Megawati Ancam Pecat Kader PDIP Bermanuver dan Main Dua Kaki

* Kalau Masih Ngomong Koalisi, Out !

571 view
Megawati Ancam Pecat Kader PDIP Bermanuver dan Main Dua Kaki
Foto: Antara/HO-PDIP
TANDATANGANI: Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri saat menandatangani dokumen penerimaan dana bantuan dari pemerintah, di sela-sela Rakernas PDIP, di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Selasa (21/6). 

Jakarta (SIB)

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri mengancam akan memecat kadernya yang bermanuver politik untuk 2024.


Megawati juga meminta kadernya patuh karena keputusan terkait pencapresan ada di tangannya.


Hal itu disampaikan Megawati dalam acara Rapat Kerja Nasional (rakernas) II PDIP di Sekolah Partai PDIP, Jalan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Selasa (21/6). Megawati hadir secara langsung dan membuka acara.


"Kalian siapa yang berbuat manuver-manuver keluar. Karena apa, tidak ada di dalam PDI Perjuangan itu yang namanya main dua kaki, main tiga kaki, melakukan manuver," kata Megawati


Megawati mengungkit hak prerogatif yang diberikan kader untuk ketua umum. Untuk itu, dia menegaskan dirinya memiliki hak untuk menentukan capres yang akan diusung PDIP.


"Kenapa? Karena saya diberi oleh kalian sebuah hak yang namanya hak prerogatif, hanya ketua umum yang menentukan siapa yang akan menjadi calon presiden dari PDI Perjuangan," ujar Mega yang disambut tepuk tangan kader.


Megawati lantas mengancam kader untuk keluar jika terlibat manuver. Jika tidak keluar, Megawati mengancam akan memecat kader tersebut.


"Ingat, lo! Lebih baik keluar deh. Lebih baik keluar deh, daripada saya pecati, lo, kamu, saya pecati, lo," katanya.


"Biar saja, ini dikasih Hasto ini terbuka. Biar, saya pikir, biar semua orang biar tahu. Inilah organisasi dari sebuah partai yang namanya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, yang mengikuti aturan partainya dan solid bersama dengan rakyat," kata Megawati.


Megawati menyebut hanya dirinya yang menentukan siapa calon presiden (capres) PDIP.


Megawati mulanya cerita soal demokrasi terpimpin saat makan bersama dengan sejumlah ketum partai, salah satunya Ketum PAN Zulkifli Hasan. Menurut Megawati, Indonesia punya kearifan lokal, seperti ninik mamak di Sumatera Barat, di mana ada yang sesepuh terpandang.


"Jadi maksud saya, mengapa PDIP dari sisi administrasi, (sertifikasi) ISO kita sudah tiga kali loh, kalau kalian mulai alpa bahwa saya bilang instruksi jalankan, jalankan, laporkan, laporkan, itu sudah mulai dilupakan, absensi, absensi, itu ya maaf masuk kondite. Nah begitu," kata Megawati saat memberikan pidato Rakernas PDIP di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Selasa (21/6).


Megawati kemudian menyindir balik pihak yang menyudutkan PDIP soal tak mencalonkan capres lebih dahulu. Menurut Megawati, jika ada kader yang manuver seperti itu, lebih baik keluar.


"Kalau saya dalam keputusan kongres partai, makanya banyak yang selalu mau memutarbalikkan, mau menggoreng-goreng, kenapa PDI diam saja tidak pernah mau mencalonkan seseorang? Bla bla bla, kalian siapa yang berbuat manuver, keluar," ujarnya.


Koalisi

Selain ancaman memecat kader yang bermanuver demi 2024, Megawati meminta kader yang masih membicarakan koalisi keluar dari partai.


Megawati mulanya berbicara soal visi misi presiden hingga kepala desa. Megawati menilai seharusnya visi misi tersebut tidak berbeda-beda di setiap tingkatan pemimpin.


"Jadi kan saya mengintrodusir dengan perkataan begini. Kalau presiden itu, dari presiden, kan boleh dong, saya sekarang sudah diakui adalah golongan yang namanya akademisi dengan 2 profesor. Jadi kata-kata saya ini bukan kata-kata gawean, dapat dipertanggungjawabkan. Presiden setelah reformasi itu dari presiden sampai kepala desa disuruh bikin visi misi. Saya mikir tak liatin kok beda-beda yo," kata Megawati.


