Menaker Optimistis RI Bisa Raih Bonus Demografi dan Jadi Negara Maju


133 view
Menaker Optimistis RI Bisa Raih Bonus Demografi dan Jadi Negara Maju
Foto Dok
Ida Fauziah
Jakarta (SIB)
Indonesia diprediksi akan mendapatkan puncak bonus demografi pada tahun 2030. Hal ini terlihat dari jumlah penduduk yang didominasi usia produktif, yaitu 14-64 tahun, atau mencapai 70 persen dari jumlah penduduk.

Melihat hal ini, Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziyah optimistis bonus demografi mampu mendorong Indonesia menjadi negara maju. Namun, untuk mencapai hal ini dibutuhkan serangkaian persyaratan, di antaranya penduduk yang masuk kategori usia produktif memiliki kedisiplinan dan etos kerja tinggi.

"Saya percaya dan yakin bonus demografi akan kita raih dan kita akan masuk menjadi negara maju di tahun 2045 kalau kita mempersiapkan dengan baik, termasuk Pesantren Bina Insan Mulia yang akan mempersiapkan Indonesia menjadi negara maju yang memiliki kedisiplinan yang tinggi dan etos kerja yang tinggi, " ujar Ida dalam keterangan tertulis, Senin (25/10).

Saat mengunjungi Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, Jawa Barat, Minggu (24/10), Ida mengatakan jumlah usia produktif di Indonesia perlu dimanfaatkan dengan baik. Dengan demikian hal ini dapat menjadi bonus demografi dan tidak menjadi bencana demografi.

"Tidak semua negara mendapatkan bonus demografi. Di antara negara-negara yang mendapatkannya, yaitu Jepang, China, dan Korea Selatan. Bonus demografi mengantarkan Jepang menjadi negara maju, mengantarkan China menjadi negara maju, Korsel maju. Dan tidak sedikit juga yang gagal memanfaatkannya seperti Afrika dan Brazil," jelasnya.

Menurut Ida, jika Indonesia berhasil meraih bonus demografi, cita-cita Indonesia menjadi negara maju pada 2045 dapat terwujud.

"Nantinya Indonesia menjadi negara maju terbesar ketiga di dunia yang pertumbuhan ekonominya tinggi, yang tidak ada orang miskin di Indonesia, yang kemiskinannya nol persen," katanya.

Ida juga optimis Pesantren Bina Insan Mulia dapat berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia sebagai negara maju. Dalam hal ini, pesantren bisa mencetak santri-santri yang memiliki kedalaman ilmu agama sekaligus menguasai teknologi digital.

"Kita tidak hanya butuh teknokrat-teknokrat, kita juga butuh konten-konten YouTube yang juga kontennya kesantrian, kita juga butuh inovator-inovator baru yang juga santri. Kita ingin mengisi Indonesia 2045 menjadi negara maju yang di situ ada kontribusi santri di dalamnya," pungkasnya. (detikcom/a)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com