* Skenario Terburuk: Minta Tolong Pihak Lain Jika Kasus Lebih 50 Ribu

Luhut: Keadaan Covid-19 RI Sudah Parah, Kita Harus Kerja Sama

* 90 Persen Kasus Corona di Jakarta Varian Delta

380 view
Luhut: Keadaan Covid-19 RI Sudah Parah, Kita Harus Kerja Sama
Sumber: Foto: Kompas TV/Ant
KONFERENSI PERS: Tangkapan layar Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan saat memberikan keterangan kepada wartawan dalam konferensi pers tentang Covid-19 di Indonesia secara virtual yang dipantau dari Jakarta, Senin (5/7).
Jakarta (SIB)
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marives) Luhut Binsar Pandjaitan meminta masyarakat untuk mematuhi aturan PPKM Darurat. Sebab, menurutnya, kondisi penularan Covid-19 di Indonesia saat ini sudah parah.

"Kalau kita simak mungkin tahun lalu orang yang kena Covid itu adalah di luar lingkaran kita kebanyakan. Sekarang itu sudah banyak di lingkaran kita. Jadi keadaan ini sudah parah dan kita harus bekerja sama," kata Luhut dalam konferensi pers pada Senin (5/7) malam.

Luhut mengatakan, menaati peraturan PPKM Darurat penting untuk keselamatan bersama. Apalagi, lanjutnya, saat ini angka kasus baru Covid-19 di Indonesia terus melonjak.

"Hari ini seperti yang saya sudah beritahu, bahwa ini akan terus masih naik dalam 10 hari 12 hari ke depan. Hari ini sudah 29.000 walaupun tingkat kesembuhan lebih dari 13.000, tetapi tetap peningkatan itu masih relatif tinggi," tuturnya.

Masih Tinggi
Luhut heran dengan masih tingginya mobilitas dan ketidakdisiplinan warga di masa PPKM Darurat ini. Menurutnya, jika hal ini masih terus terjadi akan mempersulit penanganan Covid-19.

"Dari hasil Google map kami masih kami lihat gerakan-gerakan itu cukup banyak, sehingga kalau ini terus terjadi saya kira akan mempersulit kita semua dan akan menyumbang orang yang bisa cedera atau kena Covid karena ketidakdisiplinan saudara dan itu bisa saudaramu, bisa keluargamu, bisa anak istrimu dan bisa dirimu sendiri," papar Luhut.

Karena itu, Luhut pun berpesan agar masyarakat tidak menganggap enteng pandemi Covid-19 ini. Dia meminta agar masyarakat bekerjasama untuk menangani pandemi ini.

"Hanya itu pesan saya. Saya ingin tidak ada yang boleh main-main mengenai ini, kita harus kompak mengenai ini dan saya juga minta sekali lagi jangan ada berita memojokkan kiri kanan, kita harus kompak menghadapi masalah ini, karena masalah ini betul-betul masalah dunia," pungkas dia.

Minta Tolong
Menurut Luhut, pemerintah telah menyiapkan skenario kasus terburuk penanganan Covid di Indonesia. Skenario ini diterapkan jika tambahan kasus per hari lebih dari 50 ribu.

"Sekarang kami sudah buat skenario gimana kalau kasus ini 40 ribu. Jadi kita sudah hitung worst-case scenario, lebih dari 40 ribu. Bagaimana tadi suplai oksigen, bagaimana suplai obat, bagaimana suplai rumah sakit, semua sudah kami hitung," kata Luhut.

Luhut mencontohkan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sudah menyiapkan ruang ICU darurat di Asrama Haji Pondok Gede dan Menkes sudah menyiapkan seperti ICU, misalnya asrama haji di Pondok Gede yang juga sudah ditinjau Presiden Joko Widodo (Jokowi). Luhut menyebut Asrama Haji Pondok Gede bisa difungsikan sebagai fasilitas Covid dalam 2 hari ke depan dan bisa menampung sekitar 800 pasien.

Luhut menyebut TNI-Polri juga sudah menggelar rumah sakit-rumah sakit darurat di Jakarta ataupun nanti di Surabaya. Luhut menegaskan Indonesia sampai saat ini bisa mengatasi masalah.

"Jadi semua kekuatan saya kira kita kerahkan, jadi jangan ada yang menganggap underestimate bahwa Indonesia tidak bisa mengatasi masalah. Sampai hari ini ya," ujar Luhut.

