Kaji Vonis Mati Koruptor, Ternyata Jaksa Agung Nunggak Eksekusi 274 Terpidana


235 view
Kaji Vonis Mati Koruptor, Ternyata Jaksa Agung Nunggak Eksekusi 274 Terpidana
Edi Wahyono/detikcom
Ilustrasi hukuman mati.
Jakarta (SIB)
Jaksa Agung Prof ST Burhanuddin mewacanakan dan mengkaji hukuman mati ke koruptor. Namun, di sisi lain, Jaksa Agung saat ini masih menunggak eksekusi ratusan terpidana mati yang kini menunggu di balik penjara.

Sebagaimana dicatat, Minggu (7/11), hukuman mati terakhir dilakukan terhadap empat terpidana mati pada Jumat, 29 Juli 2016, dini hari. Mereka adalah Freddy Budiman, Michael Titus Igweh (Nigeria), Humprey Ejike (Nigeria), dan Gajetan Acena Seck Osmane (Afrika Selatan). Setelah itu, eksekusi mati tidak ada lagi.

Hingga akhir 2019, ada 274 terpidana yang telah dijatuhi hukuman mati tapi belum dieksekusi Jaksa Agung. Ke-274 terpidana mati itu berasal dari berbagai kasus, yakni 68 pembunuhan, 90 narkotika, 8 perampokan, 1 terorisme, 1 pencurian, 1 kesusilaan, dan 105 pidana lainnya.

Sejumlah nama beken di dunia hitam masih bisa menghirup udara bebas di dalam penjara. Seperti Meirika Franola yang direkrut oleh WN Pantai Gading, Mouza Sulaiman Domala, untuk terjun dalam bisnis gelap narkoba pada penghujung 1990-an. Ola lalu merekrut saudaranya untuk berbisnis heroin, yaitu Rani dan Deni.

Dalam perjalanannya, mereka diendus aparat dan digerebek pada tahun 2000. Suami Ola mati tertembus timah panas dalam penggerebekan. Rani dan Deni ditangkap di Bandara Soekarno-Hatta saat akan membawa 15 kg heroin ke Inggris. Deni sudah duduk di pesawat beberapa saat sebelum pesawat lepas landas. Sedangkan Ola ditangkap di lobi bandara usai mengantar Rani dan Deni.

Atas perbuatan mereka, ketiganya dihukum mati. Tapi apa daya, hukuman mati Deni dan Ola dianulir oleh Presiden SBY pada 2012 menjadi penjara seumur hidup. Adapun status Rani tetap, yaitu terpidana mati.

Namun Ola bukannya tobat malah kembali mengedarkan narkoba dari balik penjara. Akhirnya ia dihukum mati lagi oleh MA pada Desember 2015.

Bagaimana dengan Rani? Ia telah dieksekusi mati terlebih dahulu pada Januari 2015.

Nah, jumlah di atas terus bertambah. Sebab pada 2020 saja, sedikitnya ada 75 orang yang dijatuhi hukuman mati di berbagai wilayah di Indonesia.

Gara-gara jaksa tidak kunjung melakukan eksekusi mati, banyak terpidana mati itu kembali mengedarkan narkoba dari balik lapas. Salah satunya M Nasir (33), yang kembali mengedarkan sabu dari balik jeruji besi. Atas perbuatannya, M Nasir akhirnya divonis nihil karena sudah mengantongi hukuman mati.

Setelah bertahun-tahun tidak melaksanakan eksekusi mati, ST Burhanuddin tiba-tiba malah mewacanakan hukuman mati ke koruptor. Alasannya menyoroti kerugian keuangan negara dalam kasus megakorupsi PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AsabriI) dan kasus Jiwasraya yang nilainya fantastis mencapai triliunan rupiah. Berangkat dari situ, Burhanuddin menyebut akan mengkaji penerapan hukuman mati bagi para koruptor.

"Bapak Jaksa Agung sedang mengkaji kemungkinan penerapan hukuman mati guna memberikan rasa keadilan dalam penuntutan perkara dimaksud, tentunya penerapannya harus tetap memperhatikan Hukum Positif yang berlaku serta nilai-nilai hak asasi manusia," kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Leonard Eben Ezer Simanjuntak dalam keterangan pers tertulis, Kamis (28/10). (detikcom/c)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com