Penguatan Karakter

Megawati Menilai Nilai Pancasila di Masyarakat Menurun

* Survei SMRC: Hanya 64,6 Persen Publik yang Hafal Pancasila

553 view
Megawati Menilai Nilai Pancasila di Masyarakat Menurun
(ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. 

Jakarta (SIB)

Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Megawati Soekarnoputri, menilai nilai-nilai pancasila semakin menurun di masyarakat.


Menurutnya, menuju kemerdekaan Indonesia ke-77 tahun, perjuangan serta semangat berbangsa dan bernegara justru tidak lagi terasa.


"Perjuangan dan semangat kita kok kelihatannya menurun, sepertinya kita tidak merasakan sebuah getaran yang mengikat kita sebagai warga bangsa," ujar Megawati, secara daring dalam Seminar Nasional Forum Rektor Penguat Karakter Bangsa (FRPKB), Rabu (1/6).


Presiden RI Kelima itu menyatakan, kondisi tersebut membuat dia meminta Presiden Joko Widodo pada tahun 2016 untuk menerbitkan keputusan presiden untuk memperingati Hari Lahir Pancasila setiap 1 Juni.


Peringatan tersebut sesuai dengan tanggal pidato Presiden Soekarno berpidato di Sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yakni 1 Juni 1945.


"Dengan peringatan Hari Lahir Pancasila itu, bangsa Indonesia bisa terus belajar dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari sebagai dasar negara," jelasnya.


PERLU DIAJARI

Lebih lanjut, Megawati menilai, masyarakat harus diajari lagi mengingat adanya reduksi dan degradasi rasa kebangsaan akibat peristiwa tahun 65. Kondisi tersebut membuat Pancasila dikaburkan sehingga masyarakat takut membicarakan Pancasila.


Dia meminta rektor di seluruh perguruan tinggi di Indonesia menerapkan pendidikan Pancasila dalam kurikulum belajarnya.


Menurutnya, setiap pelajar atau mahasiswa generasi muda harus memahami Pancasila sebagai dasar negara mereka di tengah gempuran perkembangan global. "Jangan sampai terseret arus dunia lho karena melupakan Pancasila," tandasnya.


Sementara itu, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim, mengatakan, Generasi muda punya cara berbeda dalam memaknai semangat nasionalisme dan kebangsaan.


Pihaknya telah mendorong pendidikan pancasila yang lebih membumi dan relevan dengan generasi muda saat ini melalui implementasi Kurikulum Merdeka.


"Kurikulum Merdeka mendorong pembelajaran yang lebih sederhana dan mendalam, lebih merdeka serta lebih relevan dan interaktif untuk meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi serta menguatkan karakter peserta didik," katanya.


Dia menyebut, kebijakan Merdeka Belajar sejalan dengan visi Presiden Joko Widodo yakni mengedepankan pendidikan karakter murid secara utuh dengan berlandaskan nilai-nilai pancasila.


Hanya 64,6%

Sementara itu, hasil terbaru survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan bahwa hanya 64,6% publik yang mengetahui semua sila Pancasila.


Survei ini dilakukan pada 10-17 Mei 2022 terhadap seluruh warga negara Indonesia yang yang punya hak pilih dalam pemilihan umum, yakni mereka yang sudah berusia 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan.


"Survei ini menunjukkan sebanyak 64,6% warga yang bisa menyebutkan dengan benar semua sila dalam Pancasila. Ada 10,2% yang benar menyebutkan empat sila, 5,1% tiga sila, 3,9% dua dan satu sila, dan masih ada 12,3% publik yang tidak bisa menyebutkan dengan benar satu pun sila," ujar pendiri SMRC Saiful Mujani dalam keterangannya, Kamis (2/6).


Secara keseluruhan, kata Saiful, ada 95,4% warga yang menyatakan tahu Pancasila. Namun, tutur dia, ketika diminta menyebutkan redaksi sila-sila Pancasila, yang bisa menyebut dengan benar antara 72,5%-86,2%.


Yang paling banyak disebut dengan benar adalah sila pertama, 'Ketuhanan Yang Maha Esa' (86,2%), selanjutnya sila Ketiga, 'Persatuan Indonesia' (78,3%), sila kedua, 'Kemanusiaan yang Adil dan Beradab' (77,8%), sila kelima, 'Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia' (76,1%).


"Yang terakhir sila keempat 'Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan' sebanyak 72,5%,"ungkap dia.


Saiful menjelaskan bahwa angka 50% atau lebih rendah masuk kategori rendah, 51-75% sedang, 76-90% tinggi, dan di atas 90% sangat tinggi. "Maka pengetahuan dasar publik tentang Pancasila (64,6%) hanya sedang," papar Saiful.


Dalam survei ini, terdapat 1.220 responden yang dipilih secara random atau stratified multistage random sampling.


Response rate (responden yang dapat diwawancarai secara valid) sebesar 1.060 atau 87% dan mereka dilakukan yang dianalisis. Margin of error survei dengan ukuran sampel tersebut diperkirakan sebesar ± 3,07% pada tingkat kepercayaan 95%.


Responden terpilih diwawancarai lewat tatap muka oleh pewawancara yang telah dilatih. Quality control terhadap hasil wawancara dilakukan secara random sebesar 20% dari total sampel oleh supervisor dengan kembali mendatangi responden terpilih (spot check). Dalam quality control tidak ditemukan kesalahan berarti. (KJ/SP/d)


Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com