* Beda Keyakinan Dianggap Lawan

Menag Yaqut Cholil Qoumas: Agama Saat ini Dijadikan Norma Konflik

* PP Muhammadiyah: Berhentilah Merumitkan Urusan Agama

274 view
Menag Yaqut Cholil Qoumas: Agama Saat ini Dijadikan Norma Konflik
Foto: Antaranews
WEBINAR: Menag Yaqut Cholil Qoumas saat diskusi Webinar lintas agama dengan tema “Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa dalam Kebinekaan” yang dipantau di Jakarta, Minggu (27/12). 

Jakarta (SIB)

Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas mengajak semua umat beragama di Indonesia untuk menjadikan agama sebagai inspirasi. Untuk itu, Menag pun berharap populisme Islam tidak berkembang luas di Indonesia untuk mencegah agama dijadikan norma konflik.

“Saya tentu tidak akan menyampaikan banyak hal. Saya ingin mengulang apa yang kemarin saya katakan, atau Saya sampaikan ketika saya diberikan kesempatan pertama oleh Bapak Presiden Jokowi untuk menyampaikan pidato di depan seluruh masyarakat Indonesia, Saya mengajak kita semua menjadikan agama sebagai inspirasi, bukan sebagai aspirasi,” ungkap Gus Yaqut panggilan akrabnya dalam Silaturahmi Nasional Lintas Agama dengan tema Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa dalam Kebhinekaan secara virtual, Minggu (27/12).

Apalagi saat ini, kata Gus Yaqut, banyak yang berusaha menggiring agama menjadi norma konflik.

“Itu apa artinya? Yang paling sederhana adalah kita sekarang merasakan, belakangan lah, tahun-tahun belakangan ini kita merasakan bagaimana agama itu sudah atau ada yang berusaha menggiring agama menjadi norma konflik,” katanya.

Gus Yaqut pun menjelaskan, bagaimana agama saat ini dijadikan norma konflik. “Agama dijadikan norma konflik itu dalam bahasa yang paling ekstrim, siapapun yang berbeda dengan keyakinannya, maka dia dianggap lawan, dia dianggap musuh. Karena namanya musuh, namanya lawan harus diperangi,” tuturnya.

Agama sebagai norma konflik ini, kata Gus Yaqut, juga disebut dengan istilah sebagai populisme Islam.

“Itu norma yang kemarin sempat berkembang yang kita dengar kalau istilah kerennya Mbak Lisa (Alisa Wahid) ini populisme Islam,” katanya.

“Saya tidak ingin kita semua, tentu saja tidak ingin bahwa populisme Islam ini berkembang, berkembang luas sehingga kita kewalahan untuk menghadapinya,” tegasnya.

“Maka di pidato pertama itu, Saya sampaikan mari kita semua menjadikan agama ini sebagai inspirasi, sumber inspirasi, bukan sebagai aspirasi. Karena kalau aspirasi agama ini, dan kalau salah-salah orang bisa sangat berbahaya,” tambah Gus Yaqut.

Semua Warga Sama

Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, semua warga negara memiliki kedudukan yang sama di hadapan hukum, baik dari kalangan Ahmadiyah, Syiah, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan sebagainya.

"Oleh karena itu, negara wajib melindungi mereka sebagai warga negara," kata Yaqut.

Artinya, jika ada perbedaan pandangan atau keyakinan, tidak boleh ada alasan kelompok yang paling besar lalu kemudian melakukan persekusi, menghakimi dan sebagainya.

Hal tersebut merupakan sikap dasar yang akan dipegang erat oleh negara, kata Gus Yaqut sapaan Menag. Jika ada perbedaan pandangan, keyakinan, pendapat di tengah masyarakat terkait hal-hal keagamaan, harus diselesaikan dengan dialog.

"Saya sebagai Menteri Agama siap memfasilitasi untuk berdialog," katanya.

Ia juga meluruskan, tidak pernah mengatakan bahwa akan mengafirmasi beribadah umat Ahmadiyah dan Syiah.

"Terlepas konteksnya bahwa ini benar atau salah, saya tidak pernah mengatakan itu," ujarnya.

Oleh karena itu, lanjut dia, pandangan tersebut keliru dan perlu diluruskan kepada masyarakat karena kurang baik. Sebagai Menteri Agama, Gus Yaqut akan mendudukkan persoalan tersebut pada prinsip-prinsip dasar yang dimiliki oleh setiap warga negara.

Kesepakatan Kultur, Budaya, dan Agama

Yaqut Cholil Qoumas menegaskan bahwa Indonesia berdiri sebagai kesepakatan antar kultur, antar budaya, dan antar agama yang ada di Indonesia.

Bahkan, kata Gus Yaqut, ia selalu mengatakan hal ini ketika ia masih aktif di Gerakan Pemuda Ansor dan Banser.

“Saya sampaikan bahwa berkali-kali di banyak kesempatan dan saya kira ini masih sangat kontekstual meskipun posisinya berbeda. Dulu ketika masih aktif di gerakan Pemuda Ansor dan Banser, Saya selalu katakan bahwa tidak ada Indonesia jika tidak ada Islam, tidak ada Kristen, tidak ada Katolik, tidak ada Hindu, tidak ada Buddha, tidak ada Konghucu, dan tidak ada agama-agama lokal yang lain,” tegas Gus Yaqut.

Sehingga, tegas Gus Yaqut, jika ada yang ingin memecah belah atau menghilangkannya atas dasar agama, maka sama saja tidak mengakui Indonesia. “Indonesia itu berdiri sebagai kesepakatan antar kultur, antar budaya dan antar agama yang ada di Indonesia.”

“Jadi barang siapa ingin menghilangkan satu dengan sama yang lain atas dasar agama, maka artinya mereka tidak mengakui Indonesia. Mereka tidak memiliki rasa keIndonesiaan,” tegasnya.

Bahkan, kata Gus Yaqut, ketika ia masih menjadi Komandan Banser ia selalu mengatakan jika ada yang ingin menghilangkan hal ini maka harus dilawan. “Saya dalam bahasa yang keras ketika jadi Komandan Banser itu, saya bilang kalau ada yang begitu kita lawan. Tapi kalau Menteri Agama ngomong seperti itu nggak begitu pas. Tapi ya intinya dilawan itulah kira-kira begitu,” katanya.

Berhenti

Terpisah, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir meminta agar pemeluk dan elit agama mesti hadir sebagai teladan kehidupan. Hal itu diungkapkan Haedar dalam foto yang diunggah di akun Twitter resminya @HaedarNs berjudul Kerumitan Dunia.

”Dunia itu rumit. Berhentilah merumitkan urusan keagamaan, hukum, politik, ekonomi dan ranah dunia lainnya agar kehidupan bersama tidak semakin sarat beban. Masalah umat, bangsa dan kemanusiaan semesta makin berat karena perebutan tafsir dan segala kepentingan,” tulisnya, Sabtu (26/12).

Tidak hanya itu, Haedar juga mengimbau bagi siapapun yang tidak mampu memberikan solusi, agar tidak menambah rumit masalah.

”Jika tidak mampu memberikan solusi, maka janganlah menambah rumit negeri. Pemeluk dan elit agama mesti hadir sebagai teladan kehidupan,” tulisnya lagi.

Bahkan, Haedar juga mengutip firman Allah SWT dalam QS Al Baqarah 183 yang berbunyi: Tuhan mengajarkan umat menempuh jalan kemudahan dan menjauhi kesulitan. (Okz/Ant/f)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com