Jared Bantah Terlibat Jual-Beli Meteorit di Tapteng, Ngaku Hanya Cek Keaslian


87 view
Foto: BBC Magazine
Josua Hutagalung, penemu batu meteor asal Sumut
Jakarta (SIB)
Jared Collins buka suara soal kehebohan meteorit yang menimpa rumah Josua Hutagalung hingga akhirnya disebut terjual Rp 200 juta. Jared membantah ikut terlibat dalam jual-beli benda langit yang jatuh di Tapanuli Tengah (Tapteng) tersebut.

Dalam kasus tersebut, Jared disebut hanya dimintai tolong koleganya untuk memeriksa keaslian meteorit yang menimpa rumah Josua. Jared setuju membantu koleganya karena memiliki pengetahuan serta minat pada meteorit.

"Tujuan akhir dari keterlibatan Jared Collins sebagai penggemar meteorit adalah kesempatan sekali seumur hidup untuk secara pribadi menyaksikan dan secara fisik memeriksa meteorit yang penting secara ilmiah ini," demikian keterangan yang diterima dari pihak Jared, Jumat (20/11).

Jared yang tinggal di Bali disebut awalnya dihubungi kolega pada Sabtu (7/11) oleh koleganya di AS yang tertarik memiliki meteorit yang jatuh di Dusun Sutahan Barat, Desa Satahi Nauli, Kecamatan Kolang, Tapteng. Jared disebut tak terlibat dalam penentuan harga jual meteorid Josua.

Nilai transaksi telah disetujui Josua dan koleganya. Harga yang disepakati disebut adil dan diterima kedua belah pihak.

Josua mengaku meteorit dibeli Rp 200 juta. Sementara media asing menyebut benda langit tersebut punya potensi nilai jual tak kurang dari Rp 25 miliar. Namun angka-angka tersebut ditepis Jared.

"Mengklarifikasi berita yang saat ini beredar tentang perkiraan nilai pembelian batu meteorit tersebut, atau ganti rugi yang diberikan atas batu tersebut, dapat dipastikan bahwa angka yang disebutkan sama sekali tidak benar dan tidak tepat. Adapun keaslian, nilai sebenarnya adalah kerahasiaan kedua belah pihak, baik Joshua Hutagalung maupun warga Amerika yang tinggal di luar negeri, yang mengambil alih meteor tersebut, berdasarkan kesepakatan bersama," kata dia.

"Tetapi jumlah yang dibayarkan/diterima bukanlah Rp 200 juta atau harga yang terlalu dibesar-besarkan sejumlah Rp 25 miliar yang dilaporkan di seluruh dunia. Saat ini tidak ada meteorit dengan nilai seperti itu dan tentunya tidak ada kolektor yang akan membayar harga tersebut," tambahnya.

Jared lalu pergi menemui Josua ke Tapteng untuk mengecek keaslian meteorit tersebut. Dalam transaksi meteorit ini, Jared disebut tidak memiliki hubungan kecuali dengan Josua dan koleganya yang membeli benda langit tersebut.

"Jared Collins menerima penggantian untuk biaya perjalanan dan untuk waktunya yang dihabiskan untuk kepentingan membantu kolega ini. Dia tidak memiliki meteorit ini dan juga tidak menjual meteorit tersebut kepada pihak lain yang memiliki meteorit tersebut saat ini," ucapnya.

Cerita meteorit jatuh di Tapteng sempat bikin heboh. Josua mengaku meteorit jatuh dan menimpa rumahnya pada 1 Agustus lalu. Dia mengatakan meteorit tersebut telah terjual oleh warga negara asing (WNA).

"Batunya kemarin saya jual Rp 200 juta. Itu beratnya 1.800 gram. Itu saya jual ke orang Bali, atas nama Jared, bule tuh. Terus dia juga beli atap seng yang bolong Rp 14 juta. Jadi total Rp 214 juta," kata Josua saat dihubungi, Rabu (18/11).

Dia mengaku suara dentuman tersebut terdengar dari arah samping rumahnya. Saat dicek, atap rumahnya antara ruang tengah dan dapur sudah bolong.

Dia mengaku juga mendapati tanah di rumahnya sudah berlubang akibat meteorit tersebut. Batu tersebut masuk ke tanah sedalam sekitar 15 cm atau seukuran sejengkal orang dewasa. Tanah sekitar lubang itu, menurutnya, juga tampak mengering.

"Saya nggak lihat di langit. Saya nemu batunya saat sudah jatuh. Jatuh di samping rumah dekat fondasi," ujar Josua.

Batu tersebut ada di tangannya lebih dari 3 bulan. Dia mengatakan, selain di rumahnya, sebenarnya ada dua lokasi lain jatuhnya meteorit.

"Sebagai tambahan, tidak hanya di rumah saya. Tapi ada tiga titik di depan mata. Ada di persawahan dan di rumah warga di Dusun Perbatua," kata dia.

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin mengatakan secara umum, meteorit yang jatuh bisa dimiliki siapa saja yang menemukan.

"Meteorit adalah batuan antariksa yang biasa jatuh di suatu tempat di bumi. Secara umum, meteorit bisa dimiliki oleh setiap orang yang menemukannya," ujar Thomas kepada wartawan, Kamis (19/11).

Thomas menuturkan, Lapan bisa menindaklanjuti terkait benda asing apabila memiliki nilai ilmiah atau terkait keamanan. Dia menilai meteorit yang jatuh di Tapanuli Tengah itu jenis meteor biasa. (detikcom/f)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Harian SIB Edisi Cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com