Peluncuran Indonesia Emas 2045

Jokowi: Pemimpin Harus Punya Nyali

* Kepemimpinan Tidak Boleh Maju Mundur, Poco-poco

249 view
Jokowi: Pemimpin Harus Punya Nyali
(Foto: BPMI Setpres/Kris)
LUNCURKAN: Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi (dari kiri) Seskab Pramono Anung, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Ketua MPR Bambang Soesatyo, dan Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa saat meluncurkan Indonesia Emas 2045 di Jakarta, Kamis (15/6). 
Jakarta (SIB)
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan tantangan yang dihadapi Indonesia untuk mencapai Indonesia Emas 2045. Jokowi menegaskan bahwa untuk mencapai cita-cita itu, Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang kuat dan pemimpin yang punya nyali.
Hal itu disampaikan Jokowi dalam peluncuran Indonesia Emas 2045 di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Kamis (15/6). Jokowi mengatakan, demi mencapai Indonesia Emas 2025, dibutuhkan pemimpin yang memiliki cara eksekusi yang cerdas dalam membuat keputusan.
"Untuk mencapai Indonesia Emas 2045, dibutuhkan, sangat dibutuhkan smart execution," kata Jokowi.
Tak hanya eksekusi yang cerdas, Indonesia juga membutuhkan kepemimpinan yang cerdas. Menurut Jokowi, hal ini harus didukung oleh kepemimpinan yang kuat.
"Dibutuhkan smart leadership oleh strong leadership," ungkapnya.
Pemimpin ini, kata Jokowi, juga harus berani dan pandai mencari solusi. Dia juga menegaskan bahwa pemimpin ini harus bernyali.
"Yang berani dan pandai mencari solusi. Dan yang punya nyali," ujarnya.
Kendati demikian, di forum tersebut Jokowi tidak berbicara tentang Pilpres. Menurutnya, Pilpres bisa dibahas dalam forum lain.
"Tapi, jangan bicara Pilpres di forum ini. Nanti di forum yang lain saja," kata Jokowi sambil tersenyum.
Tidak Maju Mundur
Jokowi bicara soal kepemimpinan yang berkelanjutan, kepemimpinan tak boleh maju mundur.
Jokowi awalnya mengibaratkan kepemimpinan dengan tongkat estafet, bukan meteran pom bensin. Dia mengatakan meteran pom bensin akan mulai dari nol lagi setiap ada kendaraan baru.
"Masa kayak meteran pom bensin? Mestinya kalau sudah dari TK, SD, SMP, kepemimpinan berikut masuk SMA, universitas, kepemimpinan berikut masuk ke S2, S3, mestinya seperti itu," ujar Jokowi .
Jokowi mengatakan kepemimpinan tidak boleh maju mundur dan bukan poco-poco.
"Tidak maju mundur, poco-poco, tidak," ujarnya.
Dia mengatakan, pembangunan harus Indonesia sentris dan pentingnya hilirisasi.
"Bagaimana mencapai ekosistem besarnya, ini yang tidak pernah. Perlu kerja betul, perlu dicek terus di lapangan, itu pun bisa meleset. Apalagi tidak. Perkebunan, hasil perkebunan jangan diekspor mentahan saja," ujarnya.
Jokowi menerangkan soal pentingnya keberlanjutan dan kesinambungan dalam kepemimpinan suatu negara. Dia mengibaratkan kemajuan negara seperti tingkat pendidikan.
Dia mengibaratkan lagi kepemimpinan seperti tongkat estafet.
Dia menegaskan kembali soal pentingnya keberlanjutan dan kesinambungan. Jangan sampai, imbuhnya, level kemajuan yang sudah dicapai diulang lagi tetapi lebih mundur dari yang sudah ada.
Istilah Absurd
Jokowi juga meminta agar istilah absurd seperti pengembangan dan penguatan ditiadakan. Ia meminta agar saat ini rencana pemerintah harus dibuat to the point dan langsung eksekusi.
"Apalagi karena kita berhadapan dengan kompetisi dengan negara negara lain, nggak bisa lagi kita kaya dulu-dulu memakai istilah-istilah yang absurd, pengembangan, apa itu pengembangan, penguatan, apa itu penguatan, pemberdayaan," kata Jokowi sambil menggelengkan kepalanya dalam sambutannya.
Jokowi meminta agar saat ini harus disampaikan rencana dengan jelas dan dapat langsung dieksekusi. Hal itu agar cita-cita bonus demografi yang akan dialami Indonesia tahun 2045 tercapai.
"Harus to the point apa nya, harus taktis apanya, untuk membawa kapal besar Indonesia menggapai cita-cita Indonesia emas 2045," katanya.
"Jadi rencana taktis, visi taktis, strategi besar, tetapi strategi yang taktis kemudian berani mengeksekusinya," sambung Jokowi.
Sebelumnya, Jokowi menyoroti terkait adanya sejumlah negara yang pernah mengalami bonus demografi tetapi justru mengalami pengangguran karena tidak dapat memanfaatkan situasi tersebut. Oleh karena itu, Jokowi meminta pemerintah bekerja keras untuk mewujudkan Indonesia Emas 2024.
