Keluarga Afghanistan Terpaksa Jual Bayi Demi Bisa Makan


139 view
Keluarga Afghanistan Terpaksa Jual Bayi Demi Bisa Makan
dok. AP Photo
Ilustrasi
Kabul (SIB)
Afghanistan yang kini dikuasai Taliban berada di ambang bencana besar, dengan keluarga-keluarga miskin yang sudah putus asa terpaksa menjual anak dan bayi mereka kepada orang lain. Salah satu keluarga di luar Herat mengakui terpaksa menjual bayi perempuannya seharga US$ 500 (Rp 7 juta).

Seperti dilaporkan BBC dan dilansir Mirror.co.uk, Selasa (26/10), Program Pangan Dunia (WFP) Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) memperingatkan bahwa nyaris 1 juta anak di Afghanistan berisiko kelaparan. Diungkapkan WFP bahwa jutaan orang bisa meninggal kecuali tindakan segera diambil untuk menyelamatkan 22,8 juta warga Afghanistan yang hampir mati kelaparan.

Afghanistan menghadapi blokade global untuk bantuan kemanusiaan sejak pasukan asing ditarik keluar dari negara itu. Berkuasanya kembali Taliban berujung pada tidak adanya pengakuan internasional dan tidak adanya lagi bantuan yang masuk ke Afghanistan.

Di luar kota Herat, sepasang suami istri yang berduka menuturkan bagaimana mereka terpaksa menjual bayi perempuan mereka kepada seorang pria yang tinggal tidak jauh dari mereka. Bayi perempuan tersebut dijual seharga US$ 500 atau setara Rp 7 juta.

Pria yang membeli bayi pasangan itu mengklaim akan menikahkan bayi itu nantinya dengan anak laki-lakinya ketika keduanya sudah dewasa, namun orangtua bayi perempuan itu menyadari bahwa putri mereka akan menghadapi masa depan yang jauh lebih buruk dari itu.

"Anak-anak saya lainnya sekarat karena kelaparan, jadi kami harus menjual anak perempuan saya," tutur ibunda sang bayi yang tidak disebut namanya, sambil menangis kepada seorang reporter BBC yang menemuinya. "Bagaimana bisa saya tidak sedih? Dia anak saya," ucapnya. "Saya berharap saya tidak harus menjual putri saya," ujarnya.

Suami wanita ini atau ayah dari bayi yang dijual hanya bekerja mengumpulkan sampah, namun kini pekerjaan itu tidak menghasilkan uang. "Kami kelaparan. Sekarang kami tidak punya tepung, tidak ada minyak di rumah. Kami tidak punya apa-apa," ujar ayah sang bayi yang tidak disebut namanya. "Putri saya tidak tahu seperti apa masa depannya nanti. Saya tidak tahu bagaimana perasaannya tentang itu, tapi saya harus melakukannya," ucapnya.

Disebutkan bahwa pria yang berniat membeli bayi pasangan tersebut telah membayar setengah dari harga total untuk bayi perempuan itu. Sisanya baru akan dilunasi setelah bayi itu diserahkan kepadanya beberapa bulan ke depan. BBC dalam laporannya menyebut praktik perdagangan bayi tersebut telah dilaporkan ke tim perlindungan anak pada Badan Anak-anak PBB atau UNICEF. "Afghanistan sekarang berada di antara krisis kemanusiaan terburuk di dunia, mungkin yang terburuk. Kami menghitung mundur menuju bencana," ucap Direktur Eksekutif WFP PBB, David Beasley. (BBC/ Mirror.co.uk/detikcom/d)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com