Setelah Mengetahui Perubahan Anjuran WHO 

Jokowi: Siapkan Masker dan Berikan kepada Masyarakat

Pemko Padang Berlakukan Denda 2 Masker

338 view
Presiden Joko Widodo
Jakarta (SIB)
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kini menganjurkan semua warga memakai masker jika harus keluar dari rumah. Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta masker untuk warga disiapkan.

“Kemudian karena terakhir saya melihat, membaca bahwa WHO menganjurkan agar semuanya memakai masker, saya minta juga penyiapan masker ini sekarang ini betul-betul disiapkan dan diberikan kepada masyarakat,” kata Jokowi saat membuka rapat terbatas, Senin (6/4).

Jokowi mengatakan, WHO awalnya menyarankan penggunaan masker hanya untuk mereka yang sakit. Namun, kata Jokowi, kini semua orang diharuskan memakai masker untuk pencegahan penularan virus Corona.

“Kita ingin setiap warga yang harus keluar rumah itu wajib memakai masker karena di awal WHO menyampaikan yang pakai masker itu hanya yang sakit yang sehat nggak tapi sekarang nggak, semua yang keluar rumah harus pakai masker,” ujar dia.

MASKER KAIN
Pemerintah pusat meminta agar masyarakat biasa menggunakan masker kain dan tidak menggunakan masker medis. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengatakan masker kain masih efektif untuk mencegah penularan virus Corona (Covid-19).

“Efektifitas memang lebih rendah dari masker medis, tapi untuk perlindungan masyarakat umum, itu bermakna dan sudah dibuktikan di negara lain yang secara masal menggunakan masker,” ucap Humas IDI Halik Malik, Minggu (5/4) malam.

Masker kain bisa menahan percikan air liur atau droplet. Sehingga, akan menghambat proses penularan virus corona.

“Itu akan menghambat droplet, yang berpotensi menular kepada orang lain di sekitarnya. Itu istilah percikan ludah, itu kan ketika orang bicara, bernafas, batuk, bersin, ada itu sebetulnya ada droplet ikut bersamaan,” kata Malik.

Menurut Malik, imbauan pemerintah bukan tanpa alasan. Namun, mengingat kondisi masker medis yang saat ini langka di pasaran.

“(Masker kain) akses lebih mudah diperoleh. Karena lebih mudah diproduksi dan dibagikan. Kemudian bisa cuci ulang dengan mudah. Pertimbangan ke dua, saat ini masker medis alami kelangkaan sehingga perlu diprioritaskan kepada petugas medis yang secara langsung tangani pasien,” ucap Malik.

Sebelumnya, pemerintah mengkampanyekan agar masyarakat menjalani rekomendasi WHO untuk memakai masker saat bepergian atau ke luar rumah. Pemerintah meminta masyarakat menggunakan masker kain.

“Mulai hari ini, sesuai dengan rekomendasi dari WHO, kita jalankan masker untuk semua. Semua harus menggunakan masker. Masker bedah, masker N95 hanya untuk petugas kesehatan. Gunakan masker kain, ini menjadi penting,” ujar juru bicara pemerintah untuk penanganan Corona, Achmad Yurianto, dalam konferensi pers yang disiarkan di YouTube BNPB.

MINTA PERCEPAT
Presiden Jokowi juga meminta pemeriksaan virus Covid-19 di laboratorium untuk dipercepat. Dengan dipercepat, Jokowi berharap masyarakat yang terinfeksi akan bisa segera terdeteksi.

“Kecepatan pemeriksaan di laboratorium agar didorong lagi, lebih ditekan lagi, agar lebih cepat dan kita harapkan dengan kecepatan itu kita bisa mengetahui siapa yang positif, siapa negatif,” kata Jokowi.

Selain pemeriksaan laboratorium, Jokowi juga meminta agar tes PCR dipercepat. Pelaksanaan rapid test, kata dia, juga harus diprioritaskan bagi orang-orang berisiko tinggi.

“Mengenai kecepatan, saya betul-betul minta agar tes PCR, pelaksanaan rapid test ini diberikan prioritas untuk orang-orang beresiko tinggi, baik untuk dokter dan keluarganya, untuk yang PDP, untuk yang ODP,” ujarnya.

Lebih lanjut, Jokowi juga meminta Gugus Tugas Covid-19 untuk mempercepat pengadaan distribusi alat kesehatan di rumah sakit. Dia meminta distribusi APD di daerah untuk lebih diawasi.

“Kemudian kecepatan mengenai pengadaan distribusi APD alat-alat kesehatan di RS itu juga menjadi perhatian. Kita sudah mendistribusikan misalnya di provinsi, di daerah, tapi dari daerah itu juga diawasi apa betul sudah didistribusikan ke rumah sakit,” pungkas Jokowi.

