MA Tolak Putusan PT Medan Terhadap Terdakwa Kasus Sabu 56 Kg dari Pidana Mati Jadi 17 Tahun Penjara

* Ketua Granat Sumut: Preseden Buruk Dalam Pemberantasan Narkoba

182 view
MA Tolak Putusan PT Medan Terhadap Terdakwa Kasus Sabu 56 Kg dari Pidana Mati Jadi 17 Tahun Penjara
Internet
Terdakwa Boiman saat bersidang beberapa waktu lalu di PN Medan. Terdakwa kasus sabu 56 Kg lolos hukuman mati.
Medan (SIB)
Majelis hakim pemeriksa perkara tingkat kasasi pada Mahkamah Agung (MA) RI menolak putusan Pengadilan Tinggi (PT) Medan yang mempidana mati Boiman alias Boy Bin Kartowijoyo, terdakwa kasus sabu seberat 56 kg. MA memutuskan menghukum Boiman menjadi 17 tahun penjara.

Hal itu diketahui dari Akta Pemberitahuan Putusan MA yang diterbitkan Pengadilan Negeri (PN) Medan dengan nomor akta : Nomor61/Akta.Pid/2020/Pn.Mdn tertanggal 22 April 2021. Dalam akta itu ditulis pemberitahuan amar putusan dengan nomor perkara : 193K/Pid.Sus/2021 yang isinya, menolak permohonan kasasi dari pemohon kasasi.

"Memperbaiki putusan Pengadilan Tinggi (PT) Medan Nomor 329/Pid.Sus/2020/PT.Mdn tanggal 16 April 2020 yang menguatkan putusan PN Medan Nomor 2435/Pid.Sus/2019/PN.Mdn tanggal 22 Januari 2020 mengenai pidana yang dijatuhkan terhadap terdakwa Boiman menjadi pidana penjara selama 17 tahun dan pidana denda Rp 1 miliar dengan ketentuan apabila pidana denda tersebut tidak dibayar, maka diganti dengan pidana penjara selama 3 bulan". Demikian isi amar putusan kasasi yang tertuang di dalam pemberitahuan putusan yang diterbitkan PN Medan dan ditandatangani Elisa Bernandus Sihotang SH selaku Jurusita Pengganti PN Medan.

Penasihat hukum terdakwa Boiman, Tita Rosmawati membenarkan putusan MA terhadap kliennya. "Benar. Kami menerima salinan putusan pada, Kamis 22 April 2021 lalu, bahwa klien kami Boiman divonis 17 tahun penjara denda Rp1 miliar subsider 3 bulan penjara oleh MA," kata Tita Rosmawati SH, Selasa (27/4).

Selain Boiman, kata Tita, pihaknya juga telah mengajukan kasasi untuk tiga terdakwa lainnya yakni Sunarto alias Narto bin M. Suniyo, Suhairi alias Heri Bin Manjo dan Marsimin alias Min bin Mat Suwardi. Sementara terdakwa Iskandar alias Is bin Hamid mengajukan kasasi melalui penasihat hukumnya.

"Namun, klien kami atas nama Suhairi dan Marsimin tetap dijatuhi hukuman mati oleh MA. Sementara untuk terdakwa Sunarto, kami belum menerima putusan dari MA," sebut Tita Rosmawati.

Atas putusan tersebut, Kepala Seksi Intelijen Kejari Medan Bondan Subrata mengatakan, pihaknya sedang menunggu petunjuk pimpinan. "Saat ini kita sedang menunggu petunjuk pimpinan. Kalau upaya hukum kasasi ini kan sudah upaya hukum tertinggi. Jadi kalau kita diperintahkan untuk eksekusi, kita akan eksekusi segera. Namun saat ini kita sedang menunggu petunjuk pimpinan," ucap Bondan via telepon seluler, Rabu (28/4).

Menyikapi itu, Ketua Gerakan Nasional Anti Narkoba (Granat) Sumut Sastra SH MKn mengatakan, putusan tersebut menjadi preseden buruk dalam penanganan dan pemberantasan narkotika di Indonesia. Terlebih dalam dunia peradilan. "Bayangkan saja daya rusaknya narkoba sebanyak 56 kg ini kepada masyarakat. Berapa ribu jiwa yang menjadi korban akibat penyalahgunaan narkoba itu. Saya merasa kecewa dengan putusan kasasi itu. MA harusnya berpihak kepada bangsa dan negara dalam pemberantasan peredaran narkoba di negeri ini," ucapnya.

Meskipun Boiman disebut-sebut hanya berperan sebagai pengantar narkoba itu, namun Sastra menilai, terdakwa Boiman adalah bagian dari jaringan tersebut. "Seharusnya MA mempertimbangkan daya rusaknya diakibatkan dari narkoba itu. Makanya saya katakan ini adalah preseden buruk dalam penegakan hukum pemberantasan narkoba yang sedang giat-giatnya dilakukan pemerintah," tegasnya.

Seperti diketahui, Boiman dan keempat terdakwa lainnya yakni Iskandar alias Is bin Hamid, Sunarto alias Narto bin M Suniyo, Suhairi alias Heri Bin Manjo dan Marsimin alias Min bin Mat Suwardi masing-masing dijatuhi hukuman mati oleh majelis hakim PN Medan pada 2020 silam. Lalu, para terdakwa mengajukan banding ke PT Medan. Putusan PT Medan menguatkan putusan PN Medan yang tetap menyatakan para terdakwa tetap dihukum mati.

Mereka terbukti bersalah melakukan perbuatan yang diatur dan diancam dengan pasal 114 ayat (2) jo pasal 132 ayat (1) Undang-undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Yakni terbukti telah melakukan permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, menyerahkan, atau menerima Narkotika Golongan-I dalam bentuk bukan tanaman yang beratnya lebih dari 5 gram.

Lalu para terdakwa tetap mengajukan kasasi ke MA. Terhadap Boiman, penasehat hukumnya menilai hukuman terhadap Boiman itu sangatlah tinggi. Salah satu alasannya, Boiman hanya disuruh membawa sabu, bukan sebagai bandar atau pemilik sabu. (A17/a)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com