Minggu, 21 Juli 2024

Jaksa Tetap Tuntut Eliezer 12 Tahun Bui, Ungkit Derita Yosua Ditembus Peluru

* Jaksa Tolak Pleidoi Putri Candrawathi
Redaksi - Selasa, 31 Januari 2023 09:33 WIB
485 view
Jaksa Tetap Tuntut Eliezer 12 Tahun Bui, Ungkit Derita Yosua Ditembus Peluru
Foto : Ari Saputra/detikcom
Bharada Richard Eliezer
Jakarta (SIB)
Jaksa meminta majelis hakim menolak nota pembelaan atau pleidoi yang disampaikan mantan ajudan Ferdy Sambo, Bharada Richard Eliezer. Jaksa pun berbicara tentang rasa sakit yang dialami Brigadir N Yosua Hutabarat saat ditembak oleh Eliezer.

"Berdasarkan landasan berpikir di atas, kami JPU telah berusaha memahami penderitaan dan sakitnya korban Nopriansyah Yosua Hutabarat sesaat sebelum ditembak sampai dengan bersangkutan meregang nyawa akibat timah panas yang menembus dan bersarang dalam tubuhnya," kata jaksa saat membaca replik di PN Jaksel, Senin (30/1).

Jaksa mengatakan, Eliezer memang bersikap jujur. Namun, menurut jaksa, kejujuran Eliezer di sidang tidak berarti perbuatan pidananya terhapus.

"Kejujuran, kontribusi dan konsistensi terdakwa Richard Eliezer Pudihang Lumiu telah membongkar perkara a quo, peran terdakwa Richard Eliezer Pudihang Lumiu sebagai eksekutor penembakan Yosua dengan saksi Ferdy Sambo sebagai pelaku utama dengan tuntutan pidana penjara seumur hidup," kata jaksa.

Jaksa berpendapat, Eliezer tidak bisa dituntut atau dijatuhi hukuman yang lebih ringan dibanding Putri Candrawathi, Ricky Rizal, dan Kuat Ma'ruf. Sebab, Eliezer adalah eksekutor dan punya kontribusi sangat berat dalam perkara.

"Peran terdakwa lainnya bukan eksekutor, namun memiliki kontribusi yang sangat berat dalam perkara," kata jaksa.

Selain berusaha memahami perasaan Yosua sebagai korban, jaksa mengatakan tuntutannya itu sebagai bentuk empati kepada keluarga Brigadir Yosua. Jaksa juga menjelaskan faktor lain yang membuat mereka menuntut Eliezer dijatuhi hukuman 12 tahun penjara.

"Penderitaan keluarga korban atas meninggalnya Yosua, pemaafan keluarga korban Yosua kepada terdakwa Richard Eliezer Pudihang Lumiu, serta kondisi sosial kemasyarakatan sehubungan dengan faktor penjerat pidana bagi terdakwa Richard Eliezer Pudihang Lumiu adalah agar tidak melakukan perbuatan yang sama di kemudian hari, maupun bagi masyarakat luas untuk mengamankan masyarakat dari penjahat sehingga dengan demikian diharapkan anggota, dan masyarakat lainnya tidak akan nelakukan tindak pidana sebagaimana tujuan dan teori," jelas jaksa.

"Bahwa oleh karena itu, tim penuntut umum telah bersungguh-sungguh mempertimbangkan tuntutan pidana terhadap terdakwa Richard Eliezer Pudihang Lumiu selama 12 tahun karena secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 340 KUHP juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP," pungkas jaksa.



Tepis Pleidoi Istri Sambo
Di persidangan lain, jaksa penuntut umum (JPU) juga meminta majelis hakim menolak nota pembelaan atau pleidoi istri mantan Kadiv Propam Polri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi. Jaksa meminta hakim menjatuhkan putusan sebagaimana tuntutan jaksa, yakni 8 tahun penjara.

"Kami berpendapat pleidoi terdakwa Putri Candrawathi harus dikesampingkan. Selain itu, pleidoi tidak didukung dengan fakta yuridis yang kuat," kata jaksa saat membacakan replik di PN Jaksel, Senin (30/1).

