* Fenomena Long Covid Jadi Masalah Berat Bagi WHO

Kemenkes: 65 Persen Pasien Long Covid akan Berubah Jadi Bom Waktu

* WHO Beri Izin Vaksin Malaria Pertama di Dunia

136 view
Kemenkes: 65 Persen Pasien Long Covid akan Berubah Jadi Bom Waktu
ANTARA FOTO/FAUZAN
Petugas medis melakukan tes usap PCR terhadap pasien COVID-19 di selasar Ruang IGD RSUD Cengkareng, Jakarta, Rabu (23/6/2021).
Jakarta (SIB)
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyinggung fenomena pasien sindrom long Covid-19 yang akan berubah menjadi bom waktu pasien Covid, sehingga fasilitas kesehatan (faskes) di Indonesia diharapkan siap menghadapi kemungkinan 'banjir' pasien.

Koordinator Pengelola Rujukan dan Pemantauan RS Kemenkes Yout Savithri menyebut, kondisi long Covid-19 dialami para penyintas Covid-19 yang mengalami sejumlah efek samping atau perubahan pada kondisi tubuh.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menurutnya telah mencatat, setidaknya 65 persen pasien penyintas mengalami sindrom ini.

"Kami lagi mendiskusikan penyakit long Covid-19, artinya penyakit long Covid-19 adalah bom waktu. Karena saya ingat sekali dokter Erlina (Ketua Pokja Infeksi PDPI) sempat bilang bahwa untuk pasien Covid-19 ini 65 persen ada gejala sisa bahkan ada fibrosis paru," kata Yout dalam acara daring, Kamis (7/10).

Yout melanjutkan, berdasarkan penelitian long Covid-19 ini juga menyerang sembilan organ manusia sehingga harus ada upaya antisipasi pemerintah baik dari segi pelayanan di faskes, hingga penyediaan obat-obatan yang sesuai.

Untuk itu, Yout meminta agar sejumlah organisasi profesi di Indonesia mulai menyiapkan manajemen klinis untuk penanganan pasien long Covid-19, sehingga Kemenkes mampu menindaklanjuti dengan membuat protokol tetap atau prosedur perawatan pasien long Covid-19 di Tanah Air.

"Jadi memang ini harus kita antisipasi, bagaimana mengatasi pasien long Covid-19 untuk meningkatkan kualitas hidupnya," kata dia.

Long Covid-19 belakangan masih menjadi momok bagi para penyintas Covid-19. Hanya saja sampai saat ini penyebab munculnya long Covid masih belum diketahui pasti. Beberapa gejala yang dialami mirip saat menderita Covid-19, di antaranya seperti sesak napas, sakit kepala, sakit badan, mudah lelah, rambut rontok, hingga sulit tidur.
Post COVID-19
Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia WHO akhirnya memberikan definisi resmi terkait long Covid. Pihak Klasifikasi Penyakit Internasional WHO menyebutnya sebagai 'post Covid-19' atau 'kondisi pasca Covid-19'.

"Kondisi pasca Covid-19 terjadi pada individu dengan riwayat kemungkinan atau konfirmasi infeksi SARS-CoV-2, biasanya tiga bulan sejak awal Covid-19 dengan gejala yang berlangsung setidaknya selama 2 bulan dan tidak dapat dijelaskan dengan diagnosis alternatif," jelas WHO yang dikutip dari CNBC International, Kamis (7/10).

"Gejala umum yang muncul termasuk kelelahan, sesak napas, disfungsi kognitif, tetapi juga yang lain...yang umumnya berdampak pada kehidupan sehari-hari. Gejalanya mungkin baru muncul setelah pemulihan awal yang termasuk bagian dari episode Covid-19 akut, atau bertahan dari penyakit awal. Gejala juga bisa berfluktuasi atau kambuh dari waktu ke waktu," lanjutnya.

WHO juga mengatakan, kondisi post Covid-19 ini juga mungkin bisa dialami oleh anak-anak.

Sebelumya, WHO mengatakan butuh waktu yang lama untuk menyelesaikan definisi formal long Covid. Sebab, ada banyak sekali gejala yang berkaitan dengan kondisi tersebut.

Menurut direktur eksekutif Program Darurat Kesehatan WHO, Dr Mike Ryan, fenomena long Covid ini menjadi masalah yang berat untuk WHO. Ia mengatakan, orang-orang harus tetap waspada karena pandemi ini belum berakhir dan akan terus menimbulkan penyakit yang bisa berdampak panjang.

"Kita harus tetap waspada, pandemi ini belum berakhir dan terus menimbulkan penyakit, terus menyebabkan kematian, tetapi juga terus menimbulkan konsekuensi jangka panjang bagi orang-orang di seluruh dunia," kata Dr Ryan.

Jadi tantangan
WHO memperkirakan sekitar 10-20 persen pasien Covid-19 mengalami gejala yang bisa bertahan lama hingga berbulan-bulan usai terinfeksi. Gejala yang berkepanjangan ini bisa mencakup kelelahan yang terjadi terus-menerus, sesak napas, kabut otak atau brain fog, hingga depresi.

Para ahli kesehatan mengatakan, ini menjadi kondisi yang harus diperhatikan. Sebab, kondisi ini bisa menyebabkan dampak yang besar pada masyarakat, mulai dari peningkatan biaya perawatan kesehatan, kerugian ekonomi, hingga produktivitas.

Sampai saat ini, belum ada panduan pengobatan atau rehabilitasi yang bisa dilakukan untuk mereka yang mengalami post Covid-19.
Beri Izin
Malaria sudah lama menjadi penyakit yang membebani orang-orang, terutama di negara tropis. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi pada tahun 2019 ada sekitar 229 juta kasus malaria di dunia yang menyebabkan lebih dari 400.000 kematian.

Terkait hal tersebut, WHO baru-baru ini dilaporkan telah memberi izin vaksin malaria pertama di dunia. WHO mengizinkan vaksin digunakan untuk anak berusia di atas 5 bulan di negara dengan kasus malaria yang tinggi.

"Ini adalah sebuah momen bersejarah. Vaksin malaria untuk anak yang sudah lama ditunggu-tunggu ini adalah sebuah terobosan dalam sains, kesehatan anak, dan upaya pengendalian malaria," kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, pada Rabu (6/10).

Vaksin bernama Mosquirix tersebut sebetulnya sudah dibuktikan efektif dalam uji klinis enam tahun lalu. Hanya saja saat itu vaksin belum bisa digunakan secara luas karena menunggu data dari program uji coba di beberapa negara Afrika.

Hasilnya peneliti kini mendapat bukti lebih jauh bahwa vaksin malaria aman dan efektif. Setelah lebih dari 2,3 juta dosis diberikan, vaksin terbukti bisa mengurangi tingkat keparahan penyakit malaria pada anak sampai 30 persen.
Tidak ditemukan juga efek samping yang serius.

"Sampai hari ini sudah lebih dari 2,3 juta dosis vaksin diberikan di tiga negara Afrika. Vaksin memiliki profil keamanan yang baik," tulis WHO. (CNNI/Detikhealth/a)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com