Usai Mahfud Mundur

Jokowi: Kabinet Biasa-biasa Saja, Tak Ada Masalah

* Tito Karnavian Jadi Plt Menko Polhukam

215 view
Jokowi: Kabinet Biasa-biasa Saja, Tak Ada Masalah
Foto: Ant/Aprillio
KEMASI BARANG: Menko Polhukam Mahfud MD mengemas barang pribadinya pada hari terakhir kerja sebagai Menko Polhukam di Kantor Kemenko Polhukam, Jumat (2/2). Mahfud MD mengundurkan diri dari Menko Polhukam karena maju sebagai calon wakil presiden nomor urut 3 pada Pemilu 2024. 
Jakarta (SIB)
Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkap kondisi Kabinet Indonesia Maju (KIM) jelang Pemilu 2024. Jokowi memastikan kabinet tak ada masalah.
"Kabinet biasa-biasa saja. Biasa-biasa saja, nggak ada masalah. Yang kerja ya kerja, yang kunjungan ke daerah, kunjungan ke daerah, saya pun sama, saya rapat di Jakarta dan juga di daerah, ada undangan seperti pagi hari ini kongres ke-16 GP Ansor," ujar Jokowi di Pelabuhan Tanjung Priok, Jumat (2/2).
Jokowi merespons pihak yang mengaitkan mundurnya Mahfud Md dari jabatan Menko Polhukam dengan soliditas kabinet. Jokowi menyebut terjadi perbedaan pilihan politik itu hal biasa. Tentunya, tak perlu dibesar-besarkan.
"Biasa saja, bahwa ada perbedaan pilihan itu demokrasi, tidak perlu dibesar-besarkan," jelas Jokowi.
Tunjuk Tito
Sebelumnya, Jokowi menandatangani Keppres pemberhentian Mahfud Md sebagai Menko Polhukam.
"Pada hari ini, Jumat, 2 Februari 2024, Presiden telah menandatangani Keppres No 20/P Tahun 2024, yang berisi pemberhentian dengan hormat Bp. Mahfud Md sebagai Menko Polhukam," ujar Koordinator Staf Presiden Ari Dwipayana kepada wartawan.
Jokowi telah menentukan pengganti Mahfud. Ia adalah Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian.
Tito akan menjabat Plt Menko Polhukam sampai adanya Menko Polhukam definitif.
"Penunjukan Bapak Tito Karnavian sebagai Pelaksana Tugas, Wewenang, dan Tanggung Jawab Menko Polhukam Kabinet Indonesia Maju Periode Tahun 2019-2024 sampai adanya Menko Polhukam definitif," jelasnya.
Ari mengungkap alasan Jokowi menunjuk Tito .
"Pak Tito Karnavian kan termasuk di dalam jajaran Kemenko Polhukam, adalah salah satu menteri yang senior ya," jelas Ari Dwipayana.
Ari kemudian ditanya mengapa Jokowi tak menunjuk Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto sebagai Plt Menko Polhukam. Ari mengatakan Prabowo sudah mengemban banyak tugas.
"Pak Prabowo kan banyak tugas sekarang ini, termasuk sedang dicalonkan menjadi capres kan. Tentu beliau banyak kegiatan yang lain," kata Ari.
Tak Ada Cawe-cawe
Sementara itu, Mahfud menegaskan, seluruh staff Kemenko Polhukam netral.
"Kemenko Polhukam alhamdulillah netral, tidak ada cawe-cawe dalam urusan politik, ini pertahankan. Saudara harus independen," tegas Mahfud dalam sambutan terakhirnya sebagai Menko Polhukam di Kemenko Polhukam , Jumat (2/2).
Mahfud juga meminta kepada staffnya untuk tetap netral sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) pada tahun politik ini. Namun, kata Mahfud, staff Kemenko Polhukam boleh mendukung siapapun Capres dan Cawapres pilihannya di Pemilu 2024.
"Saya minta saudara netral, netral, netral," imbuhnya.
"Saudara nanti benar-benar ambil sikap politik, nanti saudara pilih sendiri, tapi kepada masyarakat netral. Kamu jangan milih ini, enggak usah ngomong. Saudara pilih sendiri saja nanti siapa. Siapa saja yang diyakini oleh Saudara. Jangan terbawa oleh arus karena kekuasaan itu bergilir, kekuasaan itu bergilir, pasti ada saatnya akan terjadi pergantian," sambungnya.
