Blak-blakan Jenderal Listyo Sigit Prabowo

Kapolri: Kalau Bisa Melumpuhkan, Kenapa Harus Mematikan


309 view
Kapolri: Kalau Bisa Melumpuhkan, Kenapa Harus Mematikan
Internet
Jenderal Listyo Sigit Prabowo

Jakarta (SIB)

Jenderal Listyo Sigit Prabowo selama ini memang dikenal sebagai pribadi yang kalem, cenderung pendiam. Dia irit bicara, dan tersenyum seperlunya saja. Semuanya seperti serba terukur, terkendali. Maklum, dia adalah pemegang sabuk Dan Satu bela diri Judo. Bela diri asal Jepang ini mengandalkan teknik bantingan.

Salah satu filosofi dari olah raga ini adalah bagaimana berani bangkit dan bangun kembali setelah jatuh atau dijatuhkan. "Dari situ kan kita belajar untuk lebih baik lagi agar tidak mudah jatuh," kata Listyo Sigit kepada tim Blak-blakan detikcom, Rabu (3/3).

Saat ditanya apakah dirinya pernah 'jatuh' dalam menjalani karir selama di kepolisian? Dengan diplomatis lelaki kelahiran Ambon, 5 Mei 1969 itu menyatakan setiap orang dalam mengemban tugas pasti tidak semuanya berjalan lancar, ada hambatan, ada teguran dari atasan. Hal semacam itu, kata dia, bagian dari ujian atau melatih kesabaran kita.

"Pasti semua orang pernah mengalaminya. Tinggal apakah mau menjadikannya sebagai pelajaran untuk lebih baik, atau menjadi batu sandungan yang membuat kita berhenti di tempat," papar Listyo Sigit.

Filosofi lain yang diajarkan dalam Judo, dia melanjutkan, adalah bagaimana harus bersikap dan bertindak secara terukur. "Kalau bisa melumpuhkan, kenapa harus mematikan. Di Judo seperti itu. Walaupun kita juga diajarkan untuk mematikan tapi kalau melumpuhkan cukup, kenapa harus mematikan," tegasnya.

Sebelum menekuni Judo, dia pernah belajar silat, karate, dan kungfu. Pemicunya antara lain cerita-cerita silat seperti dalam komik Kopingho yang biasa dibacanya sebagai selingan. Tapi Listyo Sigit menekankan, berlatih bela diri tersebut bukan untuk gagah-gagahan tapi sekedar agar dapat membela diri, keluarga, dan teman-temannya. "Ya, minimal kan harus membela diri sendiri," ujarnya.

Selain bicara soal olah raga kegemaran dan filosofi hidupnya, dalam wawancara khusus sekitar satu jam itu, Listyo Sigit memaparkan tekadnya menjadikan polisi ke depan lebih humanis, professional, dan memahami rasa keadilan yang diinginkan masyarakat. Dia juga bertekad mengikis budaya transaksional dalam melayani pengaduan masyarakat.

Jangan Ada Lagi

Kepada setiap anggota Polri, dia meminta agar peka terhadap rasa keadilan di masyarakat.

"Untuk dapat memahami, ya anggota harus turun ke lapangan karena tugas kita melakukan pelayanan di dalam pemeliharaan kamtibmas dan penegakan hukum," jelas Jenderal Listyo Sigit.

Untuk merealisasi program tersebut, pada akhir Februari lalu dia meluncurkan aplikasi E-Dumas (Pengaduan Masyarakat) atau Dumas Presisi. Lewat aplikasi online ini, masyarakat luas dapat menyampaikan keluhan ataupun pengaduan terhadap sikap dan perilaku aparat yang dinilai menyimpang di lapangan.

Karena itu, aplikasi ini terhubung dengan fungsi-fungsi pengawasan di internal kepolisian, seperti Inspektorat Pengawasan Umum, Profesi dan Pengamanan Mabes Polri, serta pengawasan eksternal.

Aplikasi ini diharapkan bisa memudahkan masyarakat yang melapor kepada polisi sehingga lebih efektif dan efisien. Masyarakat juga bisa ikut memantau perkembangan atau respons atas laporan yang mereka sampaikan tanpa harus bolak-balik ke kantor polisi. Juga tanpa rasa takut.

"Prinsipnya, setiap anggota Polri harus cepat dalam bertindak melayani dan tidak transaksional. Jangan sampai gara-gara laporan hilang ayam, eh setelah lapor malah kambingnya juga ikut hilang. Itu yang saya harapkan ke depan tidak terjadi lagi dengan mekanisme pengawasan," papar Listyo Sigit, yang sebelumnya menjabat Kepala Bareskrim Mabes Polri.

Dia menekankan kepada anggotanya untuk betul-betul bisa memberikan pelayanan yang baik, dan ikhlas menjadi budaya yang akan membawa institusi jadi lebih baik.

Secara khusus, juga menyoroti penegakan hukum di sektor lalu lintas. Dia menyadari betul hal ini menjadi isu yang paling sering disorot masyarakat. Agar tidak terjadi transaksi dan penyimpangan lain dalam penegakan aturan di jalan raya, penerapan tilang elektronik menjadi salah satu solusi yang akan digencarkan ke daerah-daerah.

Selain itu, untuk proses uji teori dalam pembuatan Surat Izin Mengemudi di berbagai tingkatan akan diupayakan dilakukan secara online. Dengan cara ini, warga yang terlibat tidak perlu membuang waktu, tenaga, dan biaya untuk bolak-balik ke tempat pembuatan SIM.

Selain memaparkan kembali konsep Presisi yang menjadi visi dan misinya sebagai Kapolri, untuk pertama kalinya Listyo Sigit mengungkapkan latar belakang keluarga dan alasannya menjadi polisi. Juga kegemaran membaca komik silat Kopingho saat remaja dan pernah menekuni bela diri kungfu. (detikcom/f)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com