Menag: Tidak Ada Pemberhentian Umrah

* 28 Jemaah WNI Positif Covid Usai Umrah

198 view
Menag: Tidak Ada Pemberhentian Umrah
Foto: Dok. Istimewa
Menag Yaqut Cholil Qoumas 
Jakarta (SIB)
Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas menegaskan pemberangkatan jemaah umrah asal Indonesia tidak akan dihentikan. Menag juga memastikan proses keberangkatan jemaah umrah akan tetap menerapkan skema kebijakan satu pintu atau one gate policy (OGP).

"Tidak ada pemberhentian umrah. Saya juga sudah meminta kepada Pak Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah agar keberangkatan jemaah tetap menerapkan one gate policy," kata Menag saat Rapat Kerja dengan Komisi VIII DPR RI di Senayan-Jakarta, Senin (17/1).

"One gate policy tetap diberlakukan. Jangan kemudian di masing-masing daerah bisa terbang sendiri-sendiri," imbuhnya.

Menurut Menag, keberangkatan jemaah umrah tetap berjalan. Sebab, tidak ada undang-undang yang melarang warga negara pergi ke luar negeri, termasuk untuk menjalankan ibadah umrah kalau sudah mendapatkan visa. Larangan baru berlaku kalau ada yang terkena masalah hukum.

"Jadi kalau sudah mendapat visa, dia berhak ke luar negeri. Tapi pemerintah berhak melakukan pengaturan," katanya.

"Penerapan one gate policy adalah bagian dari pengaturan yang diberlakukan pemerintah," imbuhnya.

Menag mengaku, awalnya ada usulan untuk mencabut pengaturan one gate policy. Namun, setelah proses evaluasi, apalagi ada kasus tim advance penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU) yang terkena Omicron, diputuskan kebijakan satu pintu tetap diberlakukan.

"Kita masih pakai one gate policy aja masih ada yang kena, apalagi kalau dicabut, akan sangat riskan," pesannya.

Jemaah umrah Indonesia diberangkatkan kali pertama pada 8 Januari 2022. Sampai keberangkatan pada 15 Januari 2022, total ada 1.731 jemaah umrah yang sudah berangkat ke Arab Saudi. Dari jumlah itu, ada 400 jemaah kembali ke Tanah Air, Senin (17/1).

"Kita sudah melakukan evaluasi terhadap tim advance yang pulang dari Saudi. Evaluasi akan dilakukan lebih komprehensif seiring kepulangan jemaah umrah yang pertama," tutur Menag.

Terkait kemungkinan asrama haji Pondok Gede menjadi tempat karantina kepulangan jemaah umrah, Menag mengaku masih belum mendapatkan persetujuan dari Satgas Pencegahan Penyebaran Covid-19. Meski demikian, proses komunikasi terus dilakukan.

"Pak Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah masih terus melakukan komunikasi agar asrama haji bisa diterima sebagai tempat karantina kepulangan karena biayanya juga lebih murah di banding tempat lain. Saya kira ini bisa meringankan jemaah umrah," ujarnya.

Prioritaskan
Yaqut Qoumas memastikan, pihaknya mengutamakan keberangkatan jemaah haji yang tertunda lantaran munculnya Covid-19 pada 2020.

"Jemaah haji yang diberangkatkan pada 1443H/2022M adalah jemaah haji yang berhak berangkat pada tahun 1441H/2020M," kata Yaqut dalam rapat kerja itu.

Namun, Yaqut mengatakan, Kemenag belum mendapat kepastian haji dari Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi hingga saat ini. Meski begitu, dia mengaku pihaknya telah melakukan sejumlah persiapan penyelenggaraan haji 1443 H/2022 M.

"Persiapan haji bisa kami jelaskan, kepastian ada atau tidaknya haji 1443H/2022M kewenangan Saudi, namun kami terus koordinasi. Hasilnya, kepastian belum dapat diperoleh sebagaimana disampaikan raker (rapat kerja) sebelumnya," lanjut dia.