Meski demikian, Mahfud berpesan kepada para stafnya untuk tidak culas dalam bekerja. Sebab, katanya, hal itu dapat menimbulkan akibat buruk bagi siapapun yang bekerja culas.
"Tapi yang terpenting dari itu teruslah bekerja dengan penuh kejujuran tidak boleh culas tidak boleh culas (tepuk tangan)," ujarnya.
"Setiap keculasan itu pasti akan menimbulkan akibat buruk bagi siapapun hanya nunggu waktu, tidak ada sejarahnya orang hebat yang culas di dunia ini selamat," pungkasnya.
Mahfud kemudian bercerita ketika di zaman kepresidenan Soeharto pada 1968-1998. Ia mengatakan pada zaman itu semuanya tunduk kepada Soeharto. Namun, pada saat Soeharto mundur, orang di sekitarnya pergi menjauh.
"Dulu Pak Harto itu hebatnya sudah kayak setengah Tuhan. Dulu kalau Pak Harto berdehem, hmm, itu semua ikut berdehem, saking takutnya. Pak Harto saat krisis lombok lalu kampanye nanem lombok. Terus rapat kabinet disuguhi tempe disertai lombok (cabe), para menteri disuruh makan lombok, Pak Harto makan lomboknya pura-pura tapi menterinya makan lombok beneran sampai merah matanya. Begitu berkuasanya Pak Harto pada waktu itu," katanya.
"Nah, begitu Pak Harto jatuh, semua orang dekatnya pada lari sesudah beliau jatuh. Itulah hukum alam di mana-mana. Kecuali orang mau berhati-hati," imbuhnya.
Kemasi Barang
Sebelum pamit, Mahfud mengemasi barang-barang pribadinya.
Pantauan di Kemenko Polhukam, Mahfud tampak berkemas setelah jalan pagi bersama para stafnya. Dia terlihat merapikan beberapa buku serta dokumen pribadi yang akan dia bawa pulang.
Mahfud terlihat memasukkan barang-barang itu ke kardus coklat. Mahfud juga sempat menunjukkan ruang rapat tertutup.
Mahfud berpamitan kepada para staf Kemenko Polhukam. Dia mengatakan hari itu merupakan hari terakhirnya bekerja di Kemenko Polhukam sebagai Menko Polhukam.
"Hari ini mungkin hari terakhir kita olahraga bersama untuk saya sebagai Menko Polhukam. Suatu saat kita bisa bertemu Jumat lain. Mudah-mudahan," kata Mahfud.
Mahfud mengatakan dirinya sudah bekerja sebagai Menko Polhukam selama 4 tahun 3 bulan. Dia mengatakan dirinya mundur karena urusan politik.
"Hari saya tepatnya 4 tahun 3 bulan," ujar Mahfud.
"Karena secara resmi saya sudah mengadukan surat berhenti kepada presiden kemarin sore karena urusan politik," sambungnya.
Juga Berhenti
Mundur dari Menko Polhukam, Mahfud memberhentikan empat staf khusus yang diangkatnya.
"Dan mulai hari ini staf khusus saya akan saya pecat semua. Mulai hari ini saya pecat, karena ikut saya," kata Mahfud.
Mahfud mengatakan pengangkatan dan pemberhentian staf khusus merupakan kewenangan Menko. Dia mengatakan dirinya sudah meminta agar surat pemberhentian empat staf khususnya itu dibuat sebelum dirinya resmi mundur.
"Itu saya sudah minta agar dibuat surat pemberhentian karena ini mereka saya bawa untuk melekat ke saya sejak dulu dan pengangkatan itu memang menjadi wewenang sepenuhnya dari seorang Menko, tidak perlu izin kalau untuk memberhentikan itu," ucapnya.
Salah satu eks Staf Khusus Mahfud, Rizal Mustary, mengatakan total ada empat orang yang mundur termasuk dirinya.
"Kami berempat berhenti bersamaan dengan berhentinya Pak Menko," kata Rizal dalam keterangan tertulisnya.
Berikut empat orang yang mundur bersama Mahfud:
- Rizal Mustary selaku Staf Khusus Menko Bidang Komunikasi
- Budi Kuncoro selaku Staf Khusus Menko Bidang Kerjasama Lembaga,
- Imam Marsudi selaku Staf Khusus Menko Bidang Sosial Budaya
- Erwin Moeslimin yang merupakan Staf Khusus Menko Bidang Hukum dan Politik. (detikcom/c)
Penulis
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com