* Ahli WHO: Covid Varian Delta Berpotensi Lebih Mematikan

Jokowi Tetap Pilih PPKM Mikro Tekan Lonjakan Covid-19

* India Deteksi Kemunculan Varian Baru Corona Delta Plus

259 view
Jokowi Tetap Pilih PPKM Mikro Tekan Lonjakan Covid-19
Foto: AP
TES SWAB: Seorang petugas kesehatan India melakukan tes swab Covid-19 kepada warga Desa Burha Mayong, Assam, India. Pemerintah India mendeteksi kemunculan jenis baru virus Corona yakni varian Delta plus yang dinilai semakin mengkhawatirkan.
Jakarta (SIB)
Presiden Joko Widodo (Jokowi) memutuskan tetap menerapkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berskala mikro di Indonesia di tengah melonjaknya kasus Corona di Tanah Air. Jokowi juga meminta setiap kepala daerah menegakkan PPKM mikro.

"Saya minta kepada gubernur, bupati, dan wali kota untuk meneguhkan komitmennya mempertajam penerapan PPKM mikro," ujar Jokowi melalui YouTube Sekretariat Presiden, Rabu (23/6).

Jokowi meyakini jika PPKM mikro diimplementasikan dengan tindakan di lapangan dengan baik, kasus Corona bisa terkendali. Persoalannya, kata Jokowi, yakni PPKM Mikro belum diterapkan secara sporadis di sejumlah tempat.

"Optimalkan posko-posko Covid-19 yang yang telah terbentuk di masing-masing wilayah desa atau kelurahan. Fungsi utama posko adalah mendorong perubahan perilaku masyarakat agar disiplin 3M memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan kedisiplinan 3M ini menjadi kunci dan menguatkan pelaksanaan 3T, testing, tracing, treatment, hingga ke tingkat desa," jelas Jokowi.

Jokowi mewanti-wanti masyarakat untuk berdisiplin menerapkan protokol kesehatan. Menurutnya, virus Corona tidak mengenal agama ataupun ras.

"Penyakit ini tidak mengenal ras maupun diskriminasi setiap orang, tidak peduli apa asal-usulnya, status ekonominya, agamanya, maupun suku bangsanya," tutur Jokowi.

Paling Tepat
Jokowi mengaku telah menerima banyak masukan dari berbagai pihak. Masukan tersebut dari pemberlakuan lockdown hingga PSBB.

Menurut Jokowi, PPKM mikro masih menjadi pilihan yang tepat untuk menangani penyebaran Covid-19 di Indonesia. PPKM mikro dipilih dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi, sosial, dan politik di Indonesia.

"Pemerintah telah mempelajari berbagai opsi penanganan Covid-19 dengan memperhitungkan kondisi ekonomi, kondisi sosial, kondisi politik di negara kita Indonesia dan juga pengalaman-pengalaman dari negara lain dan pemerintah telah memutuskan PPKM mikro masih menjadi kebijakan yang paling tepat untuk menghentikan laju penularan Covid-19 hingga ke tingkat desa atau langsung ke akar masalah, yaitu komunitas," pungkas Jokowi.

Lebih Mematikan
Sementara itu, seorang ahli sekaligus pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Mike Ryan, mengatakan bahwa Covid-19 varian Delta berpotensi lebih mematikan, terutama jika menginfeksi kelompok rentan. "Varian Delta berpotensi lebih mematikan karena lebih efisien dalam penularannya antara manusia dan tentunya akan menyerang individu rentan yang akan menjadi sangat sakit, harus dibawa ke rumah sakit, dan berpotensi meninggal," ujar Ryan.

Direktur Eksekutif Program Kesehatan Darurat WHO itu pun mengatakan bahwa para pejabat publik dapat membantu kaum rentan tersebut dengan memberikan donasi atau mendistribusikan vaksin Covid-19 dengan baik. "Kita dapat melindungi kaum rentan, para pekerja medis yang bekerja di garis depan," ucap Ryan seperti dikutip CNBC, Senin (21/6).

