KPK Tetapkan Eks Direktur PTPN XI Tersangka Korupsi Mesin Giling Tebu


179 view
KPK Tetapkan Eks Direktur PTPN XI Tersangka Korupsi Mesin Giling Tebu
(Azhar/detikcom)
KPK Tetapkan Eks Direktur PTPN XI Jadi Tersangka Kasus Mesin Giling Tebu 
Jakarta (SIB)
KPK telah menetapkan Direktur PTPN XI 2015-2016 Budi Adi Prabowo (BAP) dan Direktur PT Wahyu Daya Mandiri Arif Hendrawan (AH) sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan dan pemasangan six roll mill atau mesin penggilingan tebu. KPK menduga perkara tersebut merugikan negara Rp 15 miliar.

"Adapun dugaan kerugian negara yang ditimbulkan dalam proyek pengadaan ini sejumlah sekitar Rp 15 miliar dari nilai kontrak Rp 79 miliar," kata Wakil Ketua KPK Alexander Marwata dalam konferensi pers, Kamis (25/11).

Alex menyebut, Budi Adi juga menerima satu unit mobil dari Arif Hendrawan terkait perkara. Perusahaan milik Arif Hendrawan juga diduga menerima pembayaran lebih yang disetujui oleh Budi Adi.

"Diduga pula, saat proses lelang masih berlangsung, ada pemberian satu unit mobil oleh tersangka AH kepada tersangka BAP. Terkait proses pembayaran diduga ada kelebihan nilai pembayaran yang diterima oleh PT WDM yang disetujui oleh Tersangka BAP," kata Alex.

Alex mengatakan Budi Adi mengenal baik Arif Hendrawan dan sudah melakukan pertemuan beberapa kali pada 2015. Dari pertemuan itu, disepakati bahwa Arif Hendrawan akan menjadi pelaksana pemasangan mesin giling di PG Djatiroto, walaupun lelang belum dimulai.

Lalu Arif Hendrawan dan Budi Adi serta stafnya di PTPN XI sempat melakukan studi banding di pabrik gula di Thailand. Kunjungan tersebut diduga dibiayai oleh Arif Hendrawan.

"Disertai dengan adanya pemberian sejumlah uang kepada rombongan yang ikut, termasuk salah satunya Tersangka BAP," ujarnya.

Selanjutnya, Budi Adi memerintahkan stafnya untuk menyiapkan pelelangan yang nantinya akan dimenangi oleh perusahaan Arif Hendrawan. Arif Hendrawan juga diduga menyiapkan perusahaan lain yang seolah-olah ikut sebagai peserta lelang.

"Selain itu, Tersangka AH juga aktif dalam proses penyusunan spesifikasi teknis harga barang yang dijadikan sebagai acuan awal dalam penentuan HPS (harga perkiraan sendiri) senilai Rp 78 miliar, termasuk data-data kelengkapan untuk lelang pengadaan 1 lot six roll mill di PG Djatiroto," jelasnya.

Adapun nilai kontrak yang telah disusun atas dasar kesepakatan kedua tersangka senilai Rp 78 miliar. Persyaratan lelang juga diduga diatur untuk memenangkan perusahaan milik Arif Hendrawan.

"Di antaranya terkait waktu penyerahan barang yang dimajukan tanggalnya pada saat aanwijzing karena PT WDM sudah lebih dulu menyiapkan komponen barangnya," ujarnya.

Alex mengatakan KPK telah memeriksa 85 saksi sebelumnya atas penyidikan perkara ini. Kedua tersangka tersebut akan ditahan selama 20 hari ke depan hingga 14 Desember 2021.

"Dengan telah diperiksanya sekitar 85 saksi dan agar proses pemberkasan penyidikan dapat segera rampung, tim penyidik melakukan upaya paksa penahanan pada para tersangka untuk 20 hari pertama, terhitung mulai 25 November 2021 hingga 14 Desember 2021," kata Alex.

Budi Adi ditahan di Rutan KPK gedung Merah Putih, sedangkan Arif Hendrawan ditahan di Rutan KPK Pomdam Jaya Guntur.

"Agar tetap mengantisipasi penyebaran COVID-19 di lingkungan Rutan KPK, para tersangka akan dilakukan isolasi mandiri selama 14 hari pada rutan dimaksud," ujarnya.

Atas perbuatannya, tersangka BAP dan tersangka AH disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1) dan/atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. (detikcom/c)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com