Hadiri KTT ke-11 ASEAN-PBB

Jokowi: Indonesia Kutuk Segala Bentuk Kekerasan

* Ajak PBB Perkuat Toleransi dan Cegah Ujaran Kebencian

351 view
Jokowi: Indonesia Kutuk Segala Bentuk Kekerasan
Foto: Lukas-Biro Pers
HADIRI: Presiden Jokowi memberikan pidato pada KTT ke-11 ASEAN-PBB secara virtual dari Istana Kepresidenan, Bogor, Jawa Barat, Minggu (15/11). 
Jakarta (SIB)
Tahun ini merupakan tahun yang sangat krusial bagi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang genap berusia 75 tahun. Untuk dapat menjawab berbagai tantangan global, PBB tidak punya pilihan lain kecuali melanjutkan agenda reformasi secara nyata.

Begitu pesan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat berpidato dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-11 ASEAN-PBB yang digelar secara virtual. Presiden Jokowi juga menyampaikan beberapa pandangan, antara lain agar PBB mengembalikan kepercayaan terhadap multilateralisme.

"Pertama, PBB harus mengembalikan kepercayaan terhadap multilateralisme. Kepercayaan akan tumbuh jika multilateralisme dapat memenuhi harapan masyarakat dunia, khususnya dalam melawan pandemi," kata Jokowi, yang menghadiri KTT ke-11 ASEAN-PBB dari Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Minggu (15/11), seperti dalam keterangan tertulis Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden.

Lebih lanjut, dalam jangka pendek, menurut Jokowi, PBB harus berperan memenuhi akses terhadap obat-obatan dan vaksin Covid-19. Sementara dalam jangka panjang, PBB dan ASEAN diminta dapat berkolaborasi memastikan kesiapsiagaan dalam menghadapi kemungkinan pandemi baru.

"Di kawasan Asia Tenggara, belajar dari pandemi ini, kita berusaha bangun sistem dan mekanisme kawasan seperti ASEAN Response Fund for Covid-19, ASEAN Regional Reserve of Medical Supplies, ASEAN Comprehensive Recovery Framework, ASEAN Framework on Public Health Emergencies, dan ASEAN Travel Corridor Arrangement Framework," ungkap Jokowi.

"Kami yakin perbaikan pada sistem kesehatan nasional dan regional dapat menjadi pondasi yang kuat bagi perbaikan tatanan kesehatan global," imbuhnya.

Jokowi juga mendorong PBB untuk menjaga kemajemukan dan toleransi. Di tengah pandemi saat ini, mantan Gubernur DKI Jakarta itu mengaku prihatin menyaksikan kembali intoleransi beragama dan kekerasan atas nama agama.

"Kalau ini dibiarkan, maka akan mencabik harmoni dan menyuburkan radikalisme dan ekstremisme. Ini tidak boleh terjadi," tegas Jokowi.

Jokowi menilai saat ini dunia membutuhkan persatuan, persaudaraan dan kerja sama untuk mengatasi Covid-19 dan tantangan global lainnya. Sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, sebut dia, Indonesia berpandangan bahwa kebebasan berekspresi tidak bersifat absolut, nilai, lambang, dan sensitivitas agama harus selalu dihormati.

"Di saat yang sama, Indonesia mengutuk segala bentuk kekerasan dengan alasan apapun. Terorisme tidak ada kaitannya dengan agama. Terorisme adalah terorisme," sebut eks Wali Kota Solo itu.

Di penghujung pidatonya, Presiden Jokowi mengajak Sekretaris Jenderal PBB untuk menggerakkan dunia agar terus bekerja sama memperkuat toleransi, mencegah ujaran kebencian, dan menolak kekerasan atas alasan apapun.

"Keberagaman, toleransi, dan solidaritas merupakan fondasi yang kokoh bagi dunia yang damai, aman, dan stabil," tandasnya.
Isu toleransi beragama itu diutarakan Jokowi ketika serangkaian teror dan serangan terjadi di Prancis, Arab Saudi, dan Belanda yang disebut terjadi akibat penerbitan kembali karikatur Nabi Muhammad oleh majalah satire Charlie Hebdo.

Majalah satire asal Prancis itu kembali menerbitkan karikatur Nabi Muhammad pada awal September lalu. Penerbitan itu dilakukan sehari sebelum persidangan 14 tersangka penembakan kantor Charlie Hebdo pada 2015 lalu yang dipicu oleh penerbitan karikatur serupa.

Akibat penerbitan ulang karikatur Nabi Muhammad, Prancis diguncang teror serangan dimulai pada 25 September lalu di mana seorang pria bersenjata pisau menusuk dua orang yang tengah merokok di depan gedung bekas kantor Charlie Hebdo di Paris. Tersangka merupakan pria 18 tahun asal Pakistan.

Pada 16 Oktober lalu, seorang guru sejarah tewas dipenggal karena membahas karikatur tersebut di kelasnya dengan dalih pelajaran tentang kebebasan berekspresi. Tersangka merupakan pria 18 tahun berasal dari Chechnya.

Ketegangan tersebut kian diperkeruh dengan pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang mendukung publikasi karikatur Nabi Muhammad. Menurutnya, publikasi itu merupakan bentuk kebebasan berekspresi dan berbicara.

Macron juga semakin menuai kritik dari dunia internasional, terutama negara mayoritas muslim setelah mengatakan bahwa Islam tengah berada dalam krisis.

Macron juga menghubungkan teroris dengan Islam dengan menyebutkan bahwa Prancis akan memerangi terorisme Islam pasca-pemenggalan guru sejarah. (detikcom/CNNI/d)
Penulis
: Redaksi
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com