Luhut: Vaksinasi Corona Dimulai Minggu Ketiga Desember 2020

* Roadmap Vaksinasi Nasional Sudah Tahap Final

270 view
Luhut: Vaksinasi Corona Dimulai Minggu Ketiga Desember 2020
Lisye/detikcom
Menko Luhut Binsar Pandjaitan
Jakarta (SIB)
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan vaksinasi Covid-19 mungkin akan dimulai pada minggu ketiga Desember 2020. Vaksinasi difokuskan di area dengan kasus Corona tinggi.

"Kami akan melakukan vaksinasi di minggu ketiga Desember," kata Luhut dalam paparan pada acara The 7th Singapore Dialogue on Sustainable World Resources (SDSWR) seperti dilansir Antara, Rabu (4/11).

Luhut mengatakan saat ini tengah dilakukan uji klinis fase ketiga di Bandung, Jawa Barat, yang dikembangkan Sinovac dan Bio Farma. Untuk bisa melakukan vaksinasi, pemerintah Indonesia juga akan menggunakan persetujuan penggunaan darurat (emergency use authorization/ EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

"Saya rasa (vaksinasi akan dilakukan pada) sekitar 9 juta orang di wilayah spesifik yang kami percaya berkontribusi besar pada tingginya kasus Covid-19. Di Jakarta, misalnya, ada sejumlah area yang kami percaya berkontribusi besar pada kasus Covid-19 dan beri mereka suntikan," kata Wakil Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) itu.

Luhut menambahkan, dalam jangka pendek, pemerintah menargetkan bisa membuat wilayah Bali menjadi zona hijau pada awal 2021. Target tersebut ditetapkan menyusul rencana vaksinasi pada minggu ketiga Desember itu. "Kami ingin lihat Bali jadi zona hijau, itu target kami, Bali jadi zona hijau. Harapannya pada awal tahun depan karena kita akan mulai vaksinasi mulai minggu ketiga Desember," katanya.

Sebelumnya, Luhut mengatakan rencana vaksinasi Covid-19, yang sebelumnya akan dimulai sekitar minggu kedua November, bisa saja molor.

Menurut dia, kemungkinan mundurnya jadwal vaksinasi bukan karena tidak adanya pasokan vaksin, melainkan karena dibutuhkan waktu bagi BPOM untuk bisa mengeluarkan emergency use authorization.

Tahap Final
Sementara itu, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof. Wiku Adisasmito mengatakan, roadmap atau peta jalan vaksinasi sudah dalam tahap finalisasi. Roadmap tersebut, kata dia, mencakup kandidat vaksin, dan penyusunan tahapan prioritas penerima vaksin yang telah dipertimbangkan oleh pemerintah.

"Dengan berbagai pertimbangan seperti ketersediaan vaksin, jumlah penduduk, wilayah berisiko, tahapan pemakaian dan indeks pemakaian. Selain itu, roadmap mencakup perkiraan skema platform vaksin dan sasaran klaster kelompok, estimasi kebutuhan dan rencana pemberian vaksin," ujarnya dikutip dari situs resmi Satgas Covid-19, Rabu (4/11).

Prof. Wiku menuturkan demi mencapai efektivitas vaksin yang maksimal, maka roadmap juga memperhatikan cold chain atau rantai dingin vaksin, dan kapasitas SDM yang melibatkan beberapa jenis tenaga kesehatan termasuk vaksinator. Pemerintah juga telah menyiapkan jejaring layanan untuk menjamin aliran distribusi dengan melibatkan lintas sektor.

Di samping hal-hal itu, Wiku menyatakan pemerintah telah mengkaji hal-hal penting lainnya yang tidak boleh diabaikan dalam persiapan vaksinasi nasional. Hal itu bertujuan memastikan keamanan dan ketersediaan serta mekanisme penyuntikan vaksin dengan melibatkan pendapat dari berbagai elemen baik lintas kementerian dan lembaga.

"Kehadiran vaksin adalah angin segar untuk kita semua, tetapi hingga vaksin siap. Bahkan meskipun vaksin sudah ada dan siap, kita pastikan masyarakat dan pemerintah mematuhi protokol 3M yaitu memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan sebagai upaya pencegahan primer," pungkasnya.

Sebagai informasi, meski nanti vaksin sudah ada, menjaga protokol kesehatan penting dilakukan. Oleh karena itu selalu #IngatPesanIbu untuk menerapkan 3M, yakni menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun seperti yang dikampanyekan Satgas Penanganan Covid-19.

Masih Lama
Terpisah, Kepala Bidang Pencegahan, Mitigasi, dan Kesiapsiagaan Kementerian Kesehatan, dr. Ina Agustina Isturini meminta masyarakat tetap waspada terhadap penularan Covid-19. Pasalnya, Virus Covid-19 ini adalah virus baru yang belum ditemukan obat dan vaksinnya.

“Kenapa kita harus tetap waspada terhadap Covid-19? Karena, pertama ini adalah virus baru. Dia belum banyak yang kita ketahui tentang virus ini, obat dan vaksin masih diteliti. Dan kemungkinan akan berlangsung lama,” ungkap Ina dalam diskusi secara virtual, Rabu (4/11).

Ina menjelaskan bahwa ada sejumlah penelitian baik dari World Health Organization, Harvard University, dan China menyatakan bahwa pandemi Covid-19 akan berlangsung lama hingga tahun 2022. Bahkan, ada beberapa penelitian yang menyebutkan bahwa pandemi Covid-19 akan berlangsung sampai tahun 2024.

“Sejumlah penelitian baik itu WHO juga sudah menyatakan bahwa kita akan bertemu dalam jangka waktu lama. Kemudian peneliti dari Harvard maupun dari China bahwa semuanya menunjukkan bahwa (pandemi) ini akan berlangsung lama. Bisa ada yang menyatakan sampai tahun 2022, ada menyampaikan sampai bisa sampai 2024,” kata Ina.

Ina pun mengatakan berdasarkan pengalaman sejarah bahwa pandemi seperti Spanish Flu atau Flu Spanyol pada tahun 1918 berlangsung selama 3 tahun. “Dan berdasarkan pengalaman pandemi pada masa sebelumnya, memang pandemi itu bisa berlangsung. Pada Spanish Flu pada tahun 1900-an ya, 1918 ya itu berlangsung sekitar 3 tahunan ya. Sehingga memang ini akan berlangsung lama,” katanya. (detikcom/Okz/f)

Penulis
: Redaksi
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com