Menkes Akui Testing-Tracing Belum Maksimal: Maaf, Memang Tak Sempurna


164 view
Menkes Akui Testing-Tracing Belum Maksimal: Maaf, Memang Tak Sempurna
Tim detikcom - detikNews
Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin
Jakarta (SIB)
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menjelaskan mengapa ada lonjakan kasus, sementara testing virus Corona kecil. Menkes Budi mengatakan sistem pelaporan testing dan tracing Corona tak sempurna.

"Bapak-Ibu, testing itu sama seperti kerjaan hulu, kerjaan yang sangat penting. Testing-tracing yang selama ini kita belum maksimal, saya akui ya. Saya waktu masuk testing-nya masih 30 ribuan, sampelnya mungkin 20 ribu orang, 30 ribu tes," kata Budi awal menjelaskan dalam rapat Komisi IX DPR RI yang disiarkan akun YouTube DPR RI, Selasa (13/7).

Menkes Budi kemudian membandingkan testing Corona di India , yang dapat mencapai jutaan dalam sehari. Testing di Indonesia ditargetkan mencapai 400 ribu dalam sehari.

"Sekarang sudah kita dorong sedemikian rupa, ya naik sih ke 200 ribu atau 150 ribu orang. Tapi kalau melihat positivity rate-nya seperti ini, tidak cukup naikin dari 30 ribu ke 200 ribu. Kalau saya bandingkan dengan India, yang bisa 2 juta per day, kita mungkin harus naik mungkin sampai 400 ribu. Jadi target 400 ribu waktu PPKM darurat sudah dipasang dan kita sudah bagi ke semua kota/kabupaten harus naik ke arah sini," ujarnya.

Kemudian Menkes Budi mengatakan kemungkinan akan ada lonjakan testing ke depan. Seluruh data testing, kata Menkes Budi, belum semuanya masuk dalam sehari.

"Bapak-Ibu mungkin lihat hari ini akan ada lonjakan testing, mungkin juga akan lonjakan kasus konfirmasi. Saya bisa jelaskan di sini, belum semua data itu masuk, saya terbuka bilang, kalau saya melihat, masih banyak data yang belum masuk, apakah angka kita sudah tepat seperti itu? Mungkin banyak yang belum masuk. Sekarang kita dorong supaya itu masuk," ucapnya.

Lonjakan testing dalam beberapa hari ke depan, menurut Menkes Budi, juga akan berdampak pada lonjakan kasus. Menkes mengingatkan agar tidak panik dengan kondisi tersebut.

"Mungkin Bapak-Ibu akan lihat lonjakannya, tidak usah panik, jangan terlalu panik. Mungkin ini sudah kejadian cuma sebelumnya tidak masuk, saya setuju dengan Ibu Penny, lebih baik kita lihat apa adanya saja. Toh, kita melihat apa adanya kita bisa me-respost lebih baik, identifikasi orangnya yang mana, kita lacak, kemudian kita masukkan," sebutnya.

Menkes Budi tak ingin menutupi soal angka lonjakan kasus Corona. Namun memang ada kelemahan dalam sistem pelaporan testing Corona yang akan disempurnakan.

"Daripada kita tutup-tutupi supaya kelihatan baik tapi nanti sebenarnya meledak, itu yang kejadian sekarang kan, tiba-tiba tidak ada kasus konfirmasi, masuk rumah sakitnya banyak. Lho orang sebelum masuk rumah sakit pasti kan terkonfirmasi dulu. Ini yang sebenarnya kita mau bereskan. Jadi Bapak-Ibu, mungkin dalam beberapa hari ini akan ada lonjakan, tapi itu bukan baru, tapi memang sebelumnya nggak terlaporkan saja, sekarang jadi masuk terlaporkan," ucapnya.

Di depan anggota Komisi IX DPR mengakui sistem pelaporan testing dan tracing Corona tak sempurna. Menkes Budi meminta maaf atas ketidaksempurnaan sistem testing dan tracing.

"Kelemahan di sistem testing-tracing kita yang harus kita sempurnakan. Nah ini yang terjadi di seluruh dunia, itu pelaporannya nggak selalu hari itu, ada yang kejadiannya hari itu, dites dua hari, dilaporkannya empat hari kemudian. Jadi kalau ada lonjakan-lonjakan pertanyaan, oh ini 40 ribu pada tesnya lebih kecil, Bapak-Ibu mohon maaf, memang tidak sempurna, itu bukan hanya di Indonesia, di seluruh dunia," sebut Menkes Budi.

"Kalau kita lihat WHO standarnya itu 7 hari, jadi laporan itu rata-rata 7 hari, jadi hari ke-7 misalnya angka dilihat rata 1-7. Hari ke-8 dilihat rata-rata hari 2 sampai 8. Hari ke-9 begitu rolling sehingga dengan demikian adanya anomali dengan testing dan tracing bisa kita luruskan," imbuhnya. (detikcom/c)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com