Jurnalis Asing Ditahan dan Dipukuli Polisi saat Liput Demo Tuntut Xi Mundur


221 view
Jurnalis Asing Ditahan dan Dipukuli Polisi saat Liput Demo Tuntut Xi Mundur
(Foto: AFP)
TANGKAP DEMONSTRAN: Polisi China menangkap paksa seorang pria dari lokasi aksi demo di pusat kota Shanghai, Minggu (27/11) malam waktu setempat. Polisi China dilaporkan menahan sejumlah wartawan asing hingga memukuli salah satunya saat meliput demonstrasi di Shanghai yang menuntut Presiden Xi Jinping mundur dan mencabut aturan lockdown Covid-19 ketat.

Shanghai (SIB)

Polisi China dilaporkan menahan sejumlah wartawan asing hingga memukuli salah satunya saat meliput demonstrasi di Shanghai yang menuntut Presiden Xi Jinping mundur dan mencabut aturan lockdown Covid-19 ketat, pada Minggu (27/11).


BBC melaporkan salah satu wartawannya di China ditahan dan dipukuli saat dalam penahanan oleh polisi ketika meliput demonstrasi. Namun, wartawan tersebut telah dibebaskan beberapa jam setelah penahanan.


"BBC betul-betul menyayangkan tindakan terhadap jurnalis kami, Ed Lawrence, yang ditangkap dan diborgol saat meliput protes di Shanghai," kata juru bicara BBC dalam pernyataan resminya pada Senin (28/11).


Pernyataan itu kemudian berlanjut, "Dia ditahan beberapa jam sebelum dibebaskan. Selama ditangkap, dia dipukuli dan ditendang polisi.


Ini terjadi saat dia bekerja sebagai jurnalis terakreditasi." BBC juga menyatakan polisi China tidak memberi keterangan lebih rinci atau permintaan maaf soal penangkapan terhadap jurnalisnya.


Later kemudian merilis pernyataan resmi di media sosial. Jurnalis itu juga mengatakan salah satu warga lokal ditangkap usai berusaha mencegah polisi memukul dirinya.


Sebelumnya, beredar gambar di sosial media seorang jurnalis, yang kemudian diidentifikasi sebagai Lawrence, ditangkap polisi berseragam.


Lawrence sempat mencuit soal demo di Shanghai pada Minggu pagi. "Saya ada di lokasi protes anti Covid-nol semalam yang luar biasa di Shanghai. Banyak orang berkumpul di sini dengan damai. Banyak polisi," tulis dia.


Tidak hanya wartawan BBC, Asosiasi wartawan asing di China, Foreign Correspondents Club of China, juga mengungkapkan kekhawatiran serupa.


"Kami sangat terganggu dengan perlakukan otoritas kepada para jurnalis yang meliput demonstrasi terbaru di Beijing dan Shanghai," bunyi pernyataan asosiasi tersebut.


Menanggapi penangkapan dan pemukulan terhadap jurnalis asing itu, Kementerian Luar Negeri China mengaku menangkap Lawrence karena dirinya tidak mengidentifikasi diri sebagai wartawan.


"Berdasarkan apa yang kita pelajari dari pihak berwenang Shanghai, dia tak mengidentifikasi dirinya sebagai jurnalis dan tak secara sukarela menunjukkan kredensial persnya," kata juru bicara Kemlu China, Zhao Lijian, seperti dikutip AFP, Senin (28/11).


Lebih lanjut, Zhao mengimbau kepada seluruh media internasional untuk mengikuti hukum dan peraturan negara itu saat berada di China.


Presiden Xi Jinping terus mendapat tekanan setelah demonstrasi memprotes pemerintah semakin sering terjadi di China belakangan ini.


Baru-baru ini, demonstrasi yang terjadi di sejumlah kota seperti Urumqi, Beijing, hingga Shanghai bahkan terang-terangan menuntut Xi dan Partai Komunis mundur.


Sejumlah warga di Shanghai menggelar demo menolak lockdown dan menuntut Xi mundur pada Minggu (27/11) waktu setempat.


Aksi ini berujung ricuh karena polisi terlibat bentrok dengan massa.


Pada Minggu malam, beberapa orang dilaporkan ditahan. Pihak berwenang juga sempat menutup jalan usai demo rusuh. Namun, saat pagi hari, mereka membuka kembali.


Akan Longgarkan Lockdown

Sementara itu, China mengumumkan bakal melonggarkan lockdown Covid-19 di Urumqi setelah kebakaran di kawasan Xinjiang itu memicu demonstrasi besar di Negeri Tirai Bambu.


Dalam konferensi pers pada Sabtu (26/11), sejumlah pejabat pemerintahan setempat mengatakan bahwa mereka akan melonggarkan lockdown secara bertahap di daerah-daerah berisiko rendah.


Kepala propaganda lockdown Urumqi, Sui Rong, menjabarkan bahwa para warga di daerah-daerah risiko rendah akan diperbolehkan meninggalkan gedung tempat tinggal mereka di waktu-waktu tertentu.


Sebagaimana diberitakan CNN, Senin (28/11) Sui mengatakan bahwa Urumqi sudah "berhasil mengurangi kasus Covid di masyarakat" berkat lockdown yang diterapkan.


Meski demikian, mereka masih tidak diperbolehkan meninggalkan kompleks besar tempat tinggal hingga semua bangunan di kawasan itu masuk kategori risiko rendah.


Sui juga tidak menjabarkan lebih lanjut waktu pasti pelonggaran lockdown itu bakal berlaku.


Lockdown ketat ini sedang menjadi sorotan luas karena disebut-sebut menjadi penyebab 10 orang tewas dalam kebakaran di salah satu apartemen di Urumqi.


Para warga menganggap kesepuluh orang itu tewas karena tim pemadam kebakaran terlambat tiba di lokasi lantaran aturan lockdown yang terlalu ketat.


Sehari setelah kebakaran itu, Jumat (25/11), ratusan warga menggelar aksi protes di depan kantor pemerintahan Urumqi.


Berdasarkan video-video yang sudah diverifikasi AFP, warga berkumpul menumpahkan amarah dengan meneriakkan slogan, "Cabut lockdown!" Video-video itu pun viral di jejaring sosial China, meski pemerintah Negeri Tirai Bambu sudah menerapkan sensor ketat.


Amarah warga pun menjalar ke beberapa kota lain di China, termasuk Shanghai hingga Beijing.


Di sana, mereka tak hanya meneriakkan seruan pencabutan lockdown, tapi juga menuntut Presiden Xi Jinping mundur. (AFP/detiknews/CNNI/f)





Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com