* Bobby Nasution: Banyak Proyek yang Sedang Berjalan dan Belum Tuntas

Jokowi Sentil Wali Kota Medan, Rp1,8 T APBD Tersimpan di Bank

* Realisasi APBD Terendah di Madina

286 view
Jokowi Sentil Wali Kota Medan, Rp1,8 T APBD Tersimpan di Bank
Foto Dok
Presiden Joko Widodo
Medan (SIB)
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyentil menantunya yang juga Wali Kota Medan, Bobby Nasution, soal realisasi APBD.

Jokowi menyoroti triliunan rupiah APBD Kota Medan yang masih tersimpan di bank. Jokowi meminta Bobby Nasution segera merealisasikannya.

Jokowi awalnya berbicara soal pertumbuhan ekonomi di Sumut di angka 4,94 persen. Setelah itu, Jokowi berbicara soal angka inflasi Sumut yang di atas nasional.

"Di Sumut hati-hati, pertumbuhan ekonomi di 4,95, berarti di bawah nasional, nasional 7,30. Inflasi sudah di atas nasional. Kita 1,5, inflasi di sini 2,1 persen. Hati-hati dengan inflasi. Artinya, ada barang-barang yang akan naik harganya di Sumatera Utara," kata Jokowi di rumah dinas Gubsu, Medan, Kamis (16/9).

Jokowi mengingatkan angka pertumbuhan ekonomi di Sumut bisa turun jika Covid-19 tidak dapat dikendalikan. Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi ini, kata Jokowi, yang harus dilakukan adalah realisasi APBD.

"Realisasi APBD di Sumut 55,2 persen. Yang paling rendah di Mandailing Natal, 28 persen, hati-hati," ucapnya.

Jokowi kemudian berbicara soal APBD yang masih tersimpan di bank. Jokowi menegur Wali Kota Medan Bobby Nasution karena APBD yang tersimpan di bank mencapai Rp 1,8 triliun.

"APBD (Sumut) di bank Rp 1,3 triliun, yang terbesar Medan, sudah dicek. Yang bagus APBD realisasi investasi (Sumut) Rp 4,1 triliun dan PMDN 9,9. Cek betul angka-angka ini. Saya dapat data dari Menteri Keuangan, nggak akan meleset. Segera lakukan realisasi, serapan anggaran secepatnya, sehingga memudahkan ekonomi di daerah," jelas Jokowi.

"Jangan seperti tahun-tahun normal. Ini adalah dua tahun ini, tahun 2020 dan 2021 tahun, yang tidak normal," terangnya.

Sebagai informasi, daerah dengan jumlah ABPD tersimpan di bank paling tinggi adalah Medan dengan Rp 1,8 triliun, Deli Serdang Rp 637 miliar, Tapanuli Utara Rp 603 miliar. Dilanjutkan Labuhanbatu Rp 503 miliar, Nias Rp 466 miliar, dan Toba Rp 417 miliar.

Ketimpangan
Dalam kesempatan itu, Jokowi juga menyoroti adanya ketimpangan angka vaksinasi di daerah-daerah di Sumatera Utara (Sumut). Jokowi meminta agar ketimpangan ini segera diperbaiki.

Jokowi awalnya berbicara soal vaksinasi lansia di Sumut yang baru mencapai 24 persen. Jokowi mengatakan hal ini sudah cukup bagus daripada daerah lain.

"Masuk ke vaksinasi, di Sumut secara umum 26 persen, lansia meskipun 24 persen saya anggap sudah lumayan karena yang lain masih ada yang 15," ujarnya.

Jokowi kemudian berpesan untuk berhati-hati karena adanya ketimpangan vaksinasi di daerah-daerah di Sumut. Jokowi menyebut ada daerah yang sudah 82 persen warganya divaksinasi, tapi ada daerah lain yang hanya 7 persen.

"Kemudian hati-hati, Panglima TNI sudah menyampaikan ada gap ada kota kota tertentu dengan kabupaten kota yang ada, yang angkanya sangat jauh, 82 persen sampai 7 persen," ucapnya.

Dari data yang dipaparkan Jokowi, daerah di Sumut yang vaksinasi nya mencapai 82 persen yaitu Kabupaten Pakpak Bharat. Sementara untuk daerah yang vaksinasi warganya masih 7 persen adalah Kabupaten Nias Selatan.

Jokowi menyebut tingkat vaksinasi yang tinggi di suatu daerah merupakan hal baik. Namun, tidak boleh ada ketimpangan yang sangat jauh antardaerah.

"Hati-hati. Karena kita ini tidak bisa sendiri, misalnya Pematangsiantar, paling baik 100 persen. Tapi kanan-kirinya masih 14 persen, nggak ada artinya," ujarnya lagi.

lagi berjalan
Bobby pun memberi penjelasan mengapa Rp 1,6 triliun duit APBD Medan masih di bank.

"Sebenarnya yang itu Rp 1,6 triliun karena memang yang saya lihat di situ datanya beda-beda sedikit saja. Namun, kalau ditanya kenapa, apakah serapannya kurang atau seperti apa. Ini kegiatannya lagi berjalan," kata Bobby di Kantor Wali Kota Medan, Jumat (17/9).

Bobby mengatakan, banyak proyek yang sedang berjalan dan belum tuntas. Dia mengatakan hal itu menjadi penyebab pihaknya belum bisa melakukan pembayaran sehingga uang masih berada di bank.

"Memang banyak kegiatan yang sudah berjalan tapi belum selesai. Kegiatannya sudah berjalan tapi belum selesai. Jadi kalau belum selesai belum bisa pembayaran. Jadi ketika nanti sudah selesai baru ada pembayaran," sebut Bobby.

Bobby menegaskan, uang Rp 1,6 triliun itu berada di bank bukan karena sengaja ditahan. Dia menyebut uang itu bakal digunakan untuk membayar pekerjaan saat proyek tuntas.

"Dari Rp 1,6 triliun itu, berapa persen yang proyeknya sudah berjalan tapi belum dibayarkan, ada yang proyeknya memang belum berjalan. Ini yang lagi kita petakan tentunya uang yang ada di sini, selalu saya sampaikan juga untuk menggerakkan ekonomi. Arahan Pak Presiden juga untuk menggerakkan ekonomi peran APBD itu sangat penting di tengah pandemi ini. Ini sebisa mungkin kita gunakan untuk menggerakkan ekonomi di daerah," ucap Bobby. (detikcom/a)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com