"Padahal mestinya kan seorang presiden yang memberikan visi misi kepada siapa, seluruh bangsa Indonesia. Kalau kayak kapal menuju ke sana. Nakhodanya nggak ada macam-macam, only one. Karena kita adalah sistem presidensial bukan sistem parlementer. Itu saya tegaskan," ujar Megawati.


Megawati kemudian menyinggung soal koalisi. Megawati menegaskan tidak ada koalisi di Indonesia, yang benar adalah kerja sama. Bagi kader PDIP yang terus membicarakan koalisi, Megawati meminta mereka keluar partai.


"Kan saya suka bingung Pak Presiden. Kok bilang koalisi-koalisi, tidak ada. Kalau kerja sama, yes. Kan saya ngikuti terus yang namanya pemilihan prime minister. Kenapa beda, kita nggak punya prime minister. Ini tata kenegaraan kita, ini tata kenegaraan kita, ini tata kenegaraan kita, tahu nggak! Kalau masih ada yang ngomong di PDIP urusan koalisi koalisi, out! Berarti ndak ngerti sistem ketatanegaraan kita," kata Megawati.


Sebagai orang yang berpolitik, kader PDIP diminta mengerti urusan tata kenegaraan. Megawati juga menyinggung soal oposisi.


"Mbok ngerti yo orang partai bahwa nggak ada koalisi yang ada kerja sama. Kalau yang sudah menang majority ada dari oposisi kan gitu. Itu mesti pake itungane, suarane piro kursine piro, maunya dadi opo. Di kita kan nggak. Ini kritik membangun lo," kata Megawati.


Jengkel

Megawati Soekarnoputri juga mengungkit lagi isu hubungannya dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) disebut retak.


Megawati menegaskan isu itu tidak benar karena dia tidak pernah ngamuk kepada Jokowi.


"Lalu kok gimana, diomongi saya sama Pak Jokowi sudah retak, opo, lo ngamuk aja nggak pernah lo sama Pak Jokowi," kata Megawati.


Megawati mengaku jengkel terhadap isu hubungannya dengan Presiden Jokowi retak. Megawati mengaku selama ini diam.

"Bagaimana ya, saya lama-lama kok jengkel juga ya. Piye to, orang saya kan diem aja gini, heh, minta ampun. Betul, lo," kata Megawati.


Cerita Teriakan Merdeka

Dalam Rakernas II PDIP, Megawati berbicara soal kebiasaannya meneriakkan kata 'merdeka'. Bagi Megawati, teriakan 'merdeka' untuk mengingatkan bahwa bangsa Indonesia sudah merdeka tapi tak melupakan kemerdekaan itu.


"Jadi saya bilang itu maunya saya tapi untuk mengingatkan meskipun kita telah merdeka bukan berarti kita harus lupa kita orang merdeka dan bebas berdaulat, sehingga ketika di sana saya sudah tahu tidak seperti kalau anak-anak saya," ujarnya.


Saat bersama KSAL Laksamana Yudo Margono, Megawati meminta prajurit TNI AL mengikuti teriakan merdeka. Megawati ingin tentara juga berteriak merdeka, akhirnya para prajurit TNI AL ikut berteriak merdeka.


Seorang tentara di Indonesia, menurut Megawati, tentu tak menjadi tentara jika bangsa Indonesia belum merdeka. Oleh sebab itu, Megawati mengingatkan agar tak heran jika dia kerap berteriak 'merdeka'.


"Setelah saya ucapkan terima kasih lalu assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh begitu saya angkat tangan semua langsung 'merdeka, merdeka, merdeka, merdeka'. Jadi saya bilang, kalian itu biar tentara nggak mungkin jadi tentara kalau kita tidak merdeka. Jadi jangan lupa. Kalau ketemu saya tolong pasti saya akan mengatakan 'merdeka'," imbuhnya.


Terima Dana Parpol

Di acara Rakernas itu, PDIP menerima dana partai politik dari pemerintah senilai Rp 27 miliar. Bantuan itu diserahkan secara simbolis oleh Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri Bahtiar dan diterima Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.


Bendaraha Umum PDIP Olly Dondokambey juga terlihat mendampingi Megawati. Peserta Rakernas kemudian bertepuk tangan saat momen penyerahan dana parpol tersebut. (detikcom/a)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: KORAN SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com