Kasus Baru Covid-19 di Sumut 40, Meninggal 1 Orang

* 1.500 Pengungsi Rohingya Belum Divaksin

110 view
Kasus Baru Covid-19 di Sumut 40, Meninggal 1 Orang
Foto: Dok/Kemenkes
Penyebaran kasus baru Covid-19 di Indonesia
Medan (SIB)
Kasus baru Covid-19 di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) tanggal 15 Oktober 2021, sebanyak 40 orang, angka kesembuhan 80 orang, meninggal 1 orang. Angka itu angka kesembuhan 101.902 orang, meninggal 2.869 orang. Jumlah ini diperoleh jurnalis harianSIB.com melalui laporan media harian Covid-19 Kemenkes RI, Jumat (15/10).

Dengan demikian, Sumut peringkat tujuh sebagai daerah penyumbang kasus baru Covid-19 di Indonesia. Peringkat pertama diraih DKI Jakarta sebanyak 124 orang disusul Jawa Tengah peringkat dua sebanyak 86 orang.

Kemudian Jawa Barat di peringkat tiga sebanyak 85 orang, Jawa Timur peringkat keempat sebanyak 81 orang, Bali peringkat kelima sebanyak 42 orang, Kalimantan Barat peringkat keenam sebanyak 42 orang, Sumut peringkat ketujuh sebanyak 40 orang.

Pengungsi
Terpisah, sebanyak 1.500 pengungsi Rohingya yang tersebar di Kota Medan hingga kini belum mendapatkan vaksinasi. Padahal mereka juga termasuk orang yang rentan terpapar virus Covid-19 mengingat mobilitas mereka cukup tinggi.

Ini terungkap saat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Cabang Sumatera Utara (IAKMI Sumut) mendata untuk melakukan vaksin, Minggu, (17/10) di Tapian Daya Medan, yang fokus pada masyarakat rentan yaitu Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), lansia, penduduk miskin perkotaan, disabilitas dan para pengungsi.

Ketua IAKMI Sumut Destanul Aulia SKM MBA MEc PhD mengatakan pihaknya memiliki kendala tidak bisa membantu para pengungsi untuk divaksinasi dikarenakan tidak bisa didaftarkan di aplikasi PCare yang membutuhkan Nomor Induk Kependudukan (NIK), sementara mereka (pengungsi-red) tidak memilikinya.

"Untuk itu kami meminta kepada Pemko Medan untuk bisa memiliki kebijakan khusus untuk para pengungsi yang kita perkirakan ada 1.500. Mereka ini sudah ada di Kota Medan cukup lama. Ada dua tahun sampai lima tahun. Mereka ini bahkan dikatakan memiliki mobilitas yang tinggi, ini bisa dilihat di sekitar Padangbulan. Jadi ini kita anggap kelompok rentan," kata Destanul Aulia kepada jurnalis harianSIB.com, Jumat (15/10).

Namun, sayangnya setelah pihaknya mencoba membantu namun diaplikasi P-Care yang ada di Puskesmas, pengungsi tersebut ditolak karena harus ada NIK. "Sementara mereka tidak punya. Jadi IAKMI memertanyakan hal ini, bagaimana nasib mereka atas vaksinasi ini," ujarnya.

Pihaknya juga sudah melakukan kunjungan Disdukcapil, ternyata memang NIK itu tidak bisa dibuatkan, sehingga sampai saat ini belum ada solusinya.

Padahal diakuinya para pengungsi sangat antusias untuk mendapatkan vaksin dan sudah mendaftarkan 1.000 orang ke IAKMI Kota Medan dan Sumut untuk ikut vaksin massal di tanggal 17 itu. Namun, karena tidak ada kepastian bagaimana memasukkan mereka dalam sistem, artinya tidak ada petunjuk teknis.

"Sistem aplikasi kita memiliki kelemahan untuk mengkover para pengungsi. Tapi kita berkomunikasi di beberapa daerah ternyata di Bekasi, Riau mereka (pengungsi) bisa divaksin dengan sistem yang ada. Tapi di Medan belum ada petunjuk dan payung hukum yang pasti untuk kelompok rentan masyarakat pengungsi ini. Sehingga belum ada yang di vaksin. Kalaupun ada hanya 32 orang itu pun mereka mengikuti vaksin sektor swasta.

"Jadi kami meminta adanya kebijakan Pemko Medan memberikan hak yang sama karena ini adalah hak kesehatan ini juga faktor untuk mencapai Kota Medan menjadi level 1," tutupnya. (SS6/d)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com