Menag soal Irjen Napoleon: Kekerasan atas Nama Agama Tidak Dibenarkan

Pemuda Muhammadiyah: Tindakan Napoleon Tak Dibenarkan dengan Alasan Apapun

216 view
Menag soal Irjen Napoleon: Kekerasan atas Nama Agama Tidak Dibenarkan
Foto Istimewa
Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas
Jakarta (SIB)
Irjen Napoleon Bonaparte diduga menganiaya Muhammad Kace, bahkan melumuri Kace dengan tinja. Napoleon melakukan perbuatan itu atas nama agama. Menteri Agama tegas menyatakan perbuatan seperti itu adalah salah.

"Prinsipnya, kekerasan atas nama apapun, apalagi atas nama agama, tidak bisa dibenarkan," kata Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, Selasa (21/9).

Napoleon adalah terdakwa kasus korupsi, sedangkan Kace adalah tersangka kasus penodaan agama. Penganiayaan terjadi di dalam rumah tahanan. Napoleon tidak terima agamanya dihina oleh Kace.

Yaqut menyatakan cara menyikapi orang yang diduga menista agama adalah dengan menyerahkannya kepada mekanisme hukum. Indonesia punya aturan perundang-undangan yang mengatur tindakan bagi orang yang menista agama.
"Kan ada hukum. Negara kita negara hukum kan?" kata Yaqut.

Menurut keterangan Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Brigjen Andi Rian Djajadi, Napoleon mengajak tiga tahanan lain ke dalam sel isolasi Kace. Napoleon memukul dan melumuri kotoran ke Kace. Tiga tahanan lain diduga tidak ikut memukul atau melumuri kotoran.

Napoleon sudah buka suara soal kasus ini lewat surat yang disampaikan oleh kuasa hukumnya, Haposan Batubara. Dia mengawali penjelasan soal dirinya yang terlahir dan dibesarkan sebagai seorang muslim.

Dia menyatakan siapa pun bisa menghina dirinya tapi tidak dengan Allah, Rasulullah, dan Al-Qur'an. Dia bersumpah akan melakukan tindakan terukur terhadap orang yang menghina Allah, Rasulullah, dan Al-Qur'an.

"Siapa pun bisa menghina saya, tapi tidak terhadap Allahku, Al-Qur'an, Rasulullah SAW, dan akidah Islamku. Karenanya, saya bersumpah akan melakukan tindakan terukur apa pun kepada siapa saja yang berani melakukannya," ujarnya.

Belakangan, pengacara Napoleon membantah kliennya melakukan perbuatan seperti itu. Pengacaranya menyebut Napoleon dianggap sebagai bapak di dalam Rutan Bareskrim.

"Pak Napoleon Bonaparte itu tidak pernah menyatakan bahwa dia melakukan penganiayaan dan melakukan pemukulan," ujar Ahmad Yani saat dihubungi.

Tak Dibenarkan
Sementara itu, Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah Sunanto menilai perbuatan Irjen Napoleon Bonaparte adalah tindakan main hakim sendiri. Tindakan tersebut tak dibenarkan dengan alasan apa pun.

"Main hakim sendiri itu tidak dibenarkan dengan alasan apa pun, karena kita hidup dalam negara hukum, ada aturan main yang mengatur kita sebagai warga negara. Apabila terdapat seorang warga negara yang diduga melakukan pelanggaran terhadap hukum, maka negara mempunyai mekanisme untuk memberikan sanksi atau hukuman atas pelanggarannya tersebut dengan tetap menghormati adanya prinsip perlindungan terhadap hak asasi manusia," kata Cak Nanto, sapaan akrab Sunanto, kepada wartawan, Selasa (21/9).

Oleh sebab itu, dia mendukung Polri agar memproses hukum Irjen Napoleon atas tindakan kekerasannya ke M Kace. Cak Nanto meminta masyarakat menahan diri dan tak mudah terprovokasi.

"Pemuda Muhammadiyah mendukung penegakan hukum terhadap dugaan aksi kekerasan yang dilakukan Irjen Napoleon juga meminta masyarakat untuk menahan diri dan tidak mudah terprovokasi dan main hakim sendiri terhadap potensi isu-isu yang berkaitan dengan agama, kita percayakan kepada pihak Kepolisian dan aparat penegak hukum lain untuk menangani berbagai potensi permasalahan tersebut dan memprosesnya sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku," ucapnya.

Ungkit Surat Terbuka
Menanggapi pengacara Irjen Napoleon Bonaparte, Ahmad Yani, membantah kliennya menganiaya Kace, Kabareskrim Polri Komjen Agus Andrianto mengungkit surat terbuka Napoleon.

"Biar saja, kan baca surat terbukanya," ujar Agus saat dimintai konfirmasi.
Dirtipidum Bareskrim Brigjen Andi Rian Djajadi enggan mengomentari klaim pengacara Irjen Napoleon. Andi mengatakan pengakuan Irjen Napoleon sebagai terlapor tidak penting.

"Keterangan calon tersangka tidak penting," kata Andi.

Andi menjelaskan keterangan saksi hingga ahli jauh lebih penting dalam kasus dugaan penganiayaan Kace. Hingga saat ini, Irjen Napoleon masih diperiksa.

"Yang penting adalah keterangan saksi, ahli, surat, dan petunjuk. Apalagi ini kasus penganiayaan," tuturnya.
"(Pemeriksaan Irjen Napoleon) belum selesai. Masih berlangsung," imbuh Andi. (detikcom/a)


Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com