Lockdown Nasional, Warga Malaysia Borong Kebutuhan Pokok

Jepang Perpanjang Status Darurat Covid-19, Olimpiade Tokyo Diminta Dibatalkan

234 view
Lockdown Nasional, Warga Malaysia Borong Kebutuhan Pokok
Foto: TheStar
ANTRE: Antrean warga dengan troli penuh barang belanjaan terlihat di barisan kasir satu pusat perbelanjaan di Petaling Jaya, setelah pemerintah Malaysia, Sabtu (29/5) mengumumkan pemberlakuan lockdown nasional.
Kuala Lumpur (SIB)
Pemerintah Malaysia telah mengumumkan akan menerapkan lockdown nasional selama 14 hari untuk mengendalikan peningkatan kasus infeksi virus corona. Terlepas dari kepastian pemerintah bahwa barang-barang penting akan tersedia selama lockdown total mulai 1-14 Juni mendatang, warga Malaysia di sejumlah wilayah mulai menimbun persediaan bahan kebutuhan pokok sejak jam 8 pagi waktu setempat.

Seperti dilansir media Malaysia, The Star, Sabtu (29/5), foto-foto antrean panjang di supermarket, bahkan ada yang mencapai hingga beberapa ratus meter, beredar di media sosial. Foto-foto menunjukkan banyak warga berbondong-bondong ke supermarket untuk membeli bahan makanan, meskipun toko-toko yang menjual kebutuhan pokok akan tetap buka selama lockdown. Di Klang Valley, pemilik bisnis, Natasha Shazana Azmi, yang pergi berbelanja pada Sabtu pagi, mengatakan, berdasarkan pengalaman sebelumnya, lebih sulit berbelanja saat lockdown.

"Kita tidak bisa marah kepada orang-orang yang panik membeli sekarang karena selama MCO (lockdown) pertama, kita melihat betapa sulitnya berbelanja karena banyak barang yang kehabisan stok dan rak-rak kosong," ujar perempuan berumur 27 tahun itu. "Lockdown atau tanpa lockdown, antreannya akan tetap panjang karena kita ada banyak pembatasan.

Jadi lebih baik lakukan sekarang kalau saya bisa mendapatkan apa yang saya butuhkan," katanya.

Eksekutif pemasaran Justin Lim (32) mengatakan dia memutuskan pergi berbelanja untuk keluarganya yang beranggotakan enam orang karena dia tidak ingin menghadapi kemungkinan tidak mendapatkan barang-barang seperti roti. "Meskipun kami didorong untuk berbelanja online, itu tidak mudah karena pengiriman memakan waktu dan kami tidak bisa memilih barang segar," tuturnya.

"Saya sudah mencoba memesan secara online selama lockdown pertama dan ternyata sangat lambat," imbuhnya. "Lebih baik belanja hari ini selagi barang-barang masih tersedia," ujarnya.

Di Penang, satu supermarket lokal memiliki antrean panjang di luar pintu masuk hingga 200 meter. Supermarket yang biasanya sepi itu memiliki banyak pengunjung yang berkumpul pada pukul 10 pagi.

Lockdown Total
Pemerintah Malaysia, Sabtu (29/5) memutuskan kembali menerapkan penguncian wilayah (lockdown) secara menyeluruh akibat lonjakan kasus infeksi virus corona (Covid-19). Dilansir Reuters, Perdana Menteri Malaysia, Muhyiddin Yassin, menyatakan lockdown secara ketat akan diberlakukan mulai 1 Juni sampai 14 Juni. Seluruh ruang publik dan kawasan niaga yang tidak berkepentingan wajib tutup selama masa penerapan lockdown.

Pemerintah hanya membolehkan sejumlah kegiatan niaga yang dinilai penting untuk tetap berjalan, tentunya dengan sejumlah persyaratan. "Dengan perkembangan lonjakan kasus infeksi harian, kemampuan rumah sakit di seluruh negeri untuk menampung pasien Covid-19 menjadi semakin terbatas," kata Yassin.

