Kepala Badan Pangan Dicecar 10 Pertanyaan Terkait Kasus Korupsi SYL

* Rumah SYL di Jakarta Selatan Disita

276 view
Kepala Badan Pangan Dicecar 10 Pertanyaan Terkait Kasus Korupsi SYL
Foto: Mulia/detikcom
Kepala Badan Pangan Nasional, Arief Prasetyo Adi

Jakarta (SIB)

Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi selesai diperiksa terkait kasus dugaan korupsi dengan tersangka mantan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL). Arief mengaku dicecar 10 pertanyaan oleh penyidik KPK.

"Cukup banyak ya. Sampai mungkin ada 10. Tapi semuanya memang ada yang nggak nyambung ya antara Badan Pangan dan Kementan," kata Arief Prasetyo seusai pemeriksaan di gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (2/2).

Arief mengatakan Badan Pangan Nasional dan Kementerian Pertanian merupakan institusi yang terpisah. Namun, dia mengatakan Bapanas pernah menjadi eselon 1 di Kementan.

"Tadi penyidik menyampaikan beberapa hal ya, semuanya sangat baik. Pertama, mengenai riwayat pekerjaan, biodata saya, seperti biasa. Kemudian apakah hubungannya dengan Kementerian Pertanian, saya sampaikan bahwa Badan Pangan Nasional ini terbentuk berdasarkan Perpres 66 tahun 2021. Jadi institusi yang berbeda dengan Kementan. Jadi kemarin waktu diundang, undangannya pun juga ke Kementerian Pertanian, Biro Hukum sehingga saya sampaikan bahwa Badan Pangan itu institusi terpisah, tapi dulu memang pernah jadi eselon 1 nya Kementan, tapi pada saat saya join memang sudah institusi terpisah," ujarnya.

Arief menyebut dilantik pada 21 Februari 2022. Dia mengatakan tak ada hubungan antara Kementan dan Bapanas kecuali terkait neraca komoditas.

"Saya jelaskan bahwa saya dilantik oleh Presiden tanggal 21 Februari 2022 dan bertanggungjawab kepada Pak Presiden. Nah terkait dengan yang Kementan, memang nggak ada hubungannya antara badan pangan dengan Kementerian Pertanian kecuali pada saat kita memberikan neraca komoditas, kita menghitung sama-sama, tapi tidak ada hubungan antara badan pangan dengan Kementerian Pertanian dalam struktur ya karena sudah terpisah," tuturnya.

Dia menyebut tak ada proses penyetoran antara Bapanas ke Kementan. Dia mengatakan Bapanas dan Kementan merupakan institusi yang terpisah dengan anggaran dan tugas yang berbeda.

"Nggak ada karena kan institusi terpisah. Anggarannya, BA-nya juga terpisah, kegiatannya juga berbeda. Tugasnya juga beda," ujarnya.

Lebih lanjut, Arief membantah pernah mangkir dalam panggilan pemeriksaan kasus tersebut. Dia mengatakan undangan pertama dari KPK diterima Kementan bukan Bapanas sehingga dilakukan penjadwalan ulang.

"Jadi tidak ada mangkir, saya mau klarifikasi karena undangan itu sampainya ke Biro Hukum Kementan, kalau Jumat lalu saya diundang tapi undangannya baru sampai ke badan pangan hari Senin pagi, jadi Pak Ali Fikri juga sudah memberikan penjadwalan ulang, itu juga sudah betul, karena memang kita tidak terima di Badan Pangan ya," ujarnya.

Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan SYL, Direktur Alat dan Mesin Pertanian Kementan nonaktif Muhammad Hatta, serta Sekjen Kementan nonaktif Kasdi Subagyono sebagai tersangka. Mereka diduga melakukan pemerasan dan gratifikasi.

Ketiganya diduga memeras ASN di Kementan. Duit setoran itu diberikan ASN Kementan lewat Kasdi dan Hatta. Jumlahnya USD 4.000-10.000 per bulan. KPK menduga SYL, Kasdi, dan Hatta telah menikmati Rp 13,9 miliar.

Selain itu, SYL dijerat dengan pasal dugaan tindak pidana pencucian uang. Dia diduga menggunakan uang setoran ASN Kementan itu untuk membayar cicilan Alphard, perawatan wajah, hingga umrah. (mib/dwia)

Disita

Sementara itu, KPK menyita satu rumah mantan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL). Rumah itu berada di wilayah Jakarta Selatan.

"Menjadi bagian penting dalam upaya KPK melakukan aset recovery dari hasil korupsi, kemarin Tim Penyidik telah selesai melakukan penyitaan satu unit rumah yang diduga milik tersangka SYL yang berada di wilayah Jakarta Selatan," kata Kabag Pemberitaan KPK Ali Fikri kepada wartawan, Jumat (2/2).

Ali mengatakan rumah itu telah dipasangi plang sebagai tanda penyitaan. Dia mengatakan plang itu juga berfungsi agar tak ada perusakan pada aset rumah yang telah disita.

"Dilakukan pemasangan plang sita oleh Tim Penyidik, sebagai bentuk pengumuman agar pihak-pihak yang tidak berkepentingan untuk tidak merusak aset dimaksud," ujarnya.

Ali mengatakan KPK masih melakukan pelacakan aset SYL. Dia menegaskan KPK akan mengusut tuntas kasus ini.

"Masih terus dilakukan penelusuran aset-aset bernilai ekonomis lainnya dengan melibatkan peran aktif dari Tim Aset Tracing dari Direktorat Pelacakan Aset Pengelolaan Barang Bukti dan Eksekusi KPK," ujarnya.

Berdasarkan foto, rumah SYL tersebut terlihat memiliki dua lantai. Rumah tersebut berwarna dominan putih.

Panggil Anak SYL

Ali juga menyampaikan informasi, bahwa KPK memanggil anak SYL, Indira Chunda Thita Syahrul. Dia dipanggil sebagai saksi kasus dugaan korupsi yang menjerat bapaknya.

"Bertempat di gedung Merah Putih KPK, Tim Penyidik menjadwalkan pemanggilan dan pemeriksaan saksi, sebagai berikut, Indira Chunda Thita Syahrul," kata Ali.

Indira merupakan anggota DPR RI dari Fraksi NasDem. KPK juga memanggil saksi lain bernama Ali Andri.

"Ali Andri (swasta)," ujarnya. (detikcom/c)

Penulis
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com