DIDENDA
Namun berbeda hal nya dengan seruan presiden, Pemerintah Kota (Pemkot) Padang yang ikut mewajibkan penggunaan masker bagi setiap warga yang keluar rumah, malah akan mendenda orang yang tidak memakai masker dengan dua buah masker.

Sanksi ini tercantum dalam Instruksi Wali Kota Padang bernomor 870.176/BPBD-Pdg/IV/2020. Sanksi dua masker itu diperuntukkan satu bagi pelanggar, sementara satu masker lagi akan diserahkan kepada warga yang belum punya masker.

“Kita sudah terbitkan instruksi. Mulai 6 April 2020 ini, seluruh masyarakat ketika beraktivitas atau berada di luar rumah untuk kepentingan mendesak, seperti membeli bahan pangan dan berobat, wajib menggunakan masker,” kata Wali Kota Padang Mahyeldi Ansyarullah kepada wartawan, Senin.

“Bagi yang keluar rumah tanpa mengenakan masker akan didenda. Dua masker. Satu untuk yang bersangkutan, satu lagi diserahkan kepada warga yang belum punya,” tambah dia.

Mahyeldi mengatakan Instruksi Wali Kota Padang ini dibuat semata-mata dimaksudkan untuk mencegah penularan Covid-19.
Masyarakat yang berasal dari luar daerah yang akan memasuki Kota Padang juga diharuskan untuk memakai masker dan menjaga jarak aman selama berada di kendaraan.

“Masyarakat diminta memakai masker yang terbuat dari kain, minimal dua lapis dan dapat dicuci. Hal ini untuk menghindari kelangkaan masker yang banyak digunakan oleh tenaga medis,” tambah Mahyeldi.

PERASAAN GEMBIRA
Sementara itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengatakan perasaan gembira dapat mempengaruhi tingkat imunitas seseorang dalam melawan virus Corona. Bila seseorang merasa stres dan sedih, imunitas dapat turun dan penyakit semakin parah. Untuk itu, jangan stres.

“Kalau orang itu sedih, orang itu stres, ketakutan imunitasnya akan turun. Kalau imunitasnya akan turun, penyakitnya akan parah nantinya,” ujar Achmad Yurianto, dalam konferensi pers di BNPB, Senin (6/4).

Yuri mengatakan, secara ilmu hal ini telah dibuktikan, yakni perasaan tertekan dapat mempengaruhi perbaikan imunitas seseorang.
“Dan ini memang secara ilmu sudah diketahui bahwa perasaan gembira perasaan tidak tertekan, perasaan tidak stres itu sangat mempengaruhi perbaikan pada status imunitas seseorang,” tuturnya.

Oleh sebab itu, Yuri menuturkan, tempat isolasi mandiri bagi masyarakat dalam mencegah Covid-19 perlu diperhatikan. Isolasi dilakukan di tempat yang sudah disediakan oleh pemerintah atau masyarakat dapat memperhatikan fasilitas agar tidak menimbulkan stres.

“Karena itu, terkait lokasi lebih baik dipilih bagaimana sebaiknya, bagaimana mereka bisa bergembira, ada fasilitas olahraga bersama. Harus senang, happy,” tuturnya.

Achmad menjelaskan, isolasi diri di rumah bukan dimaknai dengan mengasingkan diri dari anggota keluarga tapi hanya menjaga jarak kontak fisik, kata Yuri.

“Karena saya katakan tadi isolasi ini untuk menjaga adanya kontak fisik dekat, kita tahu penyakit ini kan menularnya droplet, percikan ludah kecil yang keluar dari orang sakit pada saat dia batuk, bersin dan bicara itu bisa menjangkau jarak 1,5 meter,” ujarnya.

“Artinya kalau tidak ingin terpapar ini mestinya lebih dari 1,5 meter, lebih gampang 2 meter. Oleh karena itu kalau kemudian misalnya saya merasa harus mengisolasi diri, saya bisa berada di tengah keluarga saya tapi harus menjaga kontak fisik, tidak boleh kurang 2 meter dengan semua anggota keluarga di situ,” sambung Yuri.

Kemudian, Yuri juga menyarankan agar orang yang bergejala itu selalu menggunakan masker di rumah. Hal itu harus dilakukan agar menghambat percikan ludah.

“Kedua saya harus pakai masker terus, jadi itu yang mutlak, bukan berarti saya tidak boleh ketemu dengan saudara saya, orang tua saya, tidak boleh bicara dengan ayah saya, kontak sosial ada tapi jaraknya yang diatur,” kata Yuri. (detikcom/d)


Penulis
: redaksisib
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com