Kasus Covid-19 Sumut 26.406, Sembuh 23.040 dan Meninggal 891 Orang

* Mutasi B117 Lebih Mematikan Dibanding Varian Virus Corona Lain

301 view
Kasus Covid-19 Sumut 26.406, Sembuh 23.040 dan Meninggal 891 Orang
Foto Dok/Leo Bukit
dr Aris Yudhariansyah MM

Medan (SIB)

Jumlah kasus Covid-19 di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) kembali bertambah. Namun, data yang diterima, Jumat, (19/3) kasus baru kembali menurun menjadi 85 orang, sehari sebelumnya 87 orang.

Angka kesembuhan bertambah menjadi 98 orang, sehari sebelumnya 86 orang. Angka meninggal sudah mencapai 891 orang setelah bertambah 2 orang dari Medan, sehari sebelumnya total yang meninggal 889 orang.

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Sumut dr Aris Yudhariansyah MM mengatakan total kasus virus corona mencapai 26.406 orang, sehari sebelumnya 26.321 orang.

Angka kesembuhan 23.040 orang, sehari sebelumnya 22.942 orang. "Kasus baru didapatkan dari 5 kabupaten/kota, angka kesembuhan dari 2 kabupaten/kota," kata Aris Yudhariansyah via seluler, Jumat (19/3).

Jumlah terbanyak kasus baru didapatkan dari Kota Medan 54 orang, Deliserdang 23 orang, Tapanuli Utara 4 orang, Karo dan Batubara masing-masing 2 orang.

Angka kesembuhan terbanyak dari Medan 97 orang dan Batubara 1 orang. Angka suspek kembali bertambah 11 orang, sehingga totalnya 746 orang, sehari sebelumnya 735 orang.

Mantan Kepala Dinas Kesehatan Asahan ini juga menyampaikan kasus Covid-19 di Medan mencapai 13.748 orang setelah bertambah 54 orang, sehari sebelumnya 13.694 orang.

Angka kesembuhan 12.041 orang setelah bertambah 97 orang, sehari sebelumnya 11.944 orang, kasus meninggal menjadi 421 orang setelah bertambah 2 orang, sehari sebelumnya 419 orang.

Di lokasi terpisah dilaporkan, 280 pasien Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang dirawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Prof Dr M Ildrem, Jalan Tali Air, Medan Tuntungan, belum ditemukan terpapar Covid-19. Meskipun sebelumnya diketahui di rumah sakit jiwa satu-satunya di Sumut itu terdapat tenaga kesehatan (nakes) yang terkonfirmasi Covid-19.

"Belum ada pasien yang terpapar, namun untuk memberikan kekebalan imun pada pasien agar terhindar dari paparan Covid-19, kita ada rencana akan melakukan vaksinasi namun saat ini kita masih fokus melakukan vaksin terhadap tenaga kesehatan (nakes) juga lansia di sana," kata Direktur Utama RSJ Prof Dr M Ildrem melalui Wakil Direktur Pelayanan, dr Lisni Elysah SpKK Finsdv.

Dikatakannya, saat ini pihaknya juga rutin melakukan seminggu 2 kali rapid antigen buat orang-orang yang terpapar di lingkungan rumah sakit jiwa ini. "Kita memang tidak menemukan karena sudah dilakukan tracing dan screening sehingga tidak ada yang terpapar sampai saat ini," ujarnya.

Terkait stigma bahwa ODGJ kebal Covid-19 ia langsung membantah. "Gak ada ODGJ kebal Covid-19, tidak ditemukan karena kurang diperhatikan saja. Selain itu, ODGJ ini imunnya kuat karena mereka tidak memikirkan takut. Apalagi orang-orang melihat mereka di jalanan itu tampak sehat-sehat saja. Salah satu penyebab terpapar Covid-19 karena stres, ketakutan sehingga imun tubuh menurun," tegasnya.

Lisni juga mengatakan untuk menjaga pasien terpapar Covid-19, kunjungan kepada pasien saat ini ditiadakan dan jika ada pasien baru, sebelum masuk harus di swab atau pemeriksaan terlebih dahulu. Saat ini jumlah pasien ODGJ yang dirawat di RSJ itu sebanyak 280 orang berasal dari berbagai daerah di Sumut, paling banyak dari Medan.

Sementara itu, Kepala Seksi Pelayan Medik Rawat Jalan dan IGD, dr Indah Julika di tempat yang sama menyampaikan kebanyakan memang pasien di rumah sakit ini mengalami gangguan jiwa disebabkan masalah keluarga seperti perceraian. Selain itu ada juga faktor keturunan.

Sementara kondisi para pasien yang berada diruang rawat tampak sehat dan juga bersih baik pasien laki-laki maupun perempuannya. Begitu juga dengan rumah sakit itu, tampak sudah berbenah, kawasan rumah sakit jiwa itu bersih.

LEBIH MEMATIKAN

Sementara itu Anggota Bidang Penanganan Kesehatan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Provinsi Sumut dr Restuti Hidayani Saragih SpPD K-PTI Finasim MH(Kes) mengatakan penelitian virus mutasi B117 yang dipublish 10 Maret lalu, ternyata tidak hanya menyebar lebih cepat, tapi juga lebih besar dalam memicu kematian dibandingkan varian virus corona lain. Masyarakat harus bisa mengetahui apa itu mutasi.

"Mutasi apa saja, apa dampaknya dan bagaimana kita mengantisipasinya, supaya tidak terjadi perburukan dalam mengantisipasi pandemi Covid-19," kata dr Restuti Saragih.

Ia menyampaikan dalam dunia kedokteran mutasi virus merupakan hal yang biasa dan akan terjadi. "Jadi mutasi ini bukan hal yang luar biasa dalam fenomena ilmiah kedokteran. Begitu juga terkait mutasi yang terjadi pada virus SARS-CoV-2 yang menjadi penyebab Covid-19 dari awal di Wuhan, itu sudah banyak sekali, ratusan kali bahkan," ungkapnya.

Restuti menjelaskan, pada hakikatnya virus memang mempunyai kemampuan dalam bermutasi. Misalnya saja dalam hal perubahan anatomi, sifat dan lain sebagainya.

"Mutasi ini kenapa, karena merupakan sifat yang diberikan Tuhan kepadanya untuk mempertahankan hidupnya," jelasnya sembari menambahkan di negara-negara yang sistem pengurutan gennya (WGS) baik, dapat dilihat ada perubahan rantai genetik pada virus corona.

Menurutnya, hal ini baru akan menjadi dampak, ketika perubahannya itu ternyata membuat virus menjadi punya kekuatan lebih, lebih cepat menyebar, menyebabkan sakit lebih berat, dan membuat orang yang terinfeksi lebih gampang meninggal. "Misalnya B117 asal Inggris, varian Afrika Selatan, varian Brazil P1 dan lain sebagainya," ujarnya.

Ia mencontohkan, virus corona B117 awal kemunculannya diumumkan di dunia pada saat musim gugur 2020 di Inggris. Kemudian sekitar dua bulan setelahnya, penelitian membeberkan jika mutasi ini 70 persen lebih gampang menyebar.

Artinya kalau sudah dideteksi satu kasus, maka kecepatannya menyebar akan jauh lebih besar. Bila 3T (tracing, testing dan treatment) tidak ditangani dengan baik penyebaran akan cepat. Kemudian masyarakat yang sudah divaksin jangan sesuka hati dan eforia, tetap terapkan prokes," terangnya. (c)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com