sosial manusia yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi informasi tentunya juga berdampak pada perubahan modus operandi kejahatan yang memanfaatkan kelemahan teknologi informasi.

"Aparat penegak hukum harus siap berhadapan dan menggunakan alat bukti atau barang bukti digital untuk mengungkap dan membuktikan kejahatan seseorang," tegasnya.

Kemajuan teknologi informasi berimbas juga pada dunia media massa. Pada saat ini masyarakat begitu mudahnya mengakses berita dari berbagai sumber. Platform media massa yang berbasis konvensional sudah tergeser oleh media sosial. Konsekuensinya adalah informasi begitu mudah tersebar dan tidak terfilter.

“Ini menjadi tantangan yang sangat berat bagi Bidang Intelijen, khususnya Pusat Penerangan Hukum (Puspenkum) dalam bersaing untuk memberikan informasi yang benar kepada masyarakat yang telah dibanjiri dengan banyak berita yang bersifat hoax,”tegasnya.

Saat ini keberadaan media sosial, lanjutnya, menjadi kebutuhan masyarakat yang digunakan sebagai sarana berpendapat, berdiskusi, bahkan dimanfaatkan juga untuk kegiatan bisnis. Meskipun tidak menutup kemungkinan kecanggihan tehknologi terdapat tindakan negatif, cenderung mengarah kriminal yang perlu diwaspadai, antara lain, penyebaran berita bohong yang menyesatkan, dan informasi yang belum jelas kebenarannya, kebebasan berekpresi dan berpendapat yang sering menimbulkan kesalahpahaman, perdebatan, dan permusuhan dan media sosial rawan dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu sebagai media propaganda, menyebarkan ideologi sesat dan kebencian.

“Kondisi demikian tidak hanya berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban, tetapi juga berpotensi memecah belah persatuan dan mengancam keutuhan NKRI,”kata Jaksa Agung,

Menurutnya Kejaksaan RI sebagai lembaga penegak hukum yang selalu bersinggungan dengan pihak-pihak berperkara, sering mendapatkan ancaman dan gangguan berupa pemberitaan negatif yang bertujuan untuk menurunkan kredibilitas lembaga. Media sosial ini menjadi sarana yang strategis bagi mereka untuk melancarkan serangan tersebut.

“Untuk itu, jajaran intelijen dituntut terus meningkatkan kemampuannya di bidang teknologi informasi agar dapat mengimbangi dan melakukan counter terhadap pemberitaan negatif dan informasi yang keliru tentang Kejaksaan,” pungkasnya. (h3/d)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com