"Memohon majelis hakim menolak seluruh pleidoi dari tim penasihat Putri Candrawathi dan pleidoi terdakwa Putri Candrawathi. Menjatuhkan putusan sebagaimana diktum tuntutan JPU," imbuh jaksa.[br]



Dalam repliknya, jaksa menanggapi nota pembelaan atau pleidoi Putri Candrawathi. Jaksa menilai pleidoi Putri yang mengaku tidak paham mengapa dirinya didakwa melakukan pembunuhan berencana Yosua tidak relevan dengan fakta sidang.

"Bahwa terhadap pendapat terdakwa Putri Candrawathi cukup dapat dipahami karena apa yang dikatakan terdakwa Putri Candrawathi sangatlah relevan dengan fakta yang ada," kata jaksa.

Jaksa juga membantah pernyataan Putri yang mengaku disebut perempuan tak bermoral. Jaksa mengatakan dalam surat tuntutan tidak ada penyebutan Putri wanita bermoral. Jaksa menegaskan hingga saat ini menghormati Putri sebagaimana seorang wanita.

"Berdasarkan fakta hukum sidang, bukan hal seperti yang dikemukakan terdakwa menyatakan menuding terdakwa Putri Candrawathi sebagai perempuan tidak bermoral, padahal itu sama sekali tidak tertulis dalam tuntutan JPU. JPU menghormati betul kedudukan terdakwa Putri Candrawathi sebagai seorang wanita, seorang istri, dan seorang ibu rumah tangga, sebagaimana Islam memuliakan Maryam, Fatimah, Khadijah, dan Aisyah," ucap jaksa.

"Kristen dan Katolik memuliakan Bunda Maria dan Elizabeth, kemudian Dewi Shinta dalam aliran cerita Ramayana, dan Drupadi dalam Mahabarata agama Hindu, serta kemuliaan Putri Yasoda dalam ajaran agama Buddha, sehingga JPU tidak simpulkan hasil poligraf atau beberapa alat bukti yang tidak terkait dengan unsur tinggi delik, misal delik dalam pasal sebagaimana dakwaan JPU yang termuat dalam tuntutan terdakwa," imbuhnya.

Jaksa meyakini Putri terlibat dalam pembunuhan berencana Brigadir N Yosua Hutabarat. Sebab, Putri cukup berperan dalam kasus ini.

"JPU hanya berdasar fakta hukum yang tunjukan Putri Candrawathi adalah salah satu pelaku pembunuhan berencana, disusul terdakwa Putri Candrawathi tidak memahami atau pura-pura tidak paham apa pembunuhan berencana, akan tetapi terdakwa Putri Candrawathi melakukan karakter yang dipersalahkan dengan pembunuhan berencana yaitu menyampaikan cerita kepada Ferdy Sambo berupa cerita jika terdakwa dilecehkan dan kemudian berbuah menjadi cerita pemerkosaan," pungkas jaksa.

Putri sebelumnya dituntut 8 tahun penjara. Jaksa menyakini Putri terlibat pembunuhan berencana Yosua bersama Ferdy Sambo, Bharada Richard Eliezer, Bripka Ricky Rizal, dan Kuat Ma'ruf. (detikcom/d)



Sumber
: Koran SIB
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Kejari Palas Gelar Upacara Peringatan HUT IAD XXIV 2024
Ibu Negara Korsel Diperiksa Terkait Skandal Tas
Mantan Gubernur Malut Habiskan Rp3 Miliar untuk Ngamar Bareng Wanita
Meski Berstatus Tersangka, Polsek Medan Area Tidak Tahan RM dan DM
Sambut HUT IAD XXIV Kejari Palas Lomba Senam Kreasi "Tamang Pung Kisah"
Sambut HBA-IAD, Kejari Labuhanbatu Beri Makanan Tambahan Balita Stunting dan Khitanan Massal
komentar
beritaTerbaru