Jokowi Kesal RI Jadi “Tukang Gali”

* Punya Kekayaan Besar Tapi Bisa Memberi Musibah

152 view
Jokowi Kesal RI Jadi “Tukang Gali”
Foto: BPMI Setpres/Kris
PENGARAHAN: Presiden Joko Widodo memberikan pengarahan kepada Peserta Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XXIII dan Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LXII Tahun 2021 Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Rabu (13/10).
Jakarta (SIB)
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut Indonesia selama ini hanya menjadi tukang gali saja. Hal itu berkaitan dengan tambang yang selama ini diekspor hanya dalam bentuk bahan mentah (raw material), meski punya sumber daya atau harta karun yang berlimpah.

Karena itu, menurutnya sangat penting saat ini dilakukan hilirisasi. Jika Indonesia masih terjebak dalam ekspor bahan mentah, maka tidak akan bisa mendapatkan nilai tambah.

"Tidak bisa lagi kita ekspor raw material, yang tidak memiliki nilai tambah. Kita dapat uang dari situ iya, kita dapat income dari situ ya, tapi nilai tambahnya itu yang kita inginkan," ucapnya saat memberikan pengarahan kepada peserta PPSA XXIII 2021 LNKRI di Istana Negara, kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (13/10).

Jokowi melanjutkan, tambang-tambang yang berada di Indonesia merupakan anugerah yang besar. Seharusnya Indonesia memiliki manfaat lebih besar lagi ketimbang hanya berkutat pada eksploitasi saja, tanpa bisa melakukan hilirisasi.

"Artinya apa? Kalau tambang ya kita jangan jadi tukang gali saja, anugerah yang diberikan Allah ke kita betul-betul luar biasa besarnya. Tapi kalau hanya tukang gali kita kirim keluar, mereka buat smelter di sana, kemudian dibuat barang setengah jadi atau jadi, kembali ke sini, kita beli. Inilah yang sedikit demi sedikit harus kita hilangkan," ucapnya.

Tidak hanya di sektor pertambangan, Jokowi ingin semangat hilirisasi juga diterapkan di sektor lain. Dia mencontohkan seperti industri perikanan dan furniture.

"Nggak boleh lagi kita jadi tukang tangkap ikan, harus ada industri pengolahannya di sini atau pada saat kita mendapatkan booming kayu, hanya tebang-tebang tidak ada industri perkayuan dan tidak ada industri permebelan sehingga industri kita kehilangan kesempatan itu," tegasnya.

"Sekali lagi kita harus menghasilkan produk dengan nilai tambah tinggi yang mengkombinasikan antara pemanfaatan kekayaan alam dengan kearifan teknologi yang melestarikan," tambah Jokowi.

Untuk merealisasikan hal itu, Jokowi ingin BUMN maupun swasta ikut berkontribusi. Bahkan menurutnya kalau perlu dipaksa.

"Kita setop ekspor bahan mentah. Kita paksa entah BUMN entah swasta kita atau investor untuk mendirikan industrinya di dalam negeri," katanya.

BISA MUSIBAH
Ibarat pisau bermata dua, Jokowi menyebut, kekayaan yang dimiliki Indonesia bisa memberikan manfaat besar, tapi juga bisa memberikan musibah.

"Memang kita tahu kekayaan sumber daya alam itu adalah anugerah tetapi jika tidak dikelola dengan baik juga bisa menjadi sebuah musibah dan pelestarian dan keberlanjutan alam harus diseimbangkan antara kepentingan ekonomi dan kepentingan-kepentingan lainnya," ucapnya.

Dia mencontohkan, Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki sumber daya ikan yang berlimpah. Namun jika terus diambil tanpa memikirkan keberlanjutannya, maka lama kelamaan ikan-ikan di perairan Indonesia akan habis.

"Penangkapan ikan harus dilakukan untuk kesejahteraan rakyat tetapi juga harus terukur dan juga dijamin keberlanjutannya tidak hanya diambil, diambili terus tapi habis karena tidak terukur karena tidak terkalkulasi," terangnya.

Begitu juga di sektor pertambangan. Menurutnya penambangan sumber daya alam juga harus dilakukan secara terukur, dikendalikan dan dijamin pengelolaannya pasca penambangan.

"Industri kehutanan, perkebunan juga bisa kita lakukan tapi dilakukan dengan menjamin keberlanjutan dan menjaga kekayaan hayati kita," tambahnya.

MOBIL LISTRIK
Pada bagian lain, Presiden Jokowi memamerkan perkembangan produksi rantai mobil listrik di Indonesia. Bahkan dia menyebut bahwa tidak lama lagi mobil listrik akan bermunculan di Indonesia.

"Dan nanti bapak ibu bisa lihat 2 atau 3 tahun lagi yang namanya mobil listrik akan mulai bermunculan dari negara kita," ucapnya.

Jokowi menjelaskan, berkembangnya produksi mobil listrik di dalam negeri merupakan bukti hilirisasi hasil tambang yang dilakukan. Indonesia memiliki cukup banyak cadangan nikel yang menjadi bahan baku baterai mobil listrik.

Selain itu pemerintah juga berupaya mengintegrasikan Krakatau Steel sebagai BUMN penghasil baja dengan para produsen baterai lithium sebagai industri turunan nikel, serta industri otomotif.

"Karena sekarang Krakatau Steel dengan pembaharuan yang ada pabrik hot strip mill, bisa memproduksi lembaran-lembaran tipis untuk body mobil. Dulu hanya untuk sasisnya, sekarang sudah bisa untuk body mobil baru saya resmikan bulan lalu," tutupnya. (detikfinance/f)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com