Harry Marbun Prihatin atas Rusaknya Tanaman Bawang di Food Estate Humbahas

Manajemen Perlu Edukasi Petani dan Adaptasi Cuaca, Bawang Putih Hidup Subur di Daerah Suhu Rendah


419 view
Foto Dok
Ir Harry Marbun
Medan (SIB)
Putra daerah Humbang Hasundutan (Humbahas), Ir Harry Marbun, selaku pemerhati pertanian dan pembangunan daerah dari kalangan praktisi bisnis infrastruktur di Medan mengaku kaget dan prihatin atas rusaknya tanaman bawang yang baru ditanam di area kawasan pertanian terpadu (food estate-FE) di Desa Siria-ria Kecamatan Pollung Kabupaten Humbang Hasundutan. (SIB 13/2).

"Saya dengar dan baca di koran, rusaknya tanaman bawang di area FE Humbahas itu dikarenakan kekeringan daun sehingga (tubuh bawang) mengecil dan pertumbuhannya jadi lambat. Lalu, ada kesan pengelolaan lahan yang dipaksakan oleh pihak pengelola (manajemen) FE itu, sehingga komoditi bawang ini terancam gagal panen. Terlepas dari pihak siapa yang salah, ini perlu ditelusuri secara komprehensif. Pihak manajemen FE perlu melakukan pendampingan aktif dan edukasi petani dalam hal penyesuaian masa tanam dengan musim cuaca. Ingat, tanaman bawang putih itu tumbuh dan subur hanya di daerah ber-suhu dingin, antara 14 derajat hingga 16 derajat celsius. Kalau suhunya bisa lebih rendah ke kisaran 12 derajat hingga 14 derajat, hasilnya akan lebih baik dan berkualitas tinggi. Kalau pada suhu di atas itu ya hasilnya standar minimal saja, walaupun selama ini dibilang para pejabat bagus-bagus dan berkualitas tinggi," katanya kepada SIB melalui hubungan seluler, Sabtu (13/2).

Soalnya, ujar Dirut PT Karya Multi Perkasa Medan itu, sejak awal pencanangan Food Estate oleh Presiden Jokowi bersama Menko Marves Luhut Binsar Panjaitan (LBP) dan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (27 Oktober 2020), pihaknya belum mendengar adanya program adaptasi cuaca oleh pihak manajemen atau mitra kerjanya dari kalangan konsultan pertanian, khususnya untuk tanaman bawang putih yang ideal produktif di daerah Humbahas tersebut.

Sembari menyebutkan beberapa referensi data, daerah Humbahas dengan posisi alam topografi atau ketinggian 330 meter hingga 2.075 meter di atas permukaan laut (dpl), dengan kisaran suhu udara 17 derajat hingga 27 derajat celsius, dan rata-rata kelembaban udara 85,94 persen. Sementara, posisi ideal untuk tanaman bawang (merah atau putih) adalah areal dengan ketinggian 700 meter hingga 1.000 meter dpl. Humbahas hanya 330 meter dpl walau maksimal ketinggiannya melebihi 1.000 meter dpl.

Selain itu, daerah Humbahas dengan luas wilayah 2.335,33 kilometer persegi, ternyata tidak sepenuhnya berhawa dingin, karena wilayah barat kabupaten terbilang lebih panas hingga 27 derajat celsius. Suhu dingin terdapat di wilayah timur yang berupa dataran tinggi dengan suhu 23 derajat pada siang hari, dan 17 derajat celsius di malam hari.

"Selama ini, kalangan pakar agribisnis dari pihak swasta maupun pemerintah (Kementerian eks Departemen Pertanian) menyebutkan suhu maksimal 20 derajat hingga 21 derajat itu hanya baik untuk proses penyimpanan bawang yang akan dijadikan benih atau bibit. Kalau untuk menanam, sebisanya harus di bawah suhu 16 derajat. Alam kawasan tanaman bawang ini harus benar-benar asri dan rimbun pada posisi dataran tinggi, karena tumbuhan pepohonan vegetasi sekitar akan sekaligus jadi 'pagaran kebun' yang mendorong dan menjaga stabilitas kelembaban udara pada kisaran suhu idealnya. Kalau tidak, tanaman bawang itu memang akan terancam cepat layu dengan daun yang mengering dan buah umbil yang menciut. Soalnya, bawang ini ditanam pada areal hamparan luas dengan bedengan-bedengan panjang yang rawan terpaan sinar matahari," papar Marbun serius.

Untuk itu, Harry Marbun berharap manajemen FE bisa melakukan adaptasi cuaca seperti yang dilakukan Perum Jasa Tirta (BUMN) yang bekerja sama dengan BPPT untuk teknologi modifikasi cuaca di daerah tangkapan air (DTA) kawasan Danau Toba, pada 19 Mei 2017 lalu. Selain untuk menjamin kelembaban udara dan suhu ideal untuk musim tanam bawang, juga sebagai edukasi publik di kalangan petani untuk mengatur pola tanam secara berkelanjutan.

Soalnya, selama ini Humbahas hanya menghasilkan 15.000-an ton bawang putih per hektare setiap tahunnya dari sejumlah desa: Parsingguran, Desa Aaeklung Kecamatan Doloksanggul, Desa Parulahon dan Hutasoit Kecamatan Lintongnihuta. Indonesia secara nasional pun memproduksi 89.000 ton bawang putih (Kemtan 2020), sementara kebutuhan mencapai 500.000 ton per tahun sehingga masih terus impor dari India, Mesir dan Taiwan. (M04/c)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com