Kediri Masuk Kota Toleransi Tertinggi di RI, Wali Kota Bagikan Resepnya

* Berikan Insentif untuk Guru TPQ dan Sekolah Minggu

131 view
Kediri Masuk Kota Toleransi Tertinggi di RI, Wali Kota Bagikan Resepnya
Foto: Dok. Pemkot Kediri
Pemkot Kediri
Jakarta (SIB)
Wali Kota Kediri, Abdullah Abu Bakar membagikan resep menjadi kota toleransi kepada Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Tito Karnavian. Diketahui, Kota Kediri menjadi peringkat 8 kota yang memiliki toleransi tertinggi di Indonesia pada 2020 lalu.

Dalam Dialog Nasional Pemerintah Kota Sebagai Pilar Penting Toleransi yang berlangsung secara virtual pada Kamis (30/9), Abu menyampaikan bahwa kota Kediri memang memiliki toleransi yang kuat.

Ia menjelaskan, pihaknya meraih peringkat 8 kota dengan skor toleransi tertinggi di Indonesia tahun 2020 berdasar survei Setara Institute bekerja sama dengan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Adapun capaian ini diraih dengan modal dasar, yaitu keberadaan Paguyuban Antar Umat Beragama dan Penghayat Kepercayaan (PAUB-PK).

Abu menjelaskan paguyuban ini terbentuk pada tahun 1998 dan menjadi cikal bakal Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang digagas Kementerian Dalam Negeri pada 2004 silam.

Selain adanya Paguyuban tersebut, ia menilai resep toleransi di wilayahnya didapat dari komunikasi dan ruang dialog untuk menjaga toleransi di Kota Kediri. Abu mengungkap terdapat ruang dialog setiap Jumat Kliwon. Pada kegiatan ini, seluruh unsur agama, pemerintah, akademisi, dan mahasiswa duduk bersama untuk diskusi dan bertukar informasi.

"Alhamdulillah selama ini kita sangat kondusif dan kondusivitas ini diciptakan, dirawat dan dipupuk. Apabila ada permasalahan kita langsung bicarakan dalam forum tersebut. Jadi semua bisa terselesaikan. Kita menjunjung tinggi tenggang rasa," kata Abu dalam keterangan tertulis, Jumat (1/10).

Ia menambahkan Pemkot Kediri juga menganggarkan insentif untuk guru TPQ (Taman Pendidikan Quran) dan sekolah minggu. Selain itu, pihaknya selalu mengadakan kegiatan doa bersama seluruh umat beragama yang ada di Kota Kediri.

Adapun doa bersama antar umat beragama ini selalu dilakukan pada peringatan 17 Agustus dan Hari Jadi Kota Kediri. Menurut Abu, masyarakat bersama-sama mendoakan Kota Kediri dan Bangsa Indonesia dengan caranya masing-masing dalam kegiatan ini.

"Kami melakukan ini supaya sejarah mencatat dan anak-anak kita bisa menirukan. Serta nguri-nguri guyub rukunnya. Harapan kami itu mereka bisa lihat dan paham bahwa keberagaman adalah ciptaan Tuhan. Di situlah turunnya sebuah keberkahan," tuturnya.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Tito Karnavian yang hadir dalam kegiatan ini mengatakan kota memegang peranan yang sangat penting dalam konteks merawat toleransi di Indonesia.

Ia menjelaskan, meskipun jumlah penduduk di kota lebih sedikit, namun kota menjadi pusat saraf dari semua kegiatan. Ia pun mengungkap bahwa kota merupakan etalase dari suatu daerah. Sehingga, merawat toleransi di perkotaan akan memberikan dampak yang sangat luas untuk wilayah luar perkotaan.

Menurutnya, berbagai upaya perlu dibangun untuk merawat toleransi di perkotaan. Misalnya, mengadakan dialog yang baik dengan Forkopimda serta membentuk tim terpadu untuk melakukan pencegahan dan penanganan konflik sosial.

"Berbagai upaya seperti dialog intens dan membangun hubungan personal harus terus dijaga. Model-model seperti ini dapat menyelesaikan konflik tanpa kekerasan," pungkasnya.

Tito menegaskan bahwa toleransi tidak datang secara tiba-tiba, namun harus dirawat dan dijaga dengan berbagai langkah nyata. Untuk itu, ia berpesan agar masyarakat tidak membiarkan benih-benih intoleransi tumbuh. Sebab, apabila dibiarkan dan menjadi sebuah letupan maka biayanya akan jauh lebih mahal daripada melakukan upaya-upaya pencegahan yang konsisten. (detikcom/d)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com