"Di sebuah negara di Afrika di 2015 juga mendapatkan bonus demografi, tapi dalam 7 tahun justru yang terjadi pengangguran melonjak, menjadi 33,6%. Saya tidak usah sebut negaranya mana, tapi saya yakin bapak ibu dan saudara saudara tahu. Dan kita tidak ingin terjadi seperti itu. Oleh sebab itu kita harus bekerja keras sekali lagi kita harus bekerja keras memanfaatkan peluang ini," kata Jokowi.
"Kita harus punya perencanaan taktis, bukan perencanaan tapi perencanaan taktis, visinya juga visi taktis, punya strategi juga strategi taktis karena kita berkompetensi dengan negara lain. Punya strategi besar tapi juga strategi taktis," katanya.
Sebab Jokowi menyebut dia sudah mendapat hitungan dari sejumlah pihak terkait potensi Indonesia menjadi negara besar perekonomiannya.
"Sekali lagi untuk membawa kapal besar bangsa Indonesia menggapai cita-cita Indonesia emas 2045 menjadi lima besar ekonomi dunia. Peluangnya ada, itung-itungaannya saya sudah dengar semuanya, dari Bappenas saya sudah dengar kalkulasinya dari MCKinsey sudah dengar itungannya dari IMF itungannya, world bank juga sudah dengar itungannya hampir mirip-mirip tapi tantangannya itu juga tidak mudah," katanya.
Harus Dilanjutkan
Jokowi menyampaikan visi dan misi untuk mencapai Indonesia Emas 2045. Salah satunya tentang pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.
Jokowi awalnya mengatakan setengah penduduk Indonesia berada di Pulau Jawa. Sementara Jakarta, kata Jokowi, menjadi kota terpadat karena segalanya terpusat.
"Kedua, IKN Nusantara, Ibu Kota Nusantara, banyak yang bertanya saya, 'Itu apa sih, Pak?' Perlu saya sampaikan, 56 persen penduduk Indonesia itu ada di Jawa, dan yang terpadat itu di Jakarta. Berarti 149 juta dari 17.000 pulau, itu 149 juta jiwa ada di Pulau Jawa, itu perlu pemerataan," kata Jokowi.
"GDP ekonomi kita itu 58 persen itu juga ada di Jawa. Yang 17.000 pulau lainnya diberi bagian apa? Beban Jakarta itu sudah sangat terlalu padat sekali, sebagai kota pendidikan, sebagai kota pariwisata, sebagai kota bisnis, sebagai kota ekonomi, sebagai kota pemerintahan," imbuh dia.
Jokowi juga kondisi kemacetan lalu lintas terjadi di banyak wilayah di Ibu Kota Jakarta. "Macet semua kita sekarang ini di mana-mana," ucap dia.
Selanjutnya, Jokowi meminta untuk dilakukan pemerataan. Dia meminta untuk hilirisasi IKN dilanjutkan serta ditingkatkan.
"Oleh sebab itu beban harus dikurangi, pemerataan harus dilakukan, tidak dalam jangka setahun, tiga tahun, empat, lima tahun, tapi kita harus melihat visi yang jauh ke depan," ujarnya.
"Oleh sebab itu, hilirisasi IKN Nusantara harus diperkuat, harus dilanjutkan, harus ditingkatkan," sambungnya.
Kena Gusur
Jokowi juga bercerita soal rumahnya di Solo pernah kena gusur pada tahun 1970.
Jokowi mengatakan dirinya membayangkan apa yang terjadi di Indonesia pada tahun 2045 dalam perjalanan dari Istana menuju Djakarta Theater. Dia menyebut Djakarta Theater merupakan gedung paling megah di Jakarta pada tahun 1970.
"Tadi dalam perjalanan saya dari Istana ke tempat ini, saya membayangkan akan jadi apa, akan menjadi seperti apa Indonesia ini, di 100 tahun kemerdekaannya, yaitu di tahun 2045. Kemudian saya mem-flashback gedung ini, Djakarta Theather, di sekitar tahun 1970-an ini adalah tempat yang paling megah di Jakarta, saat itu, tahun 1970," kata Jokowi .
Jokowi menyebut dirinya masih tinggal di bantaran sungai di Solo pada 1970-an ketika Djakarta Theater sudah berdiri. Bahkan, kata Jokowi, rumahnya juga kena gusur.
"Dan tahun itu 1970-an saya belum menginjakkan kaki saya di Jakarta, 1970 belum pernah ke Jakarta saya, masih di Solo, masih di bantaran sungai rumah saya, habis kena gusur, ya benar, tahun 1970 dan masih deso banget," katanya.
Setelah 50 tahun berlalu sejak rumahnya digusur, Jokowi mengatakan dirinya menjadi Presiden. Jokowi mengingatkan perubahan signifikan bisa terjadi dalam 50 tahun asal seseorang memiliki keberanian dan berusaha keras melakukan lompatan.
"Tapi di tahun 2023 ini saya berdiri di sini, sebagai Presiden Republik Indonesia. Artinya apa, dalam 50 tahun perubahan signifikan sangat bisa terjadi," katanya.
"Jika kita berani, jika kita mau dan jika punya nyali, jika kita punya nyali, bertekad berusaha keras kerja keras untuk berani melakukan lompatan, inilah yang kita perlukan," sambungnya.(detikcom/c)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com