Jangan Pilih Pemimpin Senang Duduk di Istana dengan AC Dingin

Jokowi: Hati-hati Memilih Pemimpin

Pemimpin Rakyat Itu Banyak Kerutan, Kalau Wajah Cling Hati-hati

325 view
Jokowi: Hati-hati Memilih Pemimpin
Foto: Ant/Aprillio Akbar
HADIRI : Presiden Joko Widodo menyapa relawan saat menghadiri acara Gerakan Nusantara Bersatu: Satu Komando Untuk Indonesia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (26/11). Gerakan Nusantara Bersatu dari berbagai elemen relawan Jokowi itu untuk menyelaraskan persepsi barisan satu komando di bawah arahan Presiden Joko Widodo.

Jakarta (SIB)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan para relawan memilih pemimpin dengan kehati-hatian.


Jokowi mengingatkan rakyat memilih pemimpin yang mau merasakan keringat rakyat, bukan yang hanya senang duduk di Istana Presiden yang ber-AC.


"Dalam mencari pemimpin ke depan, pemimpin seperti apa yang kita cari? Hati-hati, saya titip, hati-hati. Pilih memilih pemimpin hati-hati. Pilih pemimpin yang ngerti, yang ngerti apa yang dirasakan oleh rakyat. Nanti di 2024 pilih yang ngerti tentang apa yang dirasakan oleh rakyat, setuju?" ujar Jokowi kepada relawan di acara 'Nusantara Bersatu', Jakarta, Sabtu (26/11).


Saat Jokowi bicara, relawan yang hadir kompak mengatakan 'setuju'. Relawan juga riuh saat Jokowi mengatakan hal itu.


"Juga pilih pemimpin yang tahu, yang tahu apa yang diinginkan oleh rakyat, apa yang dibutuhkan oleh rakyat, setuju?" kata Jokowi.


SENANG DUDUK

Jokowi kemudian mengingatkan rakyat agar tidak salah pilih. Jokowi mengatakan pemimpin yang harus dipilih di Pilpres 2024 adalah orang yang merakyat.


"Jangan sampai, jangan sampai, jangan sampai, kita memilih pemimpin yang nanti hanya senang duduk di Istana yang AC-nya dingin. Jangan sampai, saya ulang, jangan sampai kita pilih pemimpin yang senang duduk di Istana, yang AC-nya sangat dingin," tegasnya.


"Ini negara besar, jangan hanya duduk manis di Istana Presiden, carilah, saya ingatkan, carilah pemimpin yang mau dan senang turun ke bawah," imbuh Jokowi.


Banyak Kerutan

Menurut Jokowi, seorang pemimpin terlihat dari bagaimana penampilan dan raut wajahnya.


"Perlu saya sampaikan. Perlu saya sampaikan, pemimpin, pemimpin yang mikirin rakyat itu kelihatan dari mukanya," kata Jokowi.


Menurut Jokowi, seorang pemimpin yang memikirkan rakyatnya akan terlihat dari wajah dan penampilannya.


Bukan hanya soal wajah, Jokowi juga menyinggung 'rambut putih', yang disebutnya sebagai pemimpin yang memikirkan rakyat.


"Itu kelihatan dari penampilannya, itu kelihatan banyak kerutan di wajahnya karena mikirin rakyat. Ada juga yang mikirin rakyat sampai rambutnya putih semua ada. Ada itu," kata Jokowi disambut riuh para relawan.


Jokowi meminta relawan berhati-hati memilih pemimpin yang berwajah 'cling'.


"Saya ulang. Jadi, pemimpin yang mikirin rakyat itu kelihatan dari penampilannya, dari kerutan di wajahnya. Kalau wajahnya cling, bersih, tidak ada kerutan di wajahnya, hati-hati. Lihat juga, lihat rambutnya, kalau putih semua, 'wah mikir rakyat ini'," bebernya.


Lanjut Jokowi, dalam mengelola sebuah negara besar seperti Indonesia, diperlukan pemimpin yang menyadari keberagaman bangsa Indonesia.


"Karena kita ini macam-macam, beragam, berbeda semuanya. Suku, kita memiliki 714 suku yang berbeda-beda. Bahasa daerah kita memiliki lebih dari 1.300 yang berbeda-beda. Agama juga kita berbeda-beda. Oleh karena itu, pemimpin itu harus menyadari keberagaman Indonesia," paparnya.


Pembangunan BERLANJUT

Dalam kesempatan itu, Jokowi berseru bahwa pembangunan yang selama ini dibangun pada masa kepemimpinannya harus dilanjutkan. Hal ini juga meliputi reputasi global.


"Oleh sebab itu, pembangunan yang sudah kita lakukan, reputasi global yang sudah kita raih, harus kita lanjutkan, setuju?" kata Jokowi.


"Setuju!" jawab para relawan.


Bahkan Jokowi mengulangi ucapan tersebut. Dia mengajak para relawan mendukung pembangunan ini hingga 2045.


"Saya ulangi, pembangunan yang sudah kita lakukan, reputasi global yang sudah kita peroleh, harus kita lanjutkan, setuju? Dilanjutkan sampai 2029, setuju? Dilanjutkan sampai 2045, setuju? Dilanjutkan sampai seterusnya, seterusnya, seterusnya," katanya.


Selanjutnya, Jokowi bertekad membawa Indonesia ke lima besar negara dengan ekonomi terkuat di dunia. Hal ini bisa dikerjakan bila semua pihak mau bekerja dengan keras.


"Kita ingin negara kita di 2045 menjadi lima besar ekonomi terkuat di dunia kalau kita konsisten bekerja keras, kalau kita berani memutuskan, dan tidak takut dengan negara mana pun," ujarnya.


"Saat kita menyetop ekspor bahan mentah nikel, kita dibawa ke WTO, baru dua bulan yang lalu kita kalah. Tapi keberanian kita menghilirasasi bahan-bahan mentah itulah yang akan kita terus lanjutkan meskipun kita kalah di WTO," sambungnya.


Lebih lanjut, Jokowi menargetkan GDP ekonomi Indonesia mencapai USD 7 triliun pada 2045. Hal ini, katanya, bisa mengubah Indonesia menjadi negara maju.


"Kita ingin GDP ekonomi kita bisa mencapai nantinya USD 7 triliun di 2045. Artinya, kita sudah menjadi negara maju. Tapi ini tidak mudah, butuh kerja keras, butuh kerja keras," katanya. (detikcom/f)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com