Isoman Pasca Lebaran

MenPAN-RB Setuju WFH

Menhub Khawatir, 60 Persen Pemudik dari Sumatera Belum Balik ke Jawa

225 view
MenPAN-RB Setuju WFH
Foto Ant/Ardiansyah
ARUS BALIK: Kendaraan pemudik pada arus balik antre untuk naik ke KMP Virgo 18 di Dermaga 3, Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan, Jumat (6/5). Pada H+3 Lebaran, sebanyak 111.214 orang penumpang, 24.720 kendaran roda empat dan 8.136 sepeda motor menggunakan jasa angkutan kapal laut menyeberang ke Pulau Jawa. Sebelumnya pada arus mudik, Jumat (29/4) lalu, ribuan kendaraan mengantre untuk naik ke atas kapal di Pelabuhan Merak, Banten, terjebak kemacetan hingga Cilegon Barat atau sekitar 10 km baik di jalur tol maupun jalur jalan arteri.

Jakarta (SIB)

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB) Tjahjo Kumolo menyetujui usul Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk menerapkan Work From Home (WFH) bagi ASN demi mengurai kemacetan arus balik Lebaran 2022. Tjahjo meminta pejabat pembina kepegawaian (PPK) mengatur jadwal WFH tersebut.


Dalam keterangan MenPAN-RB, Sabtu (7/5), disarankan kepada seluruh instansi pemerintahan mengatur jadwal WFH bagi seluruh aparatur sipil negara selama sepekan mulai Senin (9/5).


"Saya setuju dengan pendapat Kapolri agar instansi pemerintah menerapkan kebijakan WFH. Seluruh PPK (pejabat pembina kepegawaian) diharapkan mengatur pembagian jadwal agar penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan," kata Tjahjo.


Penerapan WFH tersebut, lanjutnya, tidak akan mengganggu urusan administrasi dan pelayanan pemerintahan lain, karena kini telah ada penerapan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE), yang memungkinkan ASN bekerja secara fleksibel memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).


Selain itu, tambah Tjahjo, penerapan WFH selama sepekan setelah cuti Lebaran 2022 juga dapat diterapkan sebagai upaya isolasi mandiri (isoman) bagi para ASN setelah dari kampung halaman bertemu dengan keluarga.


"WFH juga jadi kesempatan untuk isoman agar mencegah adanya pertambahan kasus Covid-19," katanya.


Jenderal Listyo Sigit Prabowo sebelumnya mengusulkan agar instansi pemerintah dan swasta menerapkan kebijakan WFH selama sepekan setelah momen cuti Lebaran 2022 berakhir.


"Kami juga mengimbau untuk mengurai arus balik, khususnya bagi instansi-instansi, baik itu swasta atau pemerintah, yang memungkinkan untuk satu pekan ini, bisa melaksanakan aktivitas dengan menggunakan media yang ada, seperti online maupun work from home," kata Listyo di Garuda Wisnu Kencana, Kabupaten Badung, Bali, Kamis (5/5).


Tunggu Surat Resmi

Sementara itu, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mengaku masih menunggu surat edaran (SE) KemenPAN-RB terkait ada-tidaknya WFH.


"Kemendagri akan menunggu SE resmi dari KemenPAN-RB sebagai dasar tindak lanjut untuk kebijakan internal Kemendagri," kata Kepala Pusat Penerangan Kemendagri Benni Irwan saat dimintai konfirmasi, Jumat (7/5).


Benni juga bicara soal kemungkinan WFH bagi ASN pemerintah daerah. Dia mengatakan surat edaran dari KemenPAN-RB itu, jika ada, nantinya juga menjadi pedoman bagi pemerintah daerah terkait kebijakan WFH.


"Kemudian untuk pemerintah, seperti yang terdahulu. Pembina kepegawaian di daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota, dapat berpedoman langsung pada SE MenPAN-RB," ucapnya.


Khawatir

Di lain pihak, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi menyebut 60 persen pemudik dari Sumatera ke Jawa belum bergerak balik. Angka pemudik yang belum kembali itu mengkhawatirkan.


"Dari data yang kami cek tadi pagi dan baru di-update sekarang, yang baru pulang itu 40 persen. Berarti ada 60 persen yang belum bergerak dari Sumatera ke Jawa dan dari Semarang ke Jakarta, hampir sama angkanya," kata Budi Karya di Pelabuhan Bakauheuni, Sabtu (7/5).


"Nah tentu 60 persen itu mengkhawatirkan," tambahnya.


Budi Karya mencontohkan soal kemacetan sepanjang 10 kilometer di Pelabuhan Merak belakangan ini. Dia memprediksi kemacetan akan lebih parah jika 60 persen pemudik itu kembali secara bersamaan.


"Katakanlah kemarin Merak dengan 37 ribu kita ada antrean sepanjang 10 km. Nah, ini kalau 45 ribu atau 50 ribu, ini akan ada antrean, tentu pelayanannya jadi tidak baik," katanya.


Dengan itu, Budi Karya menyarankan agar para pemudik dari Sumatera ke Jawa untuk menunda pulang dari kampung halamannya dalam waktu dekat. Dia menyarankan kembali pada Senin hingga Rabu pekan depan.


"Oleh karenanya, konsisten apa yang disampaikan Kapolri bahwa seyogianya kita tidak balik ke Jakarta atau Jawa itu besok. Tundalah hari Senin, tundalah hari Selasa atau Rabu. Toh, pemerintah sudah memberikan hak cuti, boleh mengajukan cuti," katanya.


"Pemerintah sudah memberikan izin kepada anak-anak kita untuk daring, jadi secara effort kolaboratif sudah kita lakukan," tambahnya.


Baru 36 Persen

Budi Karya juga menyebut baru 36 persen pemudik pengguna kendaraan pribadi yang kembali ke daerah awal keberangkatannya. Menurut Budi, 64 persen lainnya belum kembali ke Jakarta atau Surabaya.


"Sekitar 64 persen sisanya belum kembali ke Jakarta atau Surabaya," kata dia setelah meresmikan pengoperasian terminal bus di tiga daerah di Jawa Tengah serta pemberangkatan pemudik yang akan kembali ke tempat kerjanya di Semarang.


Dia mengaku khawatir akan terjadi lonjakan arus balik meski sudah diberlakukan rekayasa lalu lintas seperti sistem satu arah di jalan tol. Dia mengimbau pemudik menunda waktu kepulangan ke daerah awal keberangkatan.


Dia berharap pemudik menunda perjalanan balik sehingga bisa memperlancar arus balik Lebaran. "Dari Semarang, Solo, Senin (9/5) baru balik. Harapannya, yang pulang tidak sampai 64 persen," katanya.


Dalam kesempatan tersebut, Budi Karya juga meresmikan tiga terminal bus di Semarang, Solo, dan Purwokerto. Ketiga terminal tersebut, masing-masing Terminal Tirtonadi Solo, Terminal Mangkang Semarang, dan Terminal Bulupitu Purwokerto.


Dia menjelaskan ketiga terminal tersebut keren dan berfungsi baik. Menurut dia, salah satu penyebab keengganan masyarakat menggunakan moda transportasi bus adalah kondisi terminal yang tidak terawat dengan baik.


"Keren, bersih, dengan konsep mal," awalnya. (detikcom/d/f)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: KORAN SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com