Yassin menyatakan dengan kebijakan menutup seluruh kegiatan perekonomian yang bukan merupakan prioritas, pemerintah melalui Kementerian Keuangan akan menggelontorkan subsidi atau bantuan sosial bagi penduduk dan pengusaha secepatnya.

Malaysia mencatat rekor tertinggi penularan harian infeksi virus corona, dengan 7.857 kasus dan 59 kematian pada Kamis (27/5) lalu. Hal itu membuat Negeri Jiran menjadi negara dengan kasus infeksi harian Covid-19 tertinggi di Asia Tenggara.

Wilayah Selangor dan Sarawak memiliki kasus harian terbanyak yakni 2.675 kasus dan 772 kasus. Sementara itu kasus baru corona di Ibu Kota Kuala Lumpur mencapai 561 kasus.

Melansir The Star, Menteri Kesehatan Malaysia, Noor Hisham Abdullah, mengatakan saat ini ada sekitar 69.408 kasus corona aktif di Malaysia. Mayoritas pasien tersebut berusia 20-40 tahun. Sebanyak 771 pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit dalam kondisi kritis. Di sisi lain, sebanyak 4.598 pasien corona juga telah dinyatakan sembuh.

Perpanjang Status Darurat
Sementara itu, Jepang memperpanjang status darurat Covid-19 di Tokyo dan area lainnya, ketika belum menunjukkan tanda berkurang dari 2 bulan lalu, sebelum Olimpiade Tokyo dimulai. Langkah itu melanjutkan pembatasan dari 31 Mei menjadi 20 Juni, karena negara melihat jumlah pasien Covid-19 masih tinggi dalam beberapa hari terakhir dan rumah sakit kewalahan.

Perpanjangan pembatasan Covid-19 selama 20 hari diberlakukan di 9 wilayah Jepang, dari Hokaido di utara ke Fukuoka di selatan. Sementara, area ke-10 di prefektur pulau selatan Okinawa saat ini sudah dalam status darurat Covid-19 hingga 20 Juni. Penyelenggara Olimpiade Tokyo sedang mempertimbangkan apakah selama masa itu akan mengizinkan penonton domestik untuk datang, setelah penggemar luar negeri dilarang datang sejak beberapa bulan lalu.

Kekhawatiran tentang varian baru virus corona dan lambatnya pemberian vaksin Covid-19, mendorong sejumlah masyarakat dari kalangan dokter, pemimpin bisnis dan banyak lainnya, menyuarakan pendapat untuk Olimpiade Tokyo dibatalkan. Seorang petugas medis terkemuka di Jepang, bahkan telah memperingatkan acara musim panas itu dapat menyebabkan munculnya jenis baru virus corona "Olimpiade".

Jajak pendapat menunjukkan mayoritas orang Jepang ingin turnamen itu dibatalkan atau ditunda. Hanya 2,3 persen dari populasi yang telah divaksinasi penuh. Program vaksinasi bertahap saat ini sedang berlangsung untuk orang yang lebih tua dan diperkirakan tidak akan selesai sebelum Olimpiade berlangsung. Jepang melaporkan ada sekira 730.000 kasus positif Covid-19 dan lebih dari 12.700 orang tewas.

Namun, Perdana Menteri Yoshihide Suga dan pemerintahannya bertekad menjadi tuan rumah Olimpiade. "Saya sadar bahwa banyak orang menyuarakan keprihatinan tentang penyelenggaraan Olimpiade dan Paralimpiade," ujar Suga. "Saya menganggapnya serius, dan saya akan melanjutkan dengan persiapan untuk Olimpiade yang aman dan terjamin," imbuhnya.

Komite Olimpiade Internasional (IOC) juga mengatakan acara tersebut akan tetap berjalan meskipun Tokyo berada dalam tindakan darurat Covid-19. Presiden IOC Thomas Bach mengatakan 80 persen dari 10.500 peserta yang diperkirakan di Jepang akan divaksinasi dan mendesak para atlet Olimpiade untuk mendapatkan suntikan vaksin Covid-19. Selain itu, para delegasi juga harus dites Covid-19 sebelum dan sesudah kedatangan. (Rtr/CNNI/thestar/dtc/Sky News/kps/f)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Tag:Lockdown
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com