MUI soal Wasiat Bomber di Makassar: Bunuh Diri Tercela dalam Agama

* PBNU: Jihad Dimaknai Melawan Kelompok yang Berbeda, Itu Jahat

134 view
mui.or.id
Foto: Anwar Abbas
Jakarta (SIB)
Pelaku bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar, Lukman (26), meninggalkan surat wasiat kepada pihak keluarganya. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai tindakan meledakkan bom tak dibenarkan.

"Tindakan membunuh dirinya atau meledakkan bom itu nggak benar," kata Waketum MUI, Anwar Abbas saat dihubungi, Selasa (30/3).

Dalam surat wasiat yang beredar, Lukman secara khusus meminta maaf kepada ibunya. Dia mengatakan telah memilih menjadi bomber. Selain itu, Lukman berpesan kepada sang ibu untuk menghindari riba. Selanjutnya Lukman mengaku menitipkan sejumlah uang buat sang ibu.

Lukman juga berpesan kepada sejumlah saudara kandungnya agar memaafkan kesalahannya. Dia juga meminta ke saudara kandungnya untuk menjaga sang ibu.

Anwar Abbas menilai wasiat Lukman layaknya cerita Robin Hood di Inggris. Pesan yang ditinggalkan Lukman tak jadi soal, namun tindakan Lukman bunuh diri di depan Katedral Makassar yang tidak dibenarkan.

"Kalau isi wasiatnya saya rasa ya sangat luhur, sangat mulia. Sama saja begini, di Inggris ada Robin Hood, tindakan dia membantu orang miskin benar, tapi cara yang ditempuh salah, ini juga kayak gitu," ujar Anwar Abbas.

"Tindakan bunuh diri itu tercela dalam agama, paradoks kan jadinya, bertentangan. Kayak Robin Hood," imbuhnya.

Sebuah foto surat wasiat yang disebut milik Lukman (26), pelaku bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar, sebelumnya beredar di media sosial (medsos). Surat wasiat yang beredar itu dibenarkan polisi sebagai milik pelaku.

"Iya (surat wasiat beredar di media sosial benar milik Lukman)," singkat Kabid Humas Polda Sulsel Kombes E Zulpan saat dimintai konfirmasi.

Menurut Zulpan, surat wasiat tersebut diamankan polisi saat penggerebekan di rumah kontrakan Lukman dan rumah ibu Lukman di Jalan Tinumbu Lorong 132, Kelurahan Bunga Ejaya, Kecamatan Bontoala, Makassar, Senin (29/3).

"(Surat wasiat tersebut diamankan) sama Densus," kata Zulpan.

Jahat
Sementara itu, Ketua PBNU Robikin Emhas menilai ada salah kaprah soal pemaknaan jihad di kalangan teroris.

"Pasti (ada salah kaprah), karena jihad itu tidak selalu identik dengan perang, dengan pedang, dengan senjata, dengan darah. Kalau di zaman peperangan, maka jihad seperti itu, tapi ini adalah di wilayah negara yang damai, Negara Kesatuan Republik Indonesia," kata Robikin saat dihubungi.

Menurut Robikin, jihad di Tanah Air harus dimaknai sebagai melawan kebodohan hingga menyejahterakan masyarakat kelas bawah. Dalam arti lain, jihad dimaknai sebagai membangun peradaban yang luhur.

"Dalam kawasan yang damai, maka tidak bisa jihad dimaknai seperti itu, jihad di dalam kawasan damai di bumi Nusantara ini adalah melawan kebodohan, bagaimana mencerdaskan kehidupan bangsa, memperjuangkan agar fakir miskin, anak-anak telantar segera menikmati kehidupan ekonomi yang jauh lebih baik. sehingga masyarakat bangsa jadi sejahtera. Jihad di dalam konsep negara bangsa membangun peradaban yang luhur," ujarnya.

Lebih lanjut, Robikin menjelaskan jika jihad dimaknai melawan kelompok yang berbeda baik dalam konteks sesama penganut agama, perbedaan etnis hingga golongan. Pemaknaan ini justru keliru, maka Robikin menilai bukan jihad namun jahat.

"Nah kalau jihad dimaknai sebagai melawan siapa pun kelompok yang berbeda dengan kelompoknya, baik sesama agama mau pun di luar agama, atau perbedaan etnis, warna kulit, golongan, itu bukan jihad namanya, itu jahat," ucapnya.

Lalu, bagaimana menghindari salah kaprah soal pemaknaan jihad ini? Robikin mengatakan bahwa unsur utama yang harus dipahami adalah nilai kemajemukan atau keberagaman.

"Kelompok-kelompok radikal ekstremis itu hampir ada di segmen kehidupan, baik berbasis agama mau pun berbasis etnik. Pertama-tama yang harus disadari adalah keragaman, pluralisme, kemajemukan ini adalah kehendak Tuhan, sunatullah, sudah given dari sononya, melawan keragaman berarti melawan sunatullah, itu pertama-tama yang harus diterima," sebut Robikin.

Pemaknaan jihad ini menurut Robikin dalam tataran sosial. Sementara jihad secara pribadi yang utama yakni melawan hawa nafsu.

"Yang kedua, keragaman itu harus dirangkai menjadi suatu kekuatan dengan cara bekerja sama untuk membangun itu tadi, kemajuan teknologi dan ekonomi bersama. Yang ketiga poin saya, setiap agama selalu memiliki 3 dimensi sekaligus, dimensi teologis, dimensi ritual, dan yang ketiga dimensi tasawuf atau akhlak atau budaya. Tiga dimensi itu harus ada satu tarikan ketika manusia berpikir, bertindak, bersikap, bertutur kata," imbuhnya. (detikcom/f)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib.com edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com