Yaqut menyebut, ketidakpastian penyelenggaraan haji tak hanya berlaku di Indonesia, tapi juga di negara lain. "Belum ada pembicaraan bukan hanya ke Indonesia, tapi negara-negara lain yang menyelenggarakan misi haji," ujar dia.

Yaqut juga menyoroti waktu persiapan yang kian singkat lantaran musim haji jatuh pada Juni nanti. Dia memastikan, pihaknya terus mematangkan persiapan pelaksanaan haji pada 1443 H/2022 M meski keberangkatan jemaah haji belum pasti hingga kini.

"Ketiga, waktu tersisa sesuai kalender Hijriah, perkiraan pemberangkatan jemaah 2022 kloter pertama akan diberangkatkan 4 Zulhijah atau 5 Juni 2022. Kondisi ini menunjukkan waktu tersisa persiapan hanya berkisar 4 bulan. Melihat lingkup penyelenggaraan ibadah haji yang luas, waktu tersisa sangat terbatas sehingga berbagai persiapan harus segera kita lakukan," paparnya.

Dia menyebutkan, pihaknya menyiapkan skenario penyelenggaraan haji yang terbagi dari 3 opsi di tengah maraknya varian Omicron, yakni kuota penuh, kuota terbatas, dan tidak memberangkatkan jemaah haji sama sekali. Hingga kini, lanjutnya, Kemenag masih mengutamakan opsi keberangkatan kuota penuh.

"Terkait skenario penyelenggaraan haji, mengingat Covid-19 ditandai munculnya varian Omicron maka pemerintah mitigasi penyelenggaraan haji dengan 3 opsi. Pertama, kuota penuh, kuota terbatas, dan tidak memberangkatkan sama sekali. Pemerintah sekarang bekerja dengan skenario opsi pertama, kuota penuh," kata dia.

Positif Covid
Sementara itu, Konsul Haji dan Umrah Konsulat Jendera RI (KJRI) di Jeddah, Endang Jumali, mengatakan ada 28 jemaah WNI positif Covid-19 usai melaksanakan ibadah umrah di Arab Saudi.

Sebanyak 28 jemaah positif Covid-19 itu merupakan perwakilan pimpinan agen perjalanan. Kabar ini muncul setelah setidaknya 13 anggota Tim Advance dari PPIU terpapar Covid-19 seusai pulang dari Saudi.

"Ada Tim Advance (yang positif), dan tim kedua ada sekitar 28 orang (yang positif Covid-19). (28 orang itu) semua jemaah tapi mewakili sebagai pimpinan travel," kata Endang, Senin (17/1).

Endang menuturkan 28 jemaah umrah positif Covid-19 itu pun di luar dari tim Advance tersebut.

Kini, seluruh jemaah umrah yang telah pulang tengah dikarantina di Wisma Atlet.

"Itu kan positif (Covid-19) setelah kembali ke Indonesia, bukan pada saat di Saudi," ucapnya.

Sementara itu, Endang menuturkan masih ada sekitar 1.200 jemaah Indonesia yang tengah melakukan ibadah umrah sampai, Minggu (16/1).

"Warga Negara Indonesia yang sedang melaksanakan umrah di sini alhamdulilah, ada 1.200 orang dengan pemberangkatan empat maskapai," tuturnya.

Endang mengatakan, sebanyak 1.200 WNI ini akan dipulangkan bertahap sesuai dengan paket perjalanan 12 hari.

Selain itu, Endang menerangkan hasil tes awal dan tes kedua rata-rata jemaah WNI tersebut negatif Covid-19. Meski demikian, Endang menekankan pentingnya setiap jemaah terus menerapkan protokol kesehatan ketat mengingat kasus Covid-19 di Arab Saudi sedang tinggi.

"Kenaikan kasus Covid di Saudi ini kan signifikan, sehingga diimbau untuk jemaah juga tetap melakukan protokol kesehatan. Dan sejauh ini ya lancar," katanya. (Detikcom/CNNI/a)
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com