Lukas Enembe Bermanuver Lagi, Mohon ke KPK Agar Jadi Tahanan Kota


92 view
Lukas Enembe Bermanuver Lagi, Mohon ke KPK Agar Jadi Tahanan Kota
Foto: Aditya Pradana Putra/Antara Baca artikel detikjateng, "Lukas Enembe Minta Jadi Tahanan Kota, Ini Alasannya" selengkapnya https://www.detik.com/jateng/hukum-dan-kriminal/d-6531648/luk
Gubernur Papua nonaktif Lukas Enembe (tengah, berkursi roda) menuju mobil tahanan di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasa (17/1/2023). 
Jakarta (SIB)
Tim hukum dan advokasi Gubernur Papua nonaktif Lukas Enembe mengajukan permohonan pengalihan status penahanan Lukas Enembe ke KPK. Pengacara Lukas menyebut kliennya menderita komplikasi penyakit.
"Bapak Lukas Enembe menderita komplikasi empat penyakit, mulai stroke, hipertensi, diabetes melitus, dan gagal ginjal kronis lima, yang membuatnya harus dirawat intensif dan dibantu orang lain dalam melakukan aktivitas sehari-hari," ujar ketua tim litigasi THAGP, Petrus Bala Pattyona, dalam keterangannya, Selasa (24/1).
Petrus mengatakan, surat permohonan itu diajukan demi kemanusiaan.
Dia berharap KPK mengalihkan status penahanan Lukas Enembe menjadi tahanan kota agar mempermudah perawatan kondisi Lukas Enembe.
"Agar Bapak Ketua KPK memerintahkan penyidik untuk melakukan pengalihan tahanan dari tahanan Rutan KPK menjadi tahanan kota di Jakarta, dalam rangka keluarga dan dokter pribadi melakukan perawatan di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta. Atau agar Bapak Ketua KPK memerintahkan penyidik untuk melakukan perawatan di RSPAD di bawah perawatan dan pengawasan dokter-dokter RSPAD dan dokter pribadi, tanpa pembatasan bagi keluarga, dan dokter pribadi untuk bersama Bapak Lukas Enembe demi memberi semangat dalam rangka pemulihan," katanya.
"Atau mengizinkan keluarga, terutama istri dan anak-anak, selalu mendampingi Bapak Lukas Enembe dengan tetap mematuhi syarat-syarat pendampingan yang ditetapkan dokter dan pihak RSPAD," sambungnya.
Petrus mengatakan, pihaknya juga telah menyiapkan penjamin keluarga. Menurutnya, kondisi Lukas Enembe yang tengah sakit dapat memperlambat proses penyidikan.
"Dan oleh karenanya agar dapat dialihkan jenis penahanannya, dengan maksud agar lebih leluasa mendapat perawatan dari tim medis dan keluarga," katanya.
Lebih lanjut Petrus mengatakan, jika permohonan disetujui, Lukas Enembe akan dirawat oleh keluarga dan dokter pribadinya. Menurutnya, perawatan oleh keluarga dapat membantu penyembuhan penyakit Lukas Enembe.
"Dan dari masukan dokter pribadinya, penderita stroke seperti Bapak Lukas Enembe akan lebih bahagia bila bertemu dan dirawat dengan keluarga dekatnya. Jadi sangat membantu bila dirawat keluarga dan dokter pribadinya," imbuh Petrus.
Pihak KPK yang coba dihubungi sampai berita ini diterbitkan, belum ada jawabannya.
Sebelumnya, istri Lukas Enembe, Yulce Wenda, buka suara soal penyakit yang diderita suaminya. Dia menyebut saat ini kondisi Lukas makin buruk.
Yulce awalnya menjelaskan kondisi Lukas Enembe yang masih dalam keadaan sakit saat ditangkap KPK pada Selasa (10/1). Dia menyebut obat-obatan dan makanan yang dikonsumsi Lukas diawasi ketat oleh tim dokter pribadi.
"Pak Lukas itu sakit dan dia sedang minum obat dalam perjalanan. Dan pada saat diambil di Papua tanggal 10 sampai bawa ke sini obat yang sedang diminum tidak bawa dan kami lost control sampai saat ini," kata Yulce dalam konferensi pers di Jalan Majapahit, Jakarta Pusat, Jumat (20/1).
Yulce mengatakan hari ini pihaknya baru mendapatkan akses menjenguk Lukas Enembe. Dia mengaku kondisi Lukas menurun.
Dari keterangan yang didapat dokter, Yulce Wenda mengatakan penyakit ginjal yang diderita suaminya makin kronis.
"Kami ke sana dibilang beliau sudah fase lima, ginjal rusak," ungkap Yulce.
Tim pengacara Lukas Enembe, Petrus Bala Pattyona, mengatakan setidaknya ada empat penyakit yang diderita Lukas Enembe. Namun penyakit ginjal Gubernur Papua nonaktif itu disebut dokter makin parah.
"Yang ginjalnya stadium lima. Beliau sakitnya yang pertama stroke, hipertensi, dan ginjal, diabetes. Yang makin parah sekarang istilah kedokteran sudah fase lima, kronis lima yang ginjal," ungkap Petrus. (detikcom/a)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com