Kecam Serangan Anti-Asia di AS, Ribuan Demonstran Turun ke Jalan

* Wakil Ketua MPR Prihatin Sentimen Rasialisme Makin Masif di AS

215 view
(Andrej Ivanov/AFP)
Demonstran mengecam serangan anti-Asia yang marak di AS 
Atlanta (SIB)
Ribuan orang di berbagai wilayah Amerika Serikat (AS) kembali turun ke jalan untuk mengecam serangan anti-Asia yang marak beberapa waktu terakhir. Aksi protes ini digelar setelah penembakan massal di Atlanta yang menewaskan 8 orang, termasuk enam wanita Asia, pekan lalu.

Seperti dilansir AFP, Senin (22/3), unjuk rasa ini digelar di kota-kota besar AS, seperti New York, Washington dan termasuk Atlanta yang menjadi lokasi penembakan, pada Minggu (21/3) waktu setempat. Unjuk rasa serupa juga digelar di kota Montreal, Kanada.
Salah satu demonstran bernama Xin Hua, yang keturunan Asia-Amerika, menyatakan dirinya 'sangat marah' bahwa polisi di Atlanta belum juga menyebut penembakan brutal itu didasari motif ras.

"Faktanya adalah enam wanita Asia tewas," ucap Xin yang berusia 37 tahun ini kepada AFP di Washington, di mana ratusan demonstran ikut aksi protes tersebut.

Pelaku penembakan di Atlanta, Robert Aaron Long, ditangkap pada Selasa (16/3) waktu setempat, setelah menembaki tiga panti pijat dan spa setempat. Dia mengakui tindak kejahatannya dan telah didakwa atas pembunuhan. Namun dalam interogasi, Long membantah aksinya itu didasari oleh kebencian ras. Dia justru mengakui menderita kecanduan seks dan ingin 'memusnahkan' godaan.

"Saya bukan godaan Anda," demikian bunyi salah satu poster yang dibawa demonstran dalam aksi di Washington.
"Saya pernah didekati di aplikasi kencan oleh pria-pria yang mengatakan, 'Saya perlu menyembuhkan demam kuning saya'," tutur serang demonstran berusia 31 tahun kepada AFP, yang menolak fetishisasi seksual terhadap wanita Asia.

Kandidat Wali Kota New York, Andrew Yang, yang juga pernah menjadi kandidat capres Partai Demokrat mengundang demonstran untuk mengangkat tangan jika melihat lonjakan kasus rasisme anti-Asia sejak pandemi virus Corona (Covid-19) bermula. Para aktivis menyebut sentimen anti-Asia meningkat di AS akibat komentar mantan Presiden Donald Trump yang berkali-kali menyebut Covid-19 sebagai 'virus China'.

Di Montreal, menurut laporan fotografer AFP, ratusan orang juga turun ke jalanan untuk menggelar aksi protes.
"Kita memprotes rasisme anti-Asia selama bertahun-tahun, yang dipicu oleh seorang presiden pendukung supremasi kulit putih di AS, yang bersikeras menyebut virus itu sebagai 'virus China', yang mendorong kebencian dan serangan terhadap semua kelompok minoritas tertindas," cetus May Chiu dari Kelompok Progresif Keturunan China di Quebec.

MPR Prihatin
Terpisah, Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah prihatin atas melonjaknya kasus kekerasan rasial terhadap orang-orang Asia-Amerika di sejumlah wilayah di Amerika Serikat. Ia menyayangkan kasus serangan rasialis yang mencapai ribuan kasus itu justru terjadi di negeri kampiun demokrasi yang selama ini mengampanyekan demokrasi, isu-isu Hak Asasi Manusia (HAM) dan multikulturalisme.
"Rakyat Amerika Serikat mestinya menjadikan kemenangan Presiden Joseph Robinette Biden Jr dan Wakil Presiden Kamala Harris sebagai momentum kemenangan multikulturalisme. Biden pernah terlibat dalam mewujudkan perdamaian di Balkan, sedangkan Kamala Harris adalah anak seorang ibu keturunan India dan ayahnya keturunan British Jamaica," ujar Basarah dalam keterangannya, Senin (22/3).

"Bagaimana mungkin dari negeri yang menjunjung tinggi multikulturalisme itu kini merebak rasialisme yang masif," tanya Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Luar Negeri itu.

Media internasional, kata dia, memberitakan pada tahun lalu, kelompok advokasi bernama StopAAPI Hate mengaku menerima lebih dari 2.800 laporan insiden kebencian yang ditujukan pada orang Asia-Amerika secara nasional di AS. Kelompok tersebut bahkan menyiapkan alat pelaporan mandiri online pada awal pandemi.

Sementara itu, Dewan Perencanaan Kebijakan Asia Pasifik AS, sejak Maret-Mei 2020, melaporkan lebih dari 800 insiden kebencian terkait Covid-19 dilaporkan dari 34 kabupaten di negara bagian California, AS. Sejumlah masyarakat Indonesia di AS juga dilaporkan cemas dengan meningkatnya kasus-kasus rasialis pada keturunan Asia-Amerika.

"Kasus-kasus yang melawan hati nurani itu sebenarnya tidak perlu terjadi jika warga AS atau warga negara mana pun di dunia ini arif dan bijaksana menyikapi berita yang beredar tentang Covid-19," jelasnya.

"Kasus-kasus rasialis yang kini merebak di AS seharusnya menjadi pelajaran buat masyarakat di Indonesia agar kita juga tak gampang tersulut emosi hanya gara-gara membaca berita yang belum tentu benar alias hoaks. Amerika yang besar dan sudah lama berdemokrasi serta getol mengkampanyekan isu-isu HAM saja bisa goyah akibat terprovokasi berita hoaks, apalagi kita. Masyarakat kita juga multikultural seperti masyarakat di AS," jelas Basarah. (detikcom/d)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib.com edisi cetak
Tag:
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com