Ryan melontarkan seruan ini beberapa hari setelah Kepala Ilmuwan WHO, Soumya Swaminathan, mengatakan bahwa varian Delta akan mendominasi kasus Covid-19 dunia. Menurutnya, varian Delta akan mendominasi karena sifatnya yang lebih cepat menular ketimbang varian-varian lainnya.

Swaminathan menyinggung bahwa berdasarkan riset terbaru, Delta diperkirakan 60 persen lebih menular ketimbang Alpha, varian Covid-19 yang pertama kali ditemukan di Inggris. Alpha itu sendiri saja sudah lebih menular ketimbang varian asli yang pertama kali ditemukan di Wuhan, China, pada 2019.

Menurut data WHO, saat ini varian Delta sudah menyebar ke lebih dari 90 negara. Di sebagian negara, varian Delta sudah mendominasi kasus Covid-19, termasuk Inggris. Di Inggris, 90 persen lebih kasus aktif Corona merupakan varian Delta. Inggris pun mengalami lonjakan penularan yang signifikan.

Sementara itu, di Amerika Serikat, sejumlah pakar kesehatan juga mulai mengkhawatirkan varian yang pertama kali teridentifikasi di India itu. "(Varian Delta) ini adalah yang paling menular dari semua varian yang pernah kami lihat," kata Peter Hotez, dekan fakultas kedokteran Baylor College of Medicine, Texas, kepada CNN, Senin (21/6). Di Asia Tenggara, sejumlah negara juga mulai khawatir terhadap peningkatan penularan Covid-19 varian Delta. Indonesia sudah melaporkan 160 kasus Covid-19 varian Delta yang tersebar di sembilan provinsi.

Varian Baru
Sementara itu, pemerintah India mendeteksi kemunculan jenis baru virus Corona yakni varian Delta plus yang dinilai semakin mengkhawatirkan. Varian Delta plus merupakan varian baru virus corona mutasi dari varian Delta atau B1.617.2 yang pertama kali ditemukan di India. Sejauh ini, India mendeteksi setidaknya hampir dua lusin kasus varian Delta plus pada tiga negara bagian.

Menteri Kesehatan Rajesh Bhushnan menuturkan sebanyak 16 kasus terdeteksi di Maharashtra. Ia tidak menjelaskan dua negara bagian lainnya yang telah terpapar varian baru Corona ini. Bhushnan mengatakan varian Delta plus lebih mudah menular sehingga menyarankan pemerintah negara bagian segera meningkatkan pengujian.

India masih dilanda gelombang kedua virus Corona yang lebih ganas sejak Maret lalu. Meski jumlah kasus harian India terus menurun, ahli medis dan kedokteran mengimbau pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi mempercepat program vaksinasi warga akibat kemunculan varian baru Corona yang lebih cepat menular. Pada Selasa (22/6), India mencatat 42.640 kasus Corona baru dengan 1.167 kematian dalam 24 jam. Jumlah itu yang terendah sejak 23 Maret lalu.

Sejauh ini, India mencatat total 29,98 juta kasus Corona dengan 389.302 kematian. Sampai saat ini pula, India telah memvaksinasi sekira 50,6 juta warganya atau 3,7 persen dari total 1,3 miliar penduduk.

Pada awal pekan ini, India mencetak rekor dengan berhasil memvaksinasi 8,6 juta warga dalam sehari. Namun, ahli medis meragukan tingkat vaksinasi per hari itu bisa dipertahankan secara konsisten ke depannya.

"Ini jelas tidak berkelanjutan. Dengan percepatan vaksinasi dalam sehari seperti itu, banyak negara bagian yang telah menggunakan sebagian besar stok vaksin mereka saat ini, yang akan mempengaruhi vaksinasi dalam beberapa hari ke depan," kata pakar kebijakan publik dan sistem kesehatan, Chandrakant Lahariya, kepada Reuters. Lahariya menuturkan dengan pasokan vaksin saat ini, India mampu melakukan vaksinasi 4-5 juta dosis dalam sehari. (detikcom/CNBC/Rtr/CNNI/c)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com