Meski demikian, Luhut tak menutup mata meminta bantuan pihak lain dalam skema skenario kasus terburuk ini. Luhut mengatakan pemerintah siap meminta bantuan jika kasus Covid masih memburuk.

"Tapi kalau kasus ini lebih nanti daripada 40 ribu, 50 ribu, kita tentu akan membuat skenario siapa yang akan kita nanti minta tolong dan sudah mulai kita kerucut itu semua. Oksigen sampai hari ini kami hitung sudah dibuat skenario oleh tim itu bisa sampai 5 ribu, mungkin malah paling jelek kita sudah bikin sampai 60-70 ribu kasus per hari. Tapi kita tidak berharap itu terjadi karena teman-teman polisi, TNI, saya kira sudah melakukan penyekatan yang cukup baik," ujar Luhut.

Luhut menyebut sejauh ini Indonesia sudah menjalin komunikasi dengan Singapura dan China.

"Kalau ada yang bilang tadi perlu bantuan dari luar kita juga sudah komunikasi dengan Singapura, kita komunikasi juga dengan Tiongkok, dan komunikasi dengan sumber-sumber lain," kata Luhut.

Luhut menyebut pemerintah telah melakukan penanganan Covid secara komprehensif. Metodologi monitoring PPKM darurat juga sudah dilakukan demi melihat efektivitasnya.

"Kita juga sudah menyiapkan metodologi monitoring PPKM darurat melalui indeks mobilitas dan cahaya malam. Kita engage Facebook Mobility dan Google Traffic dan cahaya malam dengan NASA," ujar Luhut.

Sempat Tak Cukup
Luhut mengakui stok oksigen medis di Indonesia sempat tidak mencukupi. Namun, dia memastikan saat ini pemerintah telah menambah stok oksigen medis.

"Suplai oksigen tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan oksigen medis saat itu. Betul. Tapi setelah dua hari, tiga hari terakhir ini kami mobilisasi dari mana-mana," kata Luhut.

Luhut mengungkapkan pemerintah telah menambah stok oksigen medis dari sejumlah daerah. Selain itu, pemerintah telah memerintahkan industri oksigen medis beralih untuk menyuplai penanganan Covid-19 di Indonesia.

"Ada ambil dari Morowali dan sudah sampai kemarin di Jakarta dan hari ini sudah didistribusi. Saya kira Anda bisa lihat di Tanjung Priok sekarang dan kemudian kita buka oksigen yang ada di Cilegon, dan kemudian oksigen yang ada di Batam. Dan kemudian sekarang kita arahkan 100% oksigen yang dari industri untuk membantu dulu kesehatan," tuturnya.

Luhut melanjutkan nantinya stok oksigen medis ini akan diprioritaskan untuk pasien Covid-19 yang dirawat intensif.

"Karena kita melihat untuk 2 minggu ke depan, sementara itu kita arahkan supaya oksigen ini murni menolong orang yang diisolasi dan rawat intensif," ujar Luhut.

Sementara itu, pasien Covid-19 yang bergejala ringan akan dialihkan dengan menggunakan oksigen konsentrator. Luhut mengatakan saat ini pemerintah telah mengimpor oksigen konsentrator dari Singapura.

"Sedangkan yang ringan kita akan gunakan apa yang disebut oksigen konsentrator. Oksigen konsentrator ini mengambil dari udara biasa, diproses, dan bisa dihirup. Itu sekarang kita sudah kita pesan 10.000 dan sebagian sudah datang pakai pesawat Hercules dari Singapura dan kita juga ambil dari tempat lain bila kita rasakan masih ada kekurangan," pungkas Luhut.

Varian Delta
Dalam konferensi pers tersebut, Luhut juga mengungkapkan mayoritas kasus Covid-19 di DKI Jakarta berasal dari varian Delta.

"Dari data yang kami dapat bahwa 90% di Jakarta itu sudah varian Delta," kata Luhut.

Karena itu, Luhut meminta warga tidak main-main dengan penanganan Covid-19.

"Jadi varian Delta sudah ada 90% di kita. Jadi kalau kita bermain-main, seperti yang saya katakan tadi pasti bisa kena di sekeliling Anda," katanya. (detikcom/a)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com