Kota Medan Dilanda Banjir, Wali Kota Minta Maaf

* Gubernur Edy Wanti-wanti Seluruh Kepala Daerah

173 view
Kota Medan Dilanda Banjir, Wali Kota Minta Maaf
Foto: Detikcom/Arfah
BANJIR: Banjir di depan kantor Gubernur Sumut hingga masuk ke halaman kantor, Selasa (23/11) malam.
Medan (SIB)
Wali Kota Medan Bobby Nasution meminta maaf kepada masyarakat Kota Medan, setelah Kota Medan dilanda banjir.
Permintaan maaf itu disampaikan Bobby lewat Instagram @bobbynst. Bobby Nasution mengatakan, banjir dipicu naiknya volume air sungai yang melintas di Medan.

"Sebagai Wali Kota Medan, saya memohon maaf kepada seluruh warga Kota Medan atas masalah banjir dan penanganan banjir yang terjadi di sejumlah wilayah di Kota Medan belakangan ini," ucap Bobby, Rabu (24/11).

Bobby menyebut, pihaknya terus berupaya membenahi seluruh drainase. Dia juga mengatakan Pemko Medan berupaya mempersiapkan penanganan banjir jangka panjang.

"Saat ini Pemko Medan terus berupaya membenahi seluruh drainase yang tersumbat agar genangan air dapat cepat diatasi. Kita juga sedang mempersiapkan berbagai perencanaan penanganan banjir jangka panjang agar Medan benar-benar bebas dari permasalahan banjir," sebut Bobby.

Bobby mengaku penanganan banjir tak bisa diatasi sendirian Pemko Medan. Dia bakal berkolaborasi dengan pemerintah provinsi, pemerintah pusat, serta masyarakat.

"Hal ini kita pahami dan sadari perlu kolaborasi, baik pemerintah provinsi, baik pemerintah pusat, dan juga masyarakat. Sekali lagi saya ucapkan permohonan maaf. Saya minta dukungan dari masyarakat untuk mengatasi permasalahan banjir di Kota Medan," ujar Bobby.

Plt Kadis PU Medan, Ferry Ichsan, membenarkan bahwa pihaknya telah mendapat perintah dari Bobby agar secepatnya melakukan normalisasi saluran air di wilayah yang paling parah mengalami banjir.

"Seminggu ini kami akan melakukan normalisasi di HM Joni, Jl Ayahanda, Jl Jamin Ginting daerah lain," kata Ferry.
Soal sungai yang meluap kata Ferry menjadikan kondisi banjir makin parah.

"Tadi malam itu kejadiannya adalah banjir yang disebabkan meluapnya beberapa sungai di DAS DELI seperti Sei Sikambing. Selain itu, kenaikan muka air sungai yang terjadi di Sungai Deli, berimbas pada kenaikan muka air sungai putih dan meluap pada sungai Sikambing dan Sei Selayang. Hal ini juga mengakibatkan antrian air drainase sehingga terjadi genangan. Terdapat juga permasalahan drainase antara lain di wilayah Kota Matsum dan sekitarnya. Segera kita normalisasi," ujar Ferry.

Sementara itu, BPBD Medan menjelaskan banjir terjadi karena curah hujan yang tinggi.

"Penyebab curah hujan cukup tinggi di daerah perkotaan yang menyebabkan luapan drainase air," kata Kepala BPBD Kota Medan Muhammad Husni kepada wartawan, Rabu (24/11).

Salah satu daerah yang direndam banjir adalah Jalan Perjuangan, Kecamatan Medan Sunggal. Di lokasi ini ada 282 rumah yang direndam banjir.

"Pada Selasa (23/11) pukul 20.45 WIB, kondisi tinggi genangan air di Jl Perjuangan Lingkungan XIII dan XIX, Kelurahan Tanjung Rejo, Kecamatan Medan Sunggal. Ketinggian air kurang-lebih 120 -150 cm di rumah warga. Sebagian warga dievakuasi ke tempat dataran tinggi," ujar Husni.

"Jumlah keseluruhan terdampak banjir Jalan Perjuangan Lingkungan XIII dan XIX sebanyak 282 rumah, 296 kepala keluarga, 1.122 jiwa," tambahnya.

Selain di Medan Sunggal, banjir terjadi di Medan Tuntungan. Ada 70 rumah yang terdampak banjir di daerah ini.

"Total terdampak banjir Jalan Sakura Indah Lingkungan I, Kelurahan Tanjung Selamat, Kecamatan Medan Tuntungan, sebanyak 70 rumah dengan 260 penduduk," tutur Husni.

Husni pihaknya mengevakuasi warga di wilayah tersebut. Banjir sudah surut hari ini.

"Kondisi banjir sudah surut di semua kawasan," jelas Husni.

Mogok
Puluhan kendaraan bermotor terdiri dari mobil dan sepedamotor mogok setelah melintasi luapan banjir di sejumlah ruas jalan protokol Medan, usai diguyur hujan deras, Selasa (23/11) malam.

Selain banjir yang terpapar di sepanjang Jalan Gatot Subroto Medan, luapan banjir terparah hingga setinggi pinggang orang dewasa terdapat di Jalan Gatot Subroto dekat simpang Jalan Kapten Muslim.

Diduga, banjir hampir setinggi 1 meter itu terjadi karena luapan air Sungai Sei Sikambing yang meluap akibar tidak mampu menampung tingginya debit air pasca hujan deras melanda.

Suwandi (39) warga Jalan Gaperta Medan mengaku, sepedamotor yang dikendarainya mogok akibat terendam banjir saat melintasi lokasi. Akibatnya, Suwandi harus mendorong sepedamotor Yamaha Mio miliknya sekira 2 Km untuk mencapai dataran kering.

"Sepedamotor saya mogok dan terendam banjir. Tak tanggung-tanggung, banjirnya setinggi pinggang saya," katanya.

Sementara Louis (28) warga Kampung Lalang terpaksa membiarkan mobil Toyota Avanza miliknya terendam banjir, karena mobilnya mogok saat melintasi lokasi. Untuk memindahkan mobilnya, Louis berupaya menghubungi mobil derek.

"Tadinya saya pikir bisa dilintasi, tapi ternyata semakin jauh kok semakin dalam hingga akhirnya mobil saya mogok akibat air banjir sudah menggenangi kap mesin" jelasnya.

Pantauan SIB di sepanjang ruas Jalan Gatot Subroto, puluhan kendaraan sepedamotor terlihat berusaha mengeringkan busi agar dapat dihidupkan lagi. Tak hanya itu, sejumlah mobil juga terpaksa didorong karena mogok terendam banjir.

KOORDINASI
Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi berbicara soal penyebab banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kota Medan. Edy menyebut banjir dipicu curah hujan yang melebihi kapasitas drainase.

"Hujan tadi malam itu over, sehingga kapasitas yang direncanakan, drainase yang ada tidak mencukupi," kata Edy di rumah dinas Gubernur, Medan, Rabu (24/11).

Edy mengatakan, sudah berkoordinasi dengan Wali Kota Medan Bobby Nasution untuk mengatasi banjir. Dia mengatakan Pemko Medan dan Pemkab Deli Serdang juga sudah berkoordinasi untuk mengatasi banjir.

"Saya dengan Pak Bobby sebagai Wali Kota Medan, saya sudah koordinasi secara ketat. Kemarin sudah dilakukan rapat terpadu antara Deli Serdang dan Kota Medan," tutur Edy.

Dia menyebut, rencana normalisasi sungai yang melintas di Medan terhambat gara-gara pandemi Corona. Dia menyebut anggaran normalisasi sungai dialihkan untuk penanganan Corona.

"Ada lima sungai yang melintasi Kota Medan. Saat ini seharusnya dikerjakan sejak tahun 2020, 2022 selesai. Tetapi di bulan Maret 2020 kita terkena wabah Covid-19 sehingga semua (anggaran) itu di-refocusing," ujar Edy.

Edy mengatakan sudah mewanti-wanti kepala daerah di Sumut soal potensi banjir saat musim hujan. Dia mengaku sudah menyiapkan sejumlah alat berat untuk membantu menangani bencana.

"Satu bulan yang lalu saya sudah menginstruksikan kepada seluruh bupati-wali kota untuk mewaspadai kondisi alam karena BMKG mengatakan ini akan terjadi. Alat-alat berat yang bisa membantu pada titik titik kritis ini sudah kita lakukan," jelasnya. (detikcom